Tiga Skenario Pembelajaran Siswa Saat Pandemi Corona

Sudah berapa lama anak-anak kita belajar dari rumah?

Saking lamanya dan membosankan kita sampai lupa, benar tidak? Biar tidak lupa, saya coba ingatkan kembali anak-anak kita disuruh belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020, sesuai kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menindaklanjuti instruksi Presiden Jokowi. Jadi, sudah hampir 2 bulan anak-anak belajar dari rumah secara online.

Seandainya ada survei yang mempertanyakan apakah anak-anak kita puas dan senang saat belajar dari rumah, saya yakin hampir 100 persen akan menjawab tidak senang. Selain berbagai masalah yang timbul saat belajar dari rumah, satu alasan utama yang membuat anak-anak tidak kerasan belajar dari rumah adalah rindu suasana sekolah. Rindu teman-teman sekolah, rindu dengan para guru yang selama ini mengajar mereka.

Beberapa waktu lalu, saya dikirimi rekaman video anak TK yang melakukan video call dengan gurunya. Sambil menangis tersedu sedan, si anak mengatakan rindu sama ibu guru.

Tidak ada yang menampik perkembangan teknologi memungkinkan pendidikan kita melakukan pembelajaran jarak jauh. Secara teori memang bisa, tapi praktiknya tidak semudah yang dikatakan para ahli.

Jika 2 bulan saja para siswa sudah tidak betah belajar dari rumah, bagaimana seandainya mereka diharuskan belajar dari rumah sampai akhir tahun?

Ini skenario terburuk yang tengah disiapkan Kemendikbud. Pasalnya, pandemi Covid-19 tidak dapat diprediksi kapan berakhirnya. Sekalipun saat ini kurva kasus positif tengah melambat, bukan berarti kehidupan kita bisa berjalan normal secepatnya.

Tiga Skenario Pembelajaran Siswa Saat Pandemi Corona

Untuk itu, Kemendikbud menyiapkan tiga skenario pembelajaran siswa, khususnya di tingkat dasar dan menengah.

“Dalam menghadapi wabah COVID-19 yang masa akhir penyebarannya belum pasti, maka Kemdikbud menyiapkan 3 skenario pembelajaran siswa,” kata Plt Dirjen PAUD-Pendidikan Tinggi Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad kepada detikcom, Senin (27/4/2020).

Ketiga skenario tersebut disiapkan menurut prediksi berakhirnya pandemi Covid-19.

Skenario Pembelajaran Siswa Pertama

Skenario pertama, jika pandemi Covid-19 selesai Juni, siswa bisa masuk sekolah secara normal mulai pertengahan Juli sebagai awal tahun pelajaran baru.

Skenario ini tampaknya mustahil bisa terlaksana. Saat ini, jumlah kasus positif di Indonesia masih meningkat signifikan. Sekalipun tingkat kesembuhan juga meningkat tajam, sangat riskan jika pemerintah langsung membuka sekolah dan mempersilahkan siswa masuk sekolah seperti biasa.

Skenario Pembelajaran Siswa Kedua

Skenario kedua, jika pandemi Covid-19 berakhir pada Agustus atau September, maka siswa akan belajar dari rumah (BDR) setengah semester, selebihnya masuk sekolah seperti biasa. Artinya, semester ganjil setengahnya harus belajar dari rumah, setelah itu siswa bisa masuk sekolah.

Sama seperti skenario pembelajaran siswa yang pertama, pandemi Covid-19 kemungkinan besar tidak akan berakhir hingga September. Mengingat rentang waktunya yang cukup pendek, hanya 5 bulan dari sekarang di saat angka kasus positif masih meningkat tajam.

Skenario Pembelajaran Ketiga

Skenario ketiga dan yang terburuk, jika pandemi Covid-19 masih bertahan hingga akhir tahun, maka siswa akan melaksanakan BDR sepanjang semester ganjil 2020.

skenario pembelajaran online,belajar dari rumah,pembelajaran online,belajar online
Siswa akan belajar dari rumah hingga akhir tahun (sumber gambar: tanotofoundation.org)

Melihat ketiga skenario pembelajaran siswa tersebut, sepertinya kita harus menghadapi skenario terburuk. Anak-anak harus tetap belajar dari rumah sampai akhir tahun nanti.

Kembali pada permasalahan di atas, sudah siapkah kita sebagai orangtua membimbing anak-anak belajar dari rumah? Sudah siapkah anak-anak untuk belajar dari rumah selama itu? Sudah siapkah pemangku kebijakan pendidikan di negara ini dengan segala risiko dan dampaknya?

Mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita harus menghadapi skenario terburuk ini. Untuk itu, sedari awal semua komponen pendidikan, mulai dari orangtua, siswa, guru hingga pemangku kebijakan harus mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan terburuknya.

Pendidikan Kita Belum Siap Menerapkan Pembelajaran Online

Harus diakui, pendidikan kita belum siap 100 persen dalam menerapkan pembelajaran jarak jauh. Terlalu besar kesenjangan digital yang ada di negara kita.

Infrastruktur digital kita belum menyebar rata. Literasi digital untuk guru maupun siswa juga belum teredukasi dengan baik.

Masalah yang Timbul dalam Pembelajaran Online

Peralihan dari pengajaran tatap muka tradisional ke pembelajaran online di kelas virtual membuat setiap siswa mengalami pengalaman belajar yang sepenuhnya berbeda. Butuh waktu lama untuk membiasakan siswa belajar dengan metode dan sistem pembelajaran online. Mengingat dalam 2 bulan terakhir ini, siswa mengandalkan rutinitas dan penolakan mereka untuk berubah.

Pembelajaran online itu mungkin terlihat bagus, tetapi ada batasannya. Rasa bosan dan frustasi pada siswa harus diwaspadai karena bagaimanapun mereka – sama seperti orangtuanya – membutuhkan sosialisasi langsung dengan teman-teman sebaya.

Di luar itu, pembelajaran online tidak memiliki manajemen waktu, yang mana dalam hal pendidikan dasar dan menengah menjadi sangat penting. Ingat bel yang berbunyi, yang menunjukkan bahwa pembelajaran telah dimulai dan berhenti? Ingat gerombolan siswa yang akan mengemas barang-barang mereka, menumpuk di lorong-lorong dan pergi ke kelas berikutnya atau menunggu jemputan yang akan mengantar mereka pulang?

Inilah stimulus terbesar bagi siswa untuk tetap bertahan dalam pembelajaran mereka. Sesuatu yang tidak akan mereka dapatkan dalam metode dan sistem pembelajaran online.

Kondisi inilah yang harus segera menjadi perhatian serius dari Kemendikbud. Jangan sampai masa belajar dari rumah akan membunuh kreativitas siswa. Dan yang lebih ditakutkan lagi, jangan sampai metode belajar dari rumah ini mendegradasi kesehatan mental anak-anak kita.

Mengharapkan siswa untuk berhasil dalam pembelajaran online dan berfungsi seolah-olah kita masih berada di kelas, adalah setara dengan ketika kita mengharapkan seorang atlet yang baru kita rekrut langsung mendapat medali emas olimpiade hanya karena ayahnya pemegang rekor dunia olimpiade. Meskipun si atlet fenomenal, tetapi dia masih mentah, belum dipoles, tidak tersentuh oleh latihan yang intensif. Sama seperti setiap siswa kita dalam transisi digital ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *