Jurus Rahasia Menjadi Jenius Dari Para Tokoh Dunia

Kata Thomas Alfa Edison, Jenius itu 1% inspirasi dan 99% keringat (kerja keras). Itu dikatakannya pada sekitar tahun 1903 untuk menimpali omongan banyak orang bahwa dirinya adalah seorang jenius kreatif. Dengan lebih dari seribu penemuan yang dia patenkan, Edison dianggap termasuk salah seorang jenius yang sangat kreatif pada masanya.

Namun dia menolak disebut jenius kreatif. Menurut Edison, kesuksesan yang ia raih 99% berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Kesuksesan karier sering kali ditentukan oleh momen kejeniusan. Tapi, meskipun seseorang itu punya minat dan bakat yang kuat terhadap suatu hal, jika tidak ada kerja keras yang mengiringinya selama perjalanan waktu, kesuksesan itu tidak akan datang. Untuk menindaklanjuti momen kejeniusan yang kita miliki dan mengubahnya menjadi kenyataan, dibutuhkan tingkat kesabaran dan dedikasi yang hanya dimiliki oleh sedikit orang.

Apa jurus rahasia menjadi jenius yang kreatif?

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menjadi sukses? Harus menunggu berapa tahun seseorang yang dianggap memiliki bakat di bidangnya bisa mencatatkan dirinya dalam sejarah?

Pertanyaan itulah yang menjadi dorongan utama John Richard Hayes untuk melakukan serangkaian penelitian terhadap para jenius, khususnya dalam bidang musik. Selama puluhan tahun, Hayes, seorang profesor psikologi kognitif di Universitas Carnegie Mellon, menyelidiki peran kerja keras, latihan, dan pengetahuan dari para “jenius” di bidangnya.

Dalam makalahnya, Hayes menyediakan bukti kuat bahwa komposer dan pelukis paling berbakat, memerlukan persiapan bertahun-tahun sebelum mereka mulai menghasilkan karya yang membuat mereka terkenal dan mencapai kesuksesan.[1]

jurus rahasia menjadi jenius,rahasia menjadi jenius,tokoh jenius,thomas alfa edison,wolfgang amadeus mozart,jenius kreatif,kisah sukses tokoh jenius,kisah sukses tokoh dunia

Hayes menyurvei semua komposer yang disebutkan dalam buku The Lives of the Great karya Schonberg (1970). Di dalamnya tersedia data biografi yang cukup untuk menentukan kapan para jenius musik ini pertama kali menjadi sangat tertarik pada musik, misalnya, memulai pelajaran piano dengan sungguh-sungguh. Hayes kemudian mengidentifikasi 500 karya musik yang paling sering dimainkan oleh simfoni di seluruh dunia dan dianggap sebagai “karya besar” di panggung pertunjukan. 500 karya populer ini diciptakan oleh total 76 komposer.

Selanjutnya, Hayes memetakan garis waktu karier masing-masing komposer dan menghitung berapa lama mereka telah bekerja sebelum mereka menciptakan karya-karya populer mereka. Hayes lalu menemukan bahwa hampir setiap “karya besar” ditulis setelah masa sepuluh tahun karier komposer. Hanya ada tiga pengecualian dari 500 karya musik populer tersebut yang ditulis pada tahun kedelapan dan kesembilan.

Periode 10 tahun keheningan untuk meraih kesuksesan

Pola produktivitas karier para jenius bidang musik ini melibatkan periode sepuluh tahun awal keheningan, peningkatan pesat dalam produktivitas dari tahun 10 hingga tahun 25, periode produktivitas stabil dari tahun 25 hingga sekitar tahun 45 dan kemudian penurunan bertahap.

Dalam makalah yang sama, Hayes melaporkan studi paralel terhadap 131 pelukis dengan menggunakan data biografi mereka untuk menentukan kapan masing-masing pelukis terkenal ini menjadi serius terlibat dalam dunia lukisan. Pola dari produktivitas karier para pelukis mirip dengan yang diamati dalam komposer.

Disana ada periode awal keheningan berlangsung sekitar enam tahun. Kemudian diikuti oleh peningkatan produktivitas yang cepat selama enam tahun ke depan dan masa produktivitas yang stabil hingga sekitar 35 tahun karir mereka sebelum mulai menurun.

Tidak seorang pun yang bisa menghasilkan karya yang luar biasa tanpa mempraktekkannya setidaknya selama satu dekade. Inilah aturan pertama dari hukum 10 tahun kesunyian(10 Years of Silence)  versi Hayes. Pola yang serupa juga ditemukan Hayes pada karya-karya besar dari penyair dan beberapa seniman di bidang lainnya.

10 Years of Silence dari para tokoh jenius

Wolfgang Amadeus Mozart, yang dikatakan orang sebagai “Jeniusnya para jenius” harus bekerja keras selama 12 tahun sebelum karya pertamanya konser piano nomor 9 menjadi populer dan meraih kesuksesan. Dalam seni lukis, Les Demoiselles d’Avignon karya Pablo Picasso diciptakan pada tahun 1907, satu dekade setelah ia mulai berlatih sebagai seniman di Barcelona pada tahun 1896.

Wawasan pertama Einstein tentang relativitas khusus terjadi sekitar tahun 1895, 10 tahun sebelum  ia mempublikasikan teorinya pada khalayak umum di tahun 1905. Tim Berners-Lee menemukan World Wide Web pada tahun 1990, 10 tahun setelah program komputer seperti web pertamanya, yang dikenal sebagai Inquire.

Disney bersaudara mendapatkan kesuksesan pertama mereka lewat film pendek “Three Pigs” pada tahun 1933, satu dekade setelah mereka mendirikan perusahaan pada 1923. Tidak sulit untuk melipatgandakan contoh kesuksesan yang mengikuti pola hukum 10 Years of Silence.

Delibrasi, jurus rahasia menjadi jenius kreatif yang sukses

Teorema Hayes ini kemudian dikonfirmasi beberapa ahli psikologi lainnya dan mereka semua setuju. Meski begitu, dibalik teori 10 tahun kesunyian ini, ada satu hal yang ditekankan Hayes serta para ahli psikologi lainnya. Seorang profesor psikologi lainnya K. Anders Ericsson mendukung teori 10 years Rules versi Hayes dengan penelian lain yang menyimpulkan bahwa seseorang harus melalui masa 10.000 jam kerja keras dan latihan terus menerus untuk bisa menjadi ahli di bidangnya.

Kunci dari kesuksesan dan rahasia menjadi jenius dari para tokoh dunia ini menurut Hayes, Anders Ericsson dan ahli psikologi lainnya terletak pada satu kata: Delibrasi (kerja keras dengan latihan rutin yang disengaja). Seperti yang dikutip dari Thomas Alfa Edison, 99 % dari kejeniusan/kesuksesan seseorang itu berasal dari keringat/kerja keras.

Seperti apa Delibrasi itu?

Mari kita lihat contohnya pada seorang olahragawan yang punya bakat alami. Suatu ketika, Robert, salah satu pelatih tim basket USA, diundang ke Las Vegas untuk mengawasi latihan tim basket Amerika. Pukul 4.15 pagi, telpon di kamar hotelnya berdering. Ternyata Kobe Bryant, bintang bola basket Amerika itu meminta James untuk mengawasi latihan pemanasannya.

Saat Robert datang ke tempat latihan tim, dia melihat disana cuma ada Kobe sendirian. Tubuhnya terlihat berpeluh, padahal saat itu belum juga pukul 5 pagi. Robert kemudian menemani dan mengawasi Kobe Bryant melakukan latihan pemanasan selama 45 menit. Setelah itu, Robert kembali ke kamarnya, sedangkan Kobe masih terlihat berlatih menembakkan bola.

Robert kemudian kembali ke ruang latihan pada pukul 11 pagi. Disana, semua pemain dan pelatih tim basket USA sudah berkumpul dan berlatih. LeBron James sedang berbicara dengan Carmelo Anthony dan Pelatih Krzyzewski sedang mencoba menjelaskan sesuatu kepada Kevin Durant. Di sisi kanan fasilitas latihan, Kobe sendirian menembak jumper (latihan tembakan melompat).

Robert lalu menghampiri Kobe dan menyapanya, “Kerja bagus pagi ini.”

“Oh. Ya, terima kasih Rob. Saya sangat menghargai itu.”

“Jadi, kapan kamu selesai?”

“Selesaikan apa?”

“Latihanmu. Jam berapa kamu meninggalkan fasilitas latihan itu?”

“Oh, barusan. Saya ingin berlatih menembak 800 kali. Jadi ya, sekarang. ”

Menurut catatan Robert, Kobe Bryant memulai latihan pemanasan sekitar pukul 4.30 pagi, terus berlari dan berlari hingga pukul 06.00, mengangkat beban dari pukul 06.00 hingga 07.00, dan akhirnya melanjutkan berlatih 800 tembakan melompat antara pukul 07.00 dan 11.00.[2]

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita latihan Kobe Bryant ini?

Kobe tidak hanya muncul dan banyak berlatih. Dia berlatih dengan tujuan. Kobe memiliki tujuan yang sangat jelas saat latihan: 800 tembakan lompat. Dia sengaja fokus pada peningkatan ketrampilan yang dikuasainya, membuat tembakan melompat. Cerita yang sama bisa kita dengar dari para olahragawan dengan bakat alami lainnya: Cristiano Ronaldo atau David Beckham.

Para tokoh jenius atau olahragawan dengan bakat alami memiliki satu kesamaan: kerja keras yang konsisten dan latihan rutin dengan satu tujuan yang disengaja (delibrasi). Mereka membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun untuk mencapai garis dasar kesuksesan. Inilah sebenarnya jurus rahasia menjadi jenius itu.

10 tahun! Apakah kita bersedia mengedepankan upaya semacam itu, dalam satu arah yang fokus, selama itu? Apakah kita bersedia menerima setiap pukulan, jatuh, merasa sakit, dan kemudian bangkit terus berjalan?

Dengan menggabungkan dua gagasan ini – konsistensi “10 tahun keheningan” dan fokus  pada “latihan yang disengaja” – kita sesungguhnya dapat melampaui kebanyakan orang.

Saya tidak memiliki bakat alami seperti Kobe Bryant atau kecemerlangan seperti Mozart, tetapi saya bersedia memasukkan “10 tahun kesunyian” ini dalam perjalanan karir dan hidup yang saya jalani. Saya menulis di blog pribadi maupun Kompasiana ini sudah lebih dari 6 tahun dan masih terus menulis, karena saya melihat ini sebagai awal dari proyek 30 tahun bagi saya.

Orang-orang sukses tidak berbakat; mereka hanya bekerja keras, lalu berhasil dengan sengaja. “

– G.K. Nielson


[1] Hayes, J. R, ‘Three problems in teaching problem solving skills’ In S. Chipman & R. Glaser (Eds.), Thinking and Learning Skills, Vol. 2, Hillsdale (NJ): Earlbaum, 1985)

[2]  https://www.reddit.com/r/nba/comments/19o38z/hi_rnba_my_name_is_robert_and_im_an_athletic/

One Comment

  1. Pingback: Belajar Arti Deliberasi dari Kisah Hidup Kobe Bryant - Creative Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *