Pilihan Buku Bacaan Menunjukkan Kualitas Dirimu

You are what you read

Begitu kata sastrawan Irlandia Oscar Wilde. Siapa dirimu bisa dilihat dari pilihan buku-buku yang kamu baca. Kutipan dari Oscar Wilde tersebut mengajarkan pada kita bahwa kualitas diri seseorang didapatkan dari pilihan buku bacaan yang ia peroleh. Cerita tentang Elon Musk dan misi SpaceX-nya berikut ini mungkin bisa membantu kita untuk mencerna kutipan Oscar Wilde tersebut dengan lebih baik.

Elon Musk dan misi SpaceX

Ketika Elon Musk  pertama kali memulai misi SpaceX, banyak orang yang mentertawakan dan menganggapnya gila. Tidak hanya karena eksplorasi luar angkasa adalah industri yang lebih banyak didominasi oleh pemerintah negara-negara maju saja. Lebih dari itu, Elon Musk dianggap tidak memiliki latar belakang atau pengalaman apapun tentang teknologi pesawat antariksa.

Namun, keraguan itu perlahan surut seiring perkembangan nyata dari misi SpaceX yang berhasil. Dari yang semula dianggap mustahil, orang-orang kini merasa penasaran dan ingin tahu. Apalagi mengingat keterlibatan Elon Musk di sisi teknis misi luar angkasa tersebut, membuat orang banyak bertanya, bagaimana dia belajar begitu banyak tentang roket dan luar angkasa.

Jawabannya sederhana,

“Saya membaca banyak buku.”

 Bagi orang biasa, jawaban Elon Musk mungkin terdengar menggelikan. Memilih ilmu roket dan menjadikannya sebagai hobi membaca bukanlah hal yang biasa dilakukan orang normal. Tapi Elon Musk memang bukan orang biasa. Dia orang yang luar biasa.

pilihan buku bacaan,buku bacaan,jenis buku bacaan,bahan bacaan,pilihan buku bacaan menunjukkan kualitas diri,kutipan dr seuss,you are what you read
Dengan banyak membaca, semakin banyak pengetahuan yang kita peroleh

Pilihan Buku Bacaan Menunjukkan kualitas diri

Seperti halnya sebuah barang yang diproduksi oleh pabrik. Kualitas barang tersebut tergantung dari input yang diberikan. Semakin bagus inputnya, output yang keluar semakin berkualitas pula. Begitu pula dengan manusia. Input yang diberikan akan membentuk output, kualitas dan kepribadian yang terlihat.

Informasi yang kita masukkan ke dalam pikiran kita dapat memberitahu bagaimana pola berpikir kita. Dan ini akan mempengaruhi output dalam bentuk keputusan yang kita buat, pekerjaan yang kita hasilkan dan interaksi yang kita miliki.

Darimana informasi tersebut? Sebagian kita dapatkan dari pengalaman langsung sehari-hari. Sebagian lagi kita dapatkan dari apa yang diserap oleh indera kita. Terutama oleh buku bacaan kita sehari-hari.

Jika kita terlalu sering membaca komik, atau bahan bacaan yang ringan lainnya, jangan heran jika kita sering pula menganggap enteng suatu permasalahan. Berbeda dengan mereka yang kerap membaca buku-buku serius.

Bukan berarti membaca komik itu sama sekali tidak bermanfaat. Sebagai hiburan, itu bisa saja kita lakukan. Tapi jangan terlalu sering membacanya.

pilihan buku bacaan,buku bacaan,jenis buku bacaan,bahan bacaan,pilihan buku bacaan menunjukkan kualitas diri,kutipan dr seuss,you are what you read

Mengutip perkataan Francis Bacon, “Beberapa buku harus dicicipi, yang lain ditelan, dan beberapa lagi dikunyah dan dicerna.”

Tentukan Pola dan Pilihan Buku Bacaan

Kita harus bisa mengatur pola dan pilihan buku bacaan. Buku apa yang perlu dikunyah dan dicerna dengan baik, dan buku apa pula yang hanya perlu dicicipi saja. Dengan demikian, pola pikir kita bisa terbentuk dengan lebih baik. Kita bisa menanggapi suatu permasalahan dengan serius, sekaligus memiliki sense of humor yang cukup.

Terlalu banyak membaca komik, berita-berita gosip, atau bacaan pop culture yang ringan, tidak memberi manfaat yang cukup bagi otak kita. Bahan bacaan ringan hanya memiliki sedikit kosakata dan pemahaman yang lebih mudah. Hal ini membuat otak kita tidak bisa berlatih dengan baik.

Berbeda dengan buku bacaan yang lebih serius. Saat membaca sebuah sastra klasik, atau buku non fiksi yang memuat pembahasan ilmiah, kita akan menyerap bahasa yang kaya dengan detail, referensi, dan metafora. Gaya membaca ini bekerja untuk melibatkan bagian dari wilayah otak yang memungkinkan pembacanya merasa seolah-olah mereka mengalami peristiwa tersebut.

Proses membaca yang lebih mendalam ini adalah latihan yang sangat baik untuk meningkatkan kesehatan otak kita. Hal ini juga bisa meningkatkan empati karena kita dapat mempraktekkan refleksi diri dan analisis masalah yang kita dapatkan dari buku bacaan tersebut.

(Ah, mana ada waktu untuk membaca hal-hal yang serius macam itu? Waktu kita lebih banyak habis untuk aktivitas keseharian.)

Masak sih? Coba deh perhatikan lagi, benarkah kita tidak memiliki waktu untuk membaca buku-buku yang lebih mendalam?

Kita Sebenarnya Memiliki Banyak Waktu untuk Membaca

Untuk sebagian kecil orang, hal itu mungkin benar. Waktu mereka lebih berharga untuk digunakan mencari nafkah daripada membaca buku. Namun, untuk sebagian besar lagi, terutama kita yang hidup di masyarakat urban, pernyataan itu hanya sebuah alasan pembenaran.

Saat kita menghabiskan 20 menit untuk menggulirkan umpan Facebook di gawai, itu artinya kita sedang membaca. Saat kita memilih untuk mengeklik judul yang menarik dari sumber berita yang meragukan, kita sedang membaca. Saat kita menjelajah tanpa alasan, kita sedang membaca.

Terbukti kan kalau kita memiliki banyak waktu untuk membaca? Perbedaannya hanya terletak dari jenis bacaan yang kita pilih.

Proses membaca seharusnya dilakukan bukan karena ketidaksengajaan. Kita membaca bukan karena hal itu otomatis terjadi, sesuai dengan pengaturan standar kita sehari-hari. Kita membaca karena merasa itu perlu dilakukan secara aktif. Kita membaca karena sadar bahwa itu berguna bagi diri kita. Bermanfaat untuk membentuk pola pikir , kualitas diri, serta kepribadian yang lebih baik.

Kurangi penjelajahan tanpa tujuan, berita yang meragukan, dan umpan media sosial yang ringan-ringan. Tambahkan beberapa karya klasik, bacalah fiksi yang bagus, dan belajarlah dari orang-orang yang berpikir secara mendalam.

Tulisan ini sudah dimuat di Kompasiana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *