Menulis Cerita Pribadi Untuk Menarik Pembaca

“Tulisanmu itu loh. Kamu kan sering menulis cerita pribadi, atau artikel yang dibumbui cerita pribadi, pengalaman pribadimu. Memangnya harus diceritakan gitu ya?” kata teman saya menjelaskan singkat.

“Lho, apa salahnya? Justru yang lagi tren sekarang itu tulisan berdasarkan pengalaman pribadi.  Pembaca lebih percaya apabila penulisnya mengalami sendiri.”

“Yah, kamu menulis itu kan dapat honor. Dengan menulis cerita pribadimu, kamu seperti orang yang menjual hidup. Itu yang aku maksudkan.”

Begitulah, percakapan singkat dengan teman saya itu seperti membuka cakrawala baru. Benarkah menulis cerita pribadi sama dengan menjual hidup sendiri?

Memang, ada banyak pembaca yang menganggap cerita pribadi tak patut diceritakan dan dibagikan untuk umum. Mereka tidak tertarik dengan aktivitas harian, pencapaian pribadi, atau momen tertentu yang dialami penulisnya.

Namun, banyak pula pembaca yang merasa peduli dan menyukai jenis artikel  yang terdapat unsur cerita pribadi penulisnya.

menulis cerita pribadi,cara menulis cerita pribadi,contoh menulis cerita pribadi

Saya sendiri memang sering menambahkan unsur cerita pribadi di setiap tulisan. Sekalipun cerita itu terkesan remeh, ringan dan biasa saja.

Misalnya ketika saya menulis cerita tentang kucing saya yang hilang, atau cerita kucing peliharaan membuat saya dan istri saya merasa lebih produktif. Ini kan termasuk jenis cerita ringan, sepele, dan mungkin pribadi banget.

Menulis Cerita Pribadi Bisa Terhubung dengan Pembaca

 Bagi saya, menulis cerita pribadi bukan untuk mencari simpati atau popularitas. Menambahkan unsur cerita pribadi di setiap artikel membuat saya bisa terhubung dengan pembaca yang senasib sepenanggungan.

Seperti artikel kucing yang hilang. Saya tak mengira jika artikel itu dijadikan headline oleh Kompasiana. Dan ketika artikel itu dibaca banyak orang, ada beberapa pembaca yang merasakan hal yang sama.

Hal yang sama ketika saya menceritakan penyakit yang diderita ibu saya, Sindrom Meliodisplasia. Beberapa hari setelah artikel itu ditayangkan, ada pembaca yang menghubungi lewat email dan berterima kasih sudah berbagi informasi mengenai penyakit tersebut, yang ternyata juga diderita ibunya.

Pada dasarnya, kita adalah makhluk yang ingin tahu dan peduli dengan orang lain. Andi tidak akan peduli dengan kondisi utangnya kecuali ketika dia membaca tulisan pengalaman Hasan bisa melunasi hutang 100 juta padahal pekerjaannya driver ojek online dengan penghasilan cuma 2 juta sebulan. Masyarakat tidak akan tertarik budidaya umbi porang hingga mereka membaca cerita Paidi yang jadi milyuner gara-gara berhasil mengekspor umbi porang.

Jangan Ragu Menuliskan Cerita Pribadimu

Bagaimanapun kita melihatnya, pembaca suka dengan cerita yang bagus, yang bermanfaat, yang memotivasi, yang menginspirasi. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki cerita yang menarik untuk dibagikan.

Begitu pula, di luar sana ada begitu banyak orang luar biasa yang telah melakukan hal-hal yang mengesankan, berani, dan unik. Temukan mereka dan tambahkan ke cerita kita.

Jangan menganggapnya sebagai “menjual hidup” seperti yang dikatakan teman saya. Sebagai penulis, bukankah kita ingin mengasah keterampilan bercerita kita dengan cerita yang paling kita ketahui? Dan itu adalah cerita pribadi kita sendiri.

Jadi, jangan ragu menuliskan cerita pribadimu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *