Tips Menang Samber THR Kompasiana

“Mas, seperti apa tips menang Samber THR Kompasiana?”

Pertanyaan teman saya, Kompasianer Syarifani langsung meluncur usai mengucapkan selamat ketika tahu saya berhasil menggondol motor matic sebagai hadiah utama Samber THR Kompasiana.

Ok, sebelum saya membuka tips dan rahasianya, ijinkan saya kembali mengucapkan Alhamdulillah dan puji syukur sebesar-besarnya ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki. Tak lupa saya sampaikan rasa terima kasih buat Kompasiana dan BCA yang sudah menyelenggarakan Blog Competition khusus Tebar Hikmah Ramadan 2019.

Samber THR Kompasiana adalah blog competition yang luar biasa istimewa tantangannya. Jika diibaratkan, ini adalah event decathlon, bukan sekedar lari marathon saja. Selain harus konsisten menulis selama 33 hari tanpa boleh berhenti, setiap peserta juga harus menulis tema yang berbeda setiap harinya.

Hanya peserta yang memiliki ketahanan fisik, ketahanan mental dan juga kreativitas ide yang luar biasa saja yang bisa bertahan sampai akhir kompetisi. Mungkin dari ratusan blogger di Kompasiana yang ikut, hanya tersisa puluhan Kompasianer yang bisa bertahan menulis sampai batas terakhir.

Tantangan terberat selama periode lomba

Di minggu pertama kompetisi, menulis satu artikel setiap hari dengan tema yang berlainan bisa dilakukan dengan lancar. Banyak waktu luang di sela-sela menjalankan ibadah puasa sehingga saya bisa memikirkan dengan baik ide-ide tulisan sesuai tema yang diajukan.

Menginjak minggu-minggu berikutnya, saya mulai sedikit kedodoran. Ada waktu di mana saya benar-benar kehabisan ide, terkena writing block sehingga saya sampai menerbitkan tulisan menjelang pergantian hari untuk mengejar deadline.

Apalagi ketika kompetisi mulai memasuki garis finish. Di saat itu, mungkin banyak Kompasianer yang sudah mulai berguguran. Minggu terakhir yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri benar-benar menjadi ujian konsistensi menulis yang sangat berat.

Tahu sendiri kan, menjelang Hari Raya kita disibukan dengan beragam aktivitas yang menyita waktu. Ada yang sibuk mudik, ada yang sibuk menyiapkan berbagai keperluan hari raya mereka, sibuk bersilaturahim dan aktivitas pribadi lainnya. Kesibukan semacam ini membuat otak kadang tidak bisa diajak berkompromi untuk menulis. Tangan terasa berat untuk berpijak dan mengetikkan kata demi kata di papan ketik laptop.

Syukurlah, saya termasuk diantara sekian peserta yang mampu menyentuh garis finish. Mampu konsisten menulis hingga hari terakhir kompetisi. Usai menyelesaikan tulisan terakhir, saya langsung menghela nafas lega. Seolah beban berat yang harus saya pikul selama 33 hari akhirnya bisa dilepaskan.

Senang dan Bangga bisa memenangkan lomba blog yang sangat ketat

Samber THR Kompasiana pun berakhir sudah. Mengingat begitu berat dan ketatnya persaingan yang ada, saya tidak terlalu yakin bisa memenangkan Samber THR. Sekalipun di sudut hati saya berharap bisa menang dan masih percaya diri dengan kemampuan dan kualitas tulisan yang saya hasilkan.

Saya, dan juga peserta kompetisi yang lain tidak tahu apa parameter penilaian dari Kompasiana dan BCA. Secara kualitas sudah tentu, tapi seperti apa kualitas tulisan yang dianggap bagus dan memiliki nilai lebih untuk bisa menang kompetisi, hal ini menjadi rahasia dapur tim juri dari Kompasiana dan BCA. Subyektif dan otomatis menjadi hak prerogatif mereka.

Karena itu, ketika membaca pengumuman Kompasiana, jujur saja saya kaget (tapi tidak sampai pingsan) dan sangat bangga dengan pencapaian yang luar biasa ini. Di luar hadiahnya, kebanggaan itu timbul karena saya berhasil memenangkan kompetisi yang diikuti ratusan penulis dan blogger yang kompetensinya berkualitas tinggi.

Menganalisis artikel selama periode blog competition

Setelah ditanya Syarifani, saya kemudian mencoba menganalisa apa yang membuat saya terpilih sebagai pemenang utama. Karena ketidaktahuan teknis penjurian, maka saya hanya bisa menebak-nebak apa yang membuat saya berhasil memenangkan lomba blog seketat Samber THR Kompasiana. Seperti inilah analisanya:

Sesuai syarat dan ketentuan, setiap Kompasianer yang ikut harus menulis minimal satu artikel setiap hari selama periode kompetisi (6 Mei-7 Juni 2019). Berarti, minimal saya harus menulis 33 artikel mulai awal bulan Ramadan hingga 2 hari setelah Hari Raya Idulfitri. Semua artikel harus baru, belum pernah ditayangkan sebelumnya, dan khususnya lagi, harus sesuai dengan tema harian yang sudah ditetapkan.

Secara kualitas, semua artikel yang saya tulis biasa saja, jika itu dilihat dari faktor keterpilihan di Kompasiana. Maksudnya, dari 33 artikel bertema Samber THR edisi 2019, 28 artikel menjadi Pilihan Redaksi. Sisanya 5 artikel tidak masuk di halaman utama Kompasiana alias non Pilihan. Tidak ada satu pun artikel yang terpilih menjadi Headline.

Di satu sisi, saya mengamati beberapa Kompasianer lain yang artikel Samber THR-nya terpilih menjadi headline. Melihat kenyataan itu, sempat terbersit rasa pesimis di hati saya. Dengan tidak ada satu pun artikel yang menjadi Headline, saya menjadi ragu bisa menang Samber THR.

Menebak faktor kemenangan

Tapi, ada satu kelebihan yang menurut saya mungkin memberi nilai tambah di mata dewan juri. Selain menulis 33 artikel wajib, saya menulis beberapa artikel tambahan. Jumlahnya 16, sehingga selama 33 hari kompetisi Samber THR, saya menulis total 49 artikel! Dari 16 artikel tambahan itu, semua masuk kategori pilihan dengan 4 artikel menjadi headline.

tips menang samber thr kompasiana,samber thr,samber thr kompasiana,blog competition,lomba blog,lomba blog kompasiana,tips menang lomba blog

Apakah itu berarti kuantitas mengalahkan kualitas?

Terus terang saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Saya juga berharap bukan itu yang menjadi pertimbangan utama penilaian dewan juri kompetisi. Samber THR bukan kompetisi banyak-banyakan menulis.

Sejauh pengalaman saya menulis di Kompasiana, platform social blogging ini selalu mengedepankan kualitas tulisannya. Tanpa diiringi kualitas artikel, kesesuaian tema, dan beberapa pertimbangan lainnya, sebanyak apapun artikel yang dapat saya tulis belum tentu bisa mengantarkan saya jadi pemenang.

“Apakah view artikelnya banyak, Mas?” tanya Kompasianer Mbak Avy sewaktu bertemu di acara Danone Blogger Academy.

Tidak juga. Saya sempat mengamati semua tulisan yang ditayangkan selama periode Samber THR malah sedikit view-nya. Mungkin karena saking banyaknya artikel yang ditayangkan, pembaca menjadi bingung untuk memilih tulisan mana yang menarik untuk dibaca.

Tentu saja hal ini tergantung kreativitas penulis dalam membuat judul dan kualitas artikelnya. Sekali lagi, ini masalah “rasa dan selera’ yang sangat subyektif. Tulisan yang menjadi Pilihan dan Headline sudah tentu akan mendapat view yang banyak.

Lalu, apa tips menang Samber THR Kompasiana?

Selama 2 kali mengikuti, ada 4 tips menang Samber THR Kompasiana yang saya pikir mungkin bisa membantu.

1. Konsisten Menulis

Syarat wajib ini sudah sangat jelas. Hanya Kompasianer yang konsisten menulis satu artikel setiap hari selama periode kompetisi yang berhak masuk penjurian.

Bagaimana caranya supaya bisa konsisten menulis?

Setiap blogger atau penulis punya tips sendiri-sendiri. Tips saya sederhana saja: berlatihlah menulis apa saja setiap hari. Apapun ide yang terlintas di kepala, segeralah dituliskan.

Meskipun cuma jadi satu paragraf, atau bahkan cuma jadi judulnya saja. Bagi saya, latihan ini nantinya akan membentuk sikap dan kebiasaan sendiri.

2. Disiplin “membuat” waktu untuk menulis

Tapi kebiasaan saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan disiplin. Seringkali saya dengar beberapa teman beralasan, “Ini bukan waktu yang tepat untuk menulis”.

Saya tidak bisa seperti itu. Bagi saya, selalu ada waktu untuk menulis, kapan pun itu. Sebagaimana kita selalu punya waktu untuk mengerjakan hal-hal yang remeh. Jika kita terus beralasan belum “menemukan” waktu yang tepat untuk menulis, kita tidak pernah bisa mendisiplinkan diri.

Jadi, “buatlah” waktu sendiri untuk menulis. Jika kita hanya punya waktu 15 menit untuk menulis setiap pagi hari, jadikan itu patokan disiplin kita.

Jadikan itu seolah sebuah kewajiban, bahwa setiap pagi hari di jam tertentu kita harus menulis selama 15 menit. Jadikan batasan ini sebagai kanvas kreativitas kita. Kanvas di mana kita bisa menciptakan sebuah karya seni yang hebat, yakni tulisan kita sendiri.

3. Jangan menunggu datangnya ide, tapi jemputlah

Menulis dengan tema bebas mungkin mudah. Tapi jika kita diminta menulis tema tertentu, apalagi berlainan setiap harinya, ini adalah tantangan kreativitas yang sangat berat. Begitulah Samber THR Kompasiana menantang kreativitas kita.

Terus terang, saya belum pernah menjumpai tantangan seberat ini. Otak saya serasa dipaksa bekerja keras setiap hari untuk memikirkan tema-tema tertentu yang sudah ditentukan. Dan saya yakin Kompasianer lain yang ikut kompetisi ini juga setuju.

Bagaimana caranya supaya tetap kreatif dan selalu menemukan ide untuk menulis dengan tema tersebut?

Temukan ide itu dengan banyak membaca.

Seperti disiplin menulis, kita juga harus mendisiplinkan diri untuk membaca. Membaca akan membuka cakrawala pengetahuan kita. Membaca akan membuka titik lemah tulisan kita. Membaca akan membuat kita menjadi pribadi yang semakin berkembang.

Saya selalu menyediakan waktu untuk membaca. Entah itu artikel milik Kompasianer lain (sehingga saya tahu apa yang bisa saya tulis nantinya dan bisa memperbaiki kualitas tulisan saya sendiri) atau browsing artikel-artikel lainnya.

Dengan membaca itulah ruang kreativitas kita bisa terbuka. Akan selalu ada ide-ide yang bisa muncul mendadak, yang mungkin bisa jadi pembeda dengan artikel-artikel lainnya yang bertema sama.

4. Jangan batasi kreativitas kita

Seperti yang saya tulis di atas, selama 33 hari kompetisi, saya menulis total 49 artikel. Artinya, jangan batasi kreativitas kita. Jangan merasa mentang-mentang sudah menulis satu artikel wajib, kemudian kita berhenti menulis. Padahal otak kita sedang ada ide yang perlu ditetaskan menjadi tulisan.

Meskipun temanya tidak berkaitan dengan yang diperlombakan, tetaplah tuangkan ide itu dalam tulisan. Selain bermanfaat untuk melatih disiplin dan kebiasaan menulis, siapa tahu itu bisa memberi nilai tambah, menjadi semacam portofolio pribadi yang menjadi kelebihan kita.

Menulis adalah kepuasan tersendiri. Seandainya memenangkan lomba, itu adalah nilai lebih yang harus disyukuri.

Samber THR Kompasiana bukan kompetisi menulis marathon yang biasa saja. Banyaknya tulisan yang kita buat tidak bisa menjadi jaminan untuk dapat menang. Samber THR Kompasiana adalah event perlombaan untuk menguji konsistensi menulis baik secara kuantitas maupun kualitas tulisan.

Banyak blog competition yang pernah saya ikuti. Tapi belum ada yang bisa menyamai parameter kompetisi dari Samber THR Kompasiana ini. Saya pikir, model kompetisi seperti inilah yang sangat bermanfaat untuk melatih keterampilan menulis kita. Dengan melihat bagaimana kita bisa konsisten menulis dalam berbagai tema yang berlainan.

Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih pada BCA dan Kompasiana selaku penyelenggara. Juga kepada teman-teman Kompasianer lain yang berkat tulisan serta keikutsertaannya menjadi pemicu semangat bagi saya untuk konsisten menulis.

“Motivasi adalah apa yang membuat kita memulai. Kebiasaan adalah sesuatu yang membuat kita terus maju”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *