Pentingnya Tingkat Keterbacaan Pada Artikel

“Teori matematika tidak akan dianggap lengkap sampai Anda membuatnya begitu jelas sehingga Anda bisa menerangkannya kepada orang pertama yang Anda temui di jalan.” – David Hilbert

Sebuah esai yang bagus itu harus menarik dan mudah dibaca. Menarik untuk dibaca tidak sama dengan mudah dibaca. Esai yang menarik untuk dibaca tergantung pada kualitas isi atau gaya penulisan. Sedangkan esai yang mudah dibaca itu ditentukan oleh Tingkat Keterbacaan.

Apa itu Tingkat Keterbacaan?

Pengertian Tingkat Keterbacaan

Perhatikan contoh berikut:

“Ani membeli sedikit mentega. Tapi mentega yang dibeli Ani ternyata pahit. Jadi, Ani kembali lagi membeli mentega yang lebih baik daripada mentega yang Ani beli sebelumnya.”

Sekarang, pertimbangkan contoh berikut ini:

“Ani membeli sedikit mentega.

Tapi mentega yang dibeli Ani ternyata pahit.

Jadi, Ani kembali lagi membeli mentega yang lebih baik daripada mentega yang Ani beli sebelumnya.”

Yang mana yang kamu sukai? Yang kedua lebih menarik secara visual dan mudah ditangkap mata kita, bukan?

Ini karena format penulisan kedua lebih jelas dan lebih mudah dibaca.

Sekarang perhatikan dua gambar tangkapan layar berikut ini. Sebut saja gambar yang pertama (atas) namanya Sarah.

ragam tingkat keterbacaan wacana,mengukur tingkat keterbacaan,tingkat keterbacaan wacana,tingkat keterbacaan teks,tingkat keterbacaan media,tingkat keterbacaan bahan ajar,tingkat keterbacaan siswa,tingkat keterbacaan,pentingnya tingkat keterbacaan dalam artikel,arti tingkat keterbacaan,apa itu tingkat keterbacaan,pengertian tingkat keterbacaan,cara mengukur tingkat keterbacaan

Dan gambar yang kedua (bawah) namanya Laura.

ragam tingkat keterbacaan wacana,mengukur tingkat keterbacaan,tingkat keterbacaan wacana,tingkat keterbacaan teks,tingkat keterbacaan media,tingkat keterbacaan bahan ajar,tingkat keterbacaan siswa,tingkat keterbacaan,pentingnya tingkat keterbacaan dalam artikel,arti tingkat keterbacaan,apa itu tingkat keterbacaan,pengertian tingkat keterbacaan,cara mengukur tingkat keterbacaan

Misalnya kita sedang berbicara dengan Sarah, yang memiliki kosakata yang mengesankan. Hanya saja, saat kita berbicara dengannya, kata-kata yang diucapkan Sarah seolah hanya melintas di kepala. Sedangkan arti/pesan yang hendak disampaikan Sarah malah tidak kita pahami.

Di sisi lain, bayangkan kita berbicara dengan Laura, yang berbicara dalam bahasa yang lebih sederhana. Apa yang diucapkan Laura bisa kita mengerti dengan lebih baik.

Dengan Sarah, kita bisa jadi sering berpikir bahwa bahasa kita ternyata tidak sesuai dengan standar bahasa yang digunakan Sarah. Jadinya, alih-alih terlibat aktif dengan berbalas kata, kemungkinan kita hanya akan menutup mulut dan tersenyum saja sampai pembicaraannya selesai.

Berbeda bila kita berbicara dengan Laura, yang bahasanya mudah dicerna. Kita bisa proaktif menimpali pembicaraan tersebut. Berbicara dengan Laura yang memakai bahasa sederhana dan mudah dipahami membuat kita merasa setara dan tidak rendah diri.

Dua ilustrasi diatas membawa kita pada arti dari Tingkat Keterbacaan.

Tingkat Keterbacaan adalah penanda yang membantu kita untuk menentukan apakah tulisan, konten atau artikel yang kita buat mudah dibaca atau tidak.

Berawal Dari Mengukur Keterbacaan Bahan Ajar

Gagasan tentang Keterbacaan muncul pada 1920-an di Amerika Serikat. Ketika itu jumlah anak yang bersekolah di sekolah menengah di sana meningkat. Para pendidik mulai membicarakan apa yang seharusnya diajarkan pada anak-anak sekolah ini.

Sebuah saran diajukan oleh Thorndike dalam bukunya “The Word Teachers’ Word Book” (1921). Buku itu mencantumkan 10.000 kata, masing-masing memberikan nilai berdasarkan perhitungan luas dan frekuensi penggunaannya. Idenya adalah buku ini dapat memberi tahu para guru tentang kata-kata mana yang harus mereka tekankan dalam pengajaran mereka sehingga kata-kata yang paling umum digunakan dapat ditanamkan dalam kosa kata siswa mereka.

Buku Thorndike dan variasi selanjutnya adalah katalis untuk penelitian Keterbacaan, yaitu apa yang membuat teks dapat dibaca dan bagaimana hal ini berbeda berdasarkan tingkat pendidikan. Pada akhir 40-an, ukuran keterbacaan telah muncul menghasilkan skor berdasarkan penghitungan suku kata dan panjang kalimat. Skor ini sering dipetakan ke tingkat kelas.

Pentingnya Tingkat Keterbacaan dalam tulisan

Mengapa tingkat keterbacaan itu penting dan harus diterapkan dalam setiap tulisan (konten/artikel)?

“konten yang disukai orang dan konten yang dapat dibaca orang hampir merupakan hal yang sama”. – Neil Patel.

Dari ilustrasi di atas, kita sudah tahu bahwa mengobrol dengan Laura jauh lebih menyenangkan daripada berbicara dengan Sara dengan kosa katanya yang penuh warna. Begitu pula dengan konten yang kita buat. Pembaca akan menyenangi konten tersebut bila mereka lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan.

Membaca secara digital lebih sulit daripada membaca pada buku cetak. Dalam dunia digital, jumlah konten digitalnya semakin meningkat secara eksponensial setiap detiknya. Ini membuat rentang perhatian pembaca juga semakin menurun.

Temuan survei tahun 2016 terhadap 550 eksekutif bisnis menyimpulkan hal yang sama. Sebanyak 81% dari responden setuju bahwa konten yang ditulis dengan buruk menghabiskan banyak waktu mereka.

Untuk itu, kita harus memastikan konten digital (baca: artikel) yang kita buat bisa tetap menarik dan mempertahankan bola mata pembaca tetap terpaku pada layar teks. Kita harus memastikan tulisan kita bukan sekedar kumpulan kata-kata yang dilemparkan tanpa sajak atau alasan.

“Jika kamu tidak bisa menjelaskannya dengan sederhana, berarti kamu tidak bisa memahaminya dengan cukup baik”

One Comment

  1. Pingback: Himam Miladi - Creative Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *