Prinsip Dasar Menulis Esai Akademik

Menulis saja susah, apalagi menulis esai akademik.

Itu yang sering kamu keluhkan bila ada guru atau dosen yang memberi tugas menulis esai akademik bukan? Bagimu, esai akademik (apapun bentuknya, mulai dari karya ilmiah, jurnal hingga skripsi) itu seperti horor yang paling menakutkan.

Sama takutnya kamu dengan pelajaran Matematika atau Fisika. Apalagi kamu termasuk generasi penonton yang lebih suka memelototi YouTube atau bermain gim PUBG.

Ketakutan itu lebih – kalau boleh aku simpulkan – disebabkan karena kamu harus:

  • (1) menulis dan
  • (2), membaca banyak literatur.  
pengertian esai akademik,contoh penulisan esai akademik,contoh esai akademik,cara menulis esai akademik,esai akademik,prinsip dasar menulis esai akademik,menulis esai akademik,struktur esai akademik,

Di luar sana Dik, ada banyak buku yang mengulas panduan menulis esai akademik. Tapi sebelum kamu membaca dan masuk dalam teknis penulisannya, ada dua prinsip dasar yang harus kamu miliki. Selama prinsip dasar ini ada dalam dirimu, aku yakin kamu bisa menghasilkan esai akademik yang bagus.

Dua Prinsip Dasar Menulis Esai Akademik

2. Jangan menunda atau mengerjakan esai akademik di akhir waktu!

(“Tapi Kak, aku bisa melakukan pekerjaan terbaikku di bawah tekanan, di menit-menit terakhir.”)

Itu adalah mitos omong kosong yang sudah basi! (bayangkan, sudah mitos, omong kosong, basi pula!). Membuat karya yang berkualitas dalam waktu singkat dibawah tekanan itu jargon penuh tipuan ala restoran cepat saji.

Anggur terbaik perlu berminggu-minggu untuk difermentasi. Mutiara berkilau perlu waktu berbulan-bulan untuk mengendap di cangkang kerang. Batu Berlian butuh waktu bertahun-tahun untuk ditempa oleh alam. Kualitas itu membutuhkan waktu, Dik.

Kalau kamu yakin bisa melakukan pekerjaan terbaik saat menjelang deadline, dibawah tekanan atau di akhir waktu, sekarang coba dibalik. Kerjakan tugasmu jauh-jauh hari, bertahap, eksplorasi bagian demi bagian, fokus tanpa ada tekanan apapun. Kemudian lihat hasil akhirnya. Aku yakin jauh lebih baik daripada yang biasa kamu kerjakan di bawah tekanan.

Menulis esai akademik juga demikian. Kamu membutuhkan waktu untuk mengeksplorasi kebenaran dalam topik yang kamu pilih sehingga bisa kamu pahami secara mendalam.

Jika kamu mengerjakannya di menit-menit akhir, ­esainya memang sudah selesai kamu tuliskan, tapi isinya belum kamu pahami dengan benar. Ibaratnya, kamu bergegas lari untuk bisa sampai ke puncak gunung, tapi kamu mengabaikan pemandangan indah yang ada di sepanjang jalur pendakian. Akhirnya, cuma lelah saja yang kamu dapatkan.

Esai Akademik butuh waktu untuk mengeksplorasi tema

Sebagian besar esai akademik gagal (dalam kualitasnya) karena banyak siswa (mungkin termasuk kamu pula) yang ingin mengerjakannya secepat mungkin. Aku bisa memahami karena memang tidak semua orang suka menulis.  Jadi ketika harus melakukannya, mereka ingin mengambil jalan pintas.

Cara termudah (bukan dengan menyewa penulis lain loh) adalah dengan Googling tema-tema yang aman. Begitu ketemu, mereka bergegas mengerjakannya.  Terburu waktu hingga akhirnya mereka sekedar puas sudah menyelesaikan tugas tanpa memahami apa yang sudah mereka tuliskan.

Esai akademik tidak bisa dikerjakan dengan cara begitu. Seperti yang aku ibaratkan dengan cara mendaki gunung tadi, yang namanya eksplorasi itu berarti kamu harus menentukan arah dan tujuan, lewat jalur pendakian yang mana dan mengetahui situasinya. Dengan begitu, kamu bisa mempelajari apa saja nanti yang ada di sepanjang perjalanan.

2. Kamu harus berani menanggung risiko!

Seperti saat kamu mendaki gunung, selalu ada risiko dalam perjalanan. Risiko kamu mengambil jalur pendakian yang salah, risiko tersesat, atau risiko kehabisan bekal.

Begitu pula dengan menulis esai akademik, ada risiko yang harus kamu tanggung dan harus berani dihadapi. Aku setuju dengan pendapatmu yang mengatakan esai akademik itu menakutkan.

Tapi menakutkannya bukan karena sulit untuk dikerjakan. Esai akademik itu menakutkan karena kamu harus siap mempertaruhkan keyakinanmu pada topik yang sudah kamu pilih.

Misalnya kamu memilih tema “Pengaruh proses penyangraian biji kopi terhadap kadar kafein pada kopi Robusta Lampung”. Hipotesamu menyatakan proses penyangraian biji kopi itu memiliki pengaruh pada kadar kafein. Tapi kamu belum tahu seberapa besar pengaruh itu, atau apakah memang benar ada pengaruhnya.

Saat mengerjakan esai akademiknya, kamu mempertaruhkan keyakinanmu tersebut. Karena itu, kamu juga harus berani menanggung risiko mengetahui analisamu salah. Kamu berisiko dikoreksi besar-besaran. Kamu menanggung risiko harus mengganti tema. Dan yang mungkin paling menakutkan adalah, kamu berisiko….harus belajar lagi!

Tapi risiko-risiko itu layak kamu tanggung jika kamu melihat bagaimana hasil akhir yang bisa kamu kerjakan. Esai akademik tuntas, dan terlebih lagi kamu paham betul seperti apa isi dari esai yang kamu kerjakan tersebut. Kamu sukses mencapai puncak gunung, dan puas pula menikmati setiap pemandangan indah yang terhampar di sepanjang jalur pendakian.

Segala macam panduan dan teknis penulisan esai akademik seakan menjadi tidak berarti jika kamu tidak memiliki dua prinsip dasar tersebut. Jadi, sebelum kamu menceburkan diri ke dunia ilmiah, pastikan bahwa kamu sudah berani dan siap untuk mengeksplorasi setiap pemandangan indahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *