Pelajaran Dari Kisah Karantina Isaac Newton

London, Inggris, Agustus 1665. Semua mahasiswa di kampus-kampus kota London disuruh pulang. Tahun itu adalah tahun kelam bagi warga Inggris terutama masyarakat kota London. Tahun yang dikenang sebagai The Great Plague, Tahun Wabah Besar.

Wabah penyakit pes yang berlangsung dari tahun 1665 hingga 1666, merupakan wabah pes terakhir yang tersebar luas di Inggris. Epidemi ini berada pada skala yang jauh lebih kecil daripada pandemi Black Death sejak abad ke-14 yang menewaskan hampir separuh populasi penduduk daratan Eropa. Meski begitu, The Great Plague sudah menewaskan sekitar 100.000 orang — hampir seperempat dari populasi London — dalam 18 bulan.

Perintah pembatasan sosial skala besar dikeluarkan otoritas kota London. Kampus-kampus ditutup, mahasiswanya disuruh pulang ke rumah masing-masing. Seorang mahasiswa 24 tahun dari Trinity College, Cambridge termasuk di antara mereka yang dipaksa meninggalkan kampus dan kembali ke rumah masa kecilnya.

Jauh dari kehidupan kampus dan tidak dibatasi oleh kendala kurikulum maupun tugas-tugas dosen dan profesornya, mahasiswa itu justru menemukan tahun keemasannya. Selama masa karantina di rumah, mahasiswa itu menemukan dan merumuskan berbagai postulat, teori dan hukum ilmu pengetahuan yang kelak akan merubah wajah dunia. Namanya Isaac Newton.

Kisah Karantina Isaac Newton

Di rumahnya yang mungil di Woolsthorpe Manor, Lincolnshire, Newton membangun rak buku dan menciptakan kantor kecil untuk dirinya sendiri. Ia lalu mengisi buku catatan kosong dengan ide-ide dan berbagai macam perhitungan matematis.

Tanpa adanya gangguan kehidupan sehari-hari yang khas, kreativitas Newton berkembang pesat. Selama waktu karantina ini Newton menemukan kalkulus diferensial dan integral, merumuskan teori gravitasi universal, dan mengeksplorasi optik, bereksperimen dengan prisma dan menyelidiki cahaya. Masa Karantina adalah Tahun Keemasan Isaac Newton.

Di bidang optik, Newton melakukan percobaan di kamarnya yang kecil tentang pembiasan dan pembelokan cahaya. Awalnya, ia bosan melihat seberkas cahaya dari luar menyerobot masuk ke kamarnya lewat lubang kecil di dinding.

Newton lalu meletakkan dua buah prisma, dengan satu prisma diletakkan di jalur seberkas satu warna yang berasal dari prisma pertama. Ketika muncul dari sisi lain prisma kedua, sinar ini masih berwarna sama, sehingga membuktikan bahwa medium kaca belum mengubahnya.

Hukum Gravitasi Ditemukan Saat Karantina di Rumah

Cerita tentang Newton menemukan hukum gravitasi dari buah apel yang jatuh juga terjadi selama masa karantina ini. Dalam periode kontemplasi intelektualnya, pendekatan holistik Newton memungkinkannya untuk menjawab pertanyaan ‘Bagaimana cara kerja alam semesta?’

Newton sendiri menceritakan kisah itu ketika dia menyaksikan sebuah apel jatuh dari pohon di luar jendela kamarnya, dan bertanya mengapa buah itu jatuh lurus ke tanah.

kisah karantina isaac newton,isaac newton,woolsthorpe manor,pengalaman karantina isaac newton,coronapreneur
Woolsthorpe Manor, rumah Isaac Newton dan pohon apel yang legendaris (nationaltrust.org.uk/woolsthorpe-manor)

Dalam menjawab pertanyaannya sendiri, Newton berteori bahwa segala sesuatu yang ada tertarik pada segala sesuatu yang lain dan daya tarik ini, kekuatan gravitasi, mengikat alam semesta bersama.

Tak hanya mengutak-atik cahaya dan menemukan perekat menyatukan seluruh alam semesta, Newton juga berpikir produktif dengan menelurkan beberapa rumus kalkulus yang sudah lama ia renungkan di Cambridge. Sehingga pada akhir 1666 Newton telah menyelesaikan tiga makalah tentang fluks (kalkulus awal), yang merupakan puncak dari periode kreativitas matematika yang paling intensif.

Setelah wabah penyakit pes berhasil diatasi pada awal 1667, Newton kembali ke kampus dan meneruskan kuliahnya. Enam bulan kemudian dia terpilih sebagai Minor Fellow di Trinity College dan dua tahun kemudian dia diangkat sebagai Profesor Lucasian kedua.

Dengan posisi akademis serta pendapatan yang terjamin, Newton terus mengembangkan gagasan dan penelitian yang sudah ia rintis dari Woolsthorpe Manor. Berbagai pemikiran dan penemuan yang ia buat selama berada jauh dari kampus, membentuk pondasi karier bersejarahnya selama bertahun-tahun yang akan datang dan menjadi beberapa terobosan ilmiah terbesar sepanjang masa.

Mengubah Karantina Menjadi Produktivitas Luar Biasa

Kisah karantina Isaac Newton tersebut memberi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa kreativitas seringkali mencapai puncaknya dalam kondisi yang terbatas. Penulis biografi Sir Isaac Newton, James Gleick menulis:

“Tahun itu adalah transfigurasi-nya. Kesendirian dan hampir tanpa komunikasi, ia menjadi ahli matematika terpenting di dunia. “

Sementara Newton sendiri menekankan bahwa absen yang dipaksakan ini adalah yang paling bermanfaat secara intelektual dari seluruh hidupnya.

“Karena pada masa itu saya berada di puncak usia saya untuk penemuan & Matematika & Filsafat serta dapat berpikiran lebih dari pada setiap saat sejak itu.”

Jadilah Coronapreneur, Entrepeneur saat Pandemi Corona

Bagaimana dengan kita?

Di saat pandemi covid-19, banyak orang yang merasa bosan dengan suasana karantina. Baru dua minggu menjalani pembatasan sosial, kita sudah mengeluh akan semua keterbatasan yang ada.

Tentu saja, kondisi ini adalah saat yang sulit bagi kita semua. Hidup kita seperti terbalik, dan rutinitas kita terganggu karena pandemi Covid-19 ini.

Terlalu banyak kecemasan, terlalu banyak keputusasaan. Tapi, apakah kita akan menyerah begitu saja?

Sebaliknya, dengan banyaknya waktu luang, kita bisa mencontoh Isaac Newton. Kita bisa memanfaatkan waktu absen mendadak ini untuk merefleksikan kembali kekuatan yang kita miliki, dan merubahnya menjadi kreativitas yang lebih berarti.

Perubahan tiba-tiba pada ritme zaman kita, dan keterasingan yang dipaksakan, dapat melepaskan imajinasi dan daya cipta kita dengan cara-cara yang mungkin mustahil di bawah keadaan biasa.

Kita bisa mengubah tahun pandemi ini menjadi Tahun Keajaiban. Daripada mengeluh, pengalaman “karantina” ini bisa menjadi puncak kreativitas dan produktivitas kita. Mungkin, inilah saat terbaik bagi kita untuk merumuskan ide-ide terbesar, dan melakukan pekerjaan terbaik yang bisa kita lakukan. Jadilah Coronapreneur, seorang enterpreneur selama wabah virus corona.

One Comment

  1. Pingback: 5 Tanda Kamu Menyia-nyiakan Hidup | Penulis Konten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *