4 Tips Mengatasi Writer’s Block Yang Lebih Manjur

Pernah nggak kamu mengalami bad mood sampai-sampai ide untuk menulis tak kunjung datang? Itu artinya kamu sedang terkena writer’s block.

Apa sih Writer’s Block itu?

Menurut wikipedia, ini adalah kondisi, terutama terkait dengan menulis, di mana seorang penulis kehilangan kemampuan untuk menghasilkan karya baru, atau mengalami perlambatan kreatifitas. Kondisi ini berkisar dalam kesulitan dari munculnya ide-ide asli hingga tidak dapat menghasilkan karya sama sekali.

Gambaran sederhananya; saat kita menghadap layar laptop dan jari sudah menempel di papan ketik, pikiran kita malah kosong. Padahal tadi ada ide-ide yang melintas.

Tapi saat sudah siap dituliskan, entah mengapa semua ide tersebut tiba-tiba menguap hilang entah kemana. Tidak ada yang bisa dituliskan sama sekali.

Ini adalah kondisi yang memprihatinkan, terutama buat kamu yang punya target menulis setiap hari. Tapi jangan khawatir. Tak usah galau dan merasa sedang mengalami degradasi kreativitas. Ingatlah, banyak jalan menuju Roma.

4 Tips mengatasi writer’s block

Kalau kamu sedang mengalami hal semacam itu, lakukan 4 jurus jitu mengatasi writer’s block ini supaya masih tetap bisa menulis meski ide tak kunjung datang. Setiap penulis mungkin memiliki tips dan cara mengatasi writer’s block yang berbeda. Tapi jurus yang sudah saya praktekkan ini bisa dibilang lebih manjur. Apa saja jurus jitunya?

1. Menulis ulang atau repurpose artikel lama

Jurus jitu yang pertama adalah menulis ulang atau repurpose artikel-artikel lama. Lihatlah artikel-artikel yang sudah kamu tulis di masa lalu. Saya yakin tak ada satu pun yang bernilai sempurna. Pasti ada satu cacat, entah itu pemilihan diksi yang buruk, struktur kalimat yang salah, hingga penempatan tanda koma, titik dua, atau tanda kutip yang tidak tepat.

Bacalah sekali lagi tulisan-tulisan lama itu. Pilih mana yang sesuai atau cocok dan aktual dengan isu-isu terkini. Perbaiki kalimat di sini, tambahkan koma di sana. Sedikit demi sedikit mendaur ulang artikel lama tersebut menjadi sesuatu yang serupa, tetapi kondisinya baru dan segar.

Tuliskan artikel lama itu secara harfiah lagi. Kata demi kata, kalimat demi kalimat. Rekonstruksi bagian asli sehingga menyerupai karya asli, tetapi itu tidak persis sama. Cobalah untuk menambahkan beberapa ide baru jika kamu bisa.

Artikel ini sebenarnya sudah saya tulis di Kompasiana, juga beberapa artikel lain di blog ini. Tapi saya menulis ulang dengan sudut pandang yang berbeda dan juga beberapa perbaikan.  

Kata-kata atau diksi yang tidak penting saya buang. Beberapa ide baru saya tambahkan. Dan voila, jadilah sebuah tulisan baru yang segar, tapi tulisan aslinya sebenarnya sudah kadaluarsa.

2. Meringkas atau menanggapi tulisan orang lain

Jurus jitu yang kedua adalah dengan meringkas atau merangkum tulisan-tulisan orang lain. Ingat nggak, waktu sekolah dulu, kamu mungkin pernah ditugaskan guru untuk merangkum atau meringkas sebuah tulisan. Entah itu berita atau cerita pendek.

Nah, saat kamu mengalami writer’s block atau bad mood hingga paceklik ide, mengapa kamu tidak melakukan hal yang sama? Tak ada yang salah dengan cara ini.

Kamu tidak plagiat, hanya merangkum atau meringkas tulisan orang lain. Tentu saja dengan gaya bahasamu sendiri.

Untuk bisa melakukan jurus jitu yang kedua ini, syarat utamanya adalah harus banyak membaca. Pilih beberapa artikel yang menurutmu menarik atau bermanfaat.  Atau pilih beberapa artikel favorit yang pernah kamu baca di masa lalu. Mulailah merumuskan butir-butir yang menyoroti ide-ide kunci, tema, dan pemikiran dari tulisan itu.

Kemudian, masukkan poin-poin ini bersama-sama untuk membuat paragraf penuh, menghubungkan ide dari satu artikel yang kamu baca ke artikel yang lain. Setidaknya tambahkan beberapa ide orisinal yang kamu miliki. Tapi yang terakhir ini tidak mutlak, tak perlu memaksakan diri.

Kamu juga bisa meringkas berbagai jurnal-jurnal ilmiah yang bertebaran di dunia maya. Ambil poin-poin penting dari hasil penelitian mereka yang temanya sama. Kemudian rangkum/ringkas  hasil penelitian itu menjadi sebuah artikel yang lebih populer, lepas dari berbagai istilah-istilah ilmiah yang bisa memusingkan pembaca.

Contoh merangkum atau menanggapi tulisan orang lain

Ingat kata Steve Jobs, kreativitas itu hanya sekedar menghubungkan berbagai hal. Kreativitas itu seperti menghubungkan titik-titik untuk menggambar. Titik-titik ini, yang berupa berbagai artikel lain sudah ada. Tetapi kamu sendiri yang harus memutuskan titik mana yang akan dihubungkan untuk membuat tulisan orisinal yang belum pernah ada sebelumnya.

Artikel saya di Kompasiana ini merupakan ringkasan dari artikel yang ada di Tirto.id. Artikel ini kemudian saya ambil poin-poin pentingnya, dan saya tambahkan ide baru yang tidak ada di artikel asli, yakni pengertian buta huruf fungsional. Dan sim salabim, jadilah sebuah artikel baru meski idenya tidak orisinal.

Kolumnis dan pemerhati politik dan media, Hersubeno Arief juga melakukan hal yang serupa. Dalam artikelnya yang dimuat di situs Kumparan dan situs pribadinya, Hersubeno Arief mengambil poin-poin penting dari artikel Tirto.id. Kemudian dia menambahkan ide-ide baru dengan sudut pandang ulasan yang berbeda.

cara mudah mengatasi writer's block,writer's block,mengatasi writer's block,tips mengatasi writer's block,cara mengatasi writer's block

3. Mengulas Artikel Sendiri atau Orang Lain

Jurus jitu mengatasi writer’s block yang ketiga adalah mengulas artikel sendiri atau artikel orang lain. Misalnya, kamu bisa memilih dan mengulas artikel di blog saya ini. Berikan ulasan yang jujur.

Mulailah untuk membentuk beberapa kalimat tentang suka atau tidak suka. Cobalah menjawab pertanyaan yang mungkin kamu miliki terkait dengan ide/tema artikelnya, hal-hal yang masih membingungkan dari artikel itu , atau hal-hal lain yang mungkin kamu rasakan berbeda. Rumuskan ini menjadi sebuah ulasan yang lengkap.

Jika tidak ingin mengulas artikel milik orang lain, berikan ulasan pada artikelmu sendiri. Setelah membuat sebuah tulisan, kamu mungkin berpikir ini adalah tulisan yang terbaik. Benarkah?

Coba baca lagi tulisan-tulisan terbaik yang pernah kamu buat. Apa yang kamu rasakan saat membaca ulang tulisan tersebut? Masih tetap suka dan menganggapnya terbaik, atau ternyata kamu menemukan sebuah kekurangan? Hal-hal semacam ini bisa kamu jadikan sebuah tulisan tersendiri.

4. Alih bahasa atau menyadur artikel berbahasa asing

Ini adalah tips mengatasi writer’s block yang paling mudah dilakukan. Di internet, ada milyaran artikel yang berkualitas dalam bahasa asing.

Kamu bisa memilih satu diantaranya, kemudian menyadurnya atau menterjemahkannya dalam Bahasa Indonesia. Tak perlu malu atau sungkan. Banyak situs-situs lain dan bahkan media massa juga melakukan hal ini.

Bagaimana bila kita tidak bisa atau tidak mengerti bahasa asing? My English is just little-little speak?

Hey, kamu pikir untuk apa Google Translate dibuat? Tentu saja untuk memudahkan kita yang bahasa asingnya medioker banget ini. Copy Paste isi artikel berbahasa asing itu, taruh di kolom Google Translate, kemudian klik tombol Terjemahkan.

Itu saja?

Tentu saja tidak, Ferguso. Jangan meng-Copy Paste begitu saja hasil terjemahan dari Google Translate. Berusahalah untuk kreatif sedikit.

Caranya, tulis ulang hasil terjemahan itu dalam gaya bahasamu sendiri. Dengan catatan dan jangan sampai lupa: Cantumkan sumber aslinya.

Selalu ada ide untuk menulis setiap hari

Nah, itulah empat jurus jitu mengatasi writer’s block supaya kamu tetap bisa menulis saat ide tak kunjung datang.

Ada sebuah adagium berbahasa Inggris, “Consumption is often the precursor to originality”. Artinya secara harfiah, konsumsi itu seringkali mendahului orisinalitas.

Bagi saya, tak ada ide yang benar-benar orisinal, kecuali ide Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Setiap ide seringkali berasal atau terinspirasi dari ide lain. Entah karena hasil dari apa yang kita baca, yang kita alami, atau hasil dari kejadian alam di sekitar kita.

Sir Isaac Newton mendapat ide dan menciptakan Hukum Gerak dari kejadian jatuhnya buah apel. Napoleon Bonaparte, Hitler, hingga Lenin mendapatkan ide kekuasaan diktator mereka dari bukunya Niccolo Machiavelli. Dan masih banyak contoh lainnya.

Jadi, jangan pernah menyerah dan mengatakan, “Aku tak punya ide untuk menulis!”

Karena selalu ada sesuatu yang bisa kita tuliskan hari ini.

One Comment

  1. Pingback: 5 Tips Menulis Artikel Bagi Pemula - Creative Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *