Panduan Menulis Jurnal Ilmiah Untuk Pemula

Selama pandemi Covid-19, banyak pembaca mengirim email dan pesan lewat akun Instagram, meminta bimbingan penulisan jurnal ilmiah. Ada yang hanya bertanya-tanya saja bagaimana proses menulis jurnal ilmiah, ada pula yang tanpa tedeng aling-aling memintaku mengoreksi esai yang sudah mereka buat.

Kebanyakan mereka bertanya dan mengirim pesan setelah membaca artikel Prinsip Dasar Menulis Esai Akademik yang kutulis di blog pribadi maupun di Kompasiana. Selain itu, beberapa esai yang kuunggah di Academia juga menjadi alasan utama banyak pembaca meminta nasihat dan bimbingan teknis menulis jurnal ilmiah.

Bukan berarti aku sudah sangat ahli dan punya kompetensi teknis yang baik dalam penulisan jurnal ilmiah. Aku bukan dosen bahasa, bukan pula orang yang punya gelar akademis dalam bidang tulis menulis.

Aku senang menulis jurnal ilmiah karena menurutku ini menjadi salah satu keterampilan paling efektif yang dapat kugunakan untuk menulis, sehubungan dengan profesiku sebagai blogger penuh waktu.

Panduan Menulis Jurnal Ilmiah

Nah, untuk melengkapi beberapa artikel tips menulis esai, skripsi dan jurnal ilmiah yang sudah kutulis sebelumnya, kali ini aku mencoba menguraikan sedikit detil anatomi jurnal ilmiah. Anggap saja ini panduan singkat menulis jurnal ilmiah untuk pemula.

sumber gambar: unsplash.com/Jasmine Coro

Anatomi jurnal ilmiah

Abstrak

Hal pertama yang dilihat setiap orang yang akan membaca jurnal ilmiah adalah abstrak, yakni ringkasan dari seluruh isi jurnal ilmiah. Ringkasan ini – biasanya antara 250 dan 350 kata – boleh dikatakan “promosi penjualan jurnal yang ringkas dan persuasif” untuk pembaca.

Tertarik atau tidaknya pembaca bisa jadi tergantung dari abstrak yang kita sajikan. Karena, ini satu-satunya hal yang tidak disembunyikan paywall – dinding yang membatasi akses pembaca ke situs-situs jurnal ilmiah tertutup.

Bagaimana cara meringkas seluruh isi jurnal ilmiah dalam abstrak?

Cara yang mudah adalah dengan membagi abstrak menjadi tiga paragraf pendek yang masing-masing berisi 50-100 kata. Paragraf pertama adalah latar belakang singkat dan pertanyaan tak terjawab mana yang coba kita jawab.

Paragraf kedua adalah metode yang kita gunakan untuk menjawab pertanyaan. Apa yang kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya.

Paragraf ketiga adalah jawaban. Apa yang kita temukan dan bagaimana hal itu berkontribusi pada pengetahuan saat ini dalam bidang kita? Jika masih ada ruang lebih, sebutkan secara singkat kemungkinan implikasi / aplikasi yang lebih luas.

Isi Jurnal Ilmiah

Setelah abstrak, bagian paling besar dari jurnal ilmiah adalah isinya. Semua jurnal ilmiah menggunakan struktur yang baku sesuai dengan konvensi internasional, yakni: Pendahuluan, Metode, Hasil dan Pembahasan.

Pendahuluan

Pada bagian Pendahuluan, kita menggambarkan kondisi pengetahuan saat ini (sesuai bidang/tema dari jurnal) dan mengidentifikasi celah di dalamnya yang akan kita teliti dan bahas hasilnya. Biasanya bagian pendahuluan ini berisi latar belakang masalah.

Cara yang baik untuk menulis bagian pendahuluan adalah menggunakan struktur piramida terbalik. Mulailah dengan menggambarkan keadaan pengetahuan saat ini di bidang (sub bidang) penelitian kita. Lanjutkan untuk menempatkan pengetahuan itu ke dalam konteks sistem / teknologi / studi spesifik yang sedang kita tekuni. Kemudian sebutkan di mana letak celah dalam pengetahuan ini dan di mana kita akan mengatasinya.

Tips lain yang bisa digunakan adalah dengan memberi ‘rambu-rambu’ pada pembaca saat akan mengakhiri bagian Pendahuluan. Artinya: beri pembaca ringkasan kecil tentang apa yang akan kita tunjukkan di bagian selanjutnya.

Misalnya beberapa kalimat seperti, “Kami menggunakan X untuk mempelajari Y dalam Z. Kami ingin menunjukkan bahwa A dan B mempengaruhi C.”

2 Comments

  1. Pingback: Prinsip Dasar Menulis Esai Akademik | Penulis Konten

  2. Pingback: Cara Membuat Microblogging di Instagram | Penulis Konten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *