Menebar Kebaikan Lewat Lelang Buku dan Donasi Sembako

“If you love your books, let them go.

Kutipan ini saya baca di halaman situs BookCrossing. Sebuah kutipan dari The New York Times yang mengapresiasi program “pelepasan buku” supaya bisa dibaca orang lain.

BookCrossing (juga disebut BC, Bcing atau Bxing) adalah “praktik meninggalkan buku di tempat umum untuk diambil dan dibaca oleh orang lain, yang kemudian melakukan hal yang sama.”

Gerakan Melepas Buku Koleksi Pribadi

Gerakan untuk melepaskan buku-buku koleksi pribadi “ke alam liar” ini diawali oleh ide dari Ron Hornbaker. Pada bulan April 2001, Ron meminta dua temannya Bruce dan Heather Pedersen untuk membuat situs BookCrossing.com sebagai fasilitas pinjam-meminjam buku antar anggotanya.

Dua tahun berikutnya, anggota BookCrossing sudah mencapai 113 ribu pecinta buku. Pada Juli 2007, Singapura menjadi negara pertama yang memberikan status resmi praktik tersebut. Pemerintah Singapura menetapkan 2.000 lokasi di negara itu sebagai ‘BookCrossing hotspot’.

Pada 2017, keanggotaan BookCrossing melonjak hingga mencapai lebih dari 1,7 juta anggota dan lebih dari 11,7 juta buku bepergian melalui 132 negara.

Dengan slogan Label. Share. Follow, anggota BookCrossing yang hendak melepas bukunya terlebih dahulu harus melabeli buku mereka dengan sebuah label khusus. Dengan begitu, buku mereka akan bisa terlacak kemana perginya melalui sebuah entri jurnal dari seluruh dunia.

Jika kamu mencintai bukumu, biarkan mereka pergi.

Seperti sebuah roman cinta sejati bukan? Bahwa mencintai itu tak harus memiliki.

Dari kutipan tersebut, saya sadar bahwa mengoleksi buku itu bukanlah sebuah bentuk kecintaan terhadap buku. Melainkan salah satu perwujudan dari rasa egois yang kita miliki. Saya merasa egois karena bermimpi ingin memiliki begitu banyak koleksi buku, sementara di luar sana ada jutaan anak dan orang lain yang tak punya kesempatan untuk membaca satu buku pun!

Terinspirasi dari Bookcrossing tersebut, beberapa bulan yang lalu saya pun mulai melepas koleksi buku pribadi untuk didonasikan ke beberapa taman bacaan. Caranya, saya membuat program Giveaway di akun Instagram dan menulisnya di Kompasiana.

Gayung bersambut, banyak pengelola taman bacaan yang meminta donasi buku. Beberapa pembaca Kompasiana yang membaca tulisan saya juga ikut berdonasi untuk kemudian saya kirimkan ke taman bacaan yang membutuhkan.

Waktu terus berlalu, donasi buku yang saya inisiasi terus berlanjut. Beberapa buku yang tak sempat dikirim akhirnya saya sumbangkan ke Perpustakaan Daerah Kota Malang.

Dari Lelang Buku Menjadi Donasi Masker dan Sembako

Hingga kemudian pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. Saya kemudian berpikir, donasi buku tidak lagi banyak manfaatnya. Sementara di rumah masih banyak buku bacaan yang “ingin dibebaskan”.

Menebar Kebaikan,Lomba Blog Menebar Kebaikan,#MenebarKebaikan,#LombaBlogMenebarKebaikan,Dompet Dhuafa,Lomba Blog Dompet Dhuafa,lelang buku,donasi sembako,donasi masker,pandemi covid-19,Menebar Kebaikan Lewat Lelang Buku dan Donasi Sembako
Buku yang dilelang siap dikirim ke donatur (dokpri)

Memang, di saat banyak orang harus bekerja dari rumah, buku bisa menjadi teman yang menyenangkan. Tapi, saya tidak ingin buku itu hanya jadi bahan bacaan saja. Saya ingin buku-buku ini memiliki nilai lebih bagi orang-orang yang terdampak pandemi corona.

Akhirnya, terpikir oleh saya untuk melelang buku-buku koleksi pribadi dan sumbangan dari teman-teman. Dana hasil lelang itu dijadikan donasi sembako dan masker, dua hal yang sangat dibutuhkan warga yang terdampak pandemi Covid-19.

Hasil dari lelang buku untuk donasi masker

Ide donasi sembako dan masker lewat lelang buku ini kemudian saya informasikan ke grup WhatsApp teman-teman dan di akun Instagram. Alhamdulillah, banyak teman yang mendukung rencana saya dengan membeli buku. Malah ada banyak teman yang langsung ingin bersedekah saja, tanpa harus membeli buku yang saya tawarkan.

Namun permintaan mereka saya tolak. Sejak awal, niat saya adalah melelang buku untuk kemudian dana hasil lelangnya didonasikan. Dengan begitu, ada dua kebaikan berbagi yang dapat mereka terima. Pahala dari sedekah, dan buku bacaan dari saya.

Beberapa koleksi buku yang saya lelang untuk donasi sembako

Mungkin apa yang saya lakukan ini tidak banyak berarti. Tapi, sekecil apapun sebuah kebaikan, untuk saat ini rasanya sangat berharga.

Kebaikan Berbagi, Kisah yang Diinginkan Saat Pandemi Covid-19

Kebaikan Berbagi, inilah satu-satunya kisah yang diinginkan dunia saat ini. Ada milyaran manusia yang terdampak pandemi Covid-19, seperti halnya kita sendiri.

Jutaan karyawan yang terkena PHK. Abang ojek online yang mengeluh tidak dapat orderan. Bapak tua pengayuh becak yang hanya bisa termenung menunggu penumpang yang tak kunjung datang. Nenek penjual kerupuk di pintu pasar yang menunggu pembeli dagangannya.

Paket sembako dari hasil Lelang Buku dibagikan pada warga kurang mampu yang terdampak pandemi Covid-19

Tak hanya itu, kita juga bisa menebar kebaikan lewat tulisan. Seperti lomba blog yang diadakan Dompet Dhuafa ini. Dengan tema “Menebar Kebaikan”, Dompet Dhuafa yakin bahwa kebaikan yang telah Tuhan berikan untuk kita, akan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat jika tidak hanya berhenti pada diri kita sendiri. Inilah makna Kebaikan Berbagi.

Di saat kita menghadapi wabah virus corona yang semakin mengganas, yang kita butuhkan adalah rasa persatuan, kebersamaan, empati dan simpati, keinginan untuk menebar kebaikan serta kepedulian terhadap sesama. Seperti kata bijak filsuf Romawi, Seneca,

“Kita adalah ombak dari laut yang sama, dedaunan dari pohon yang sama, bunga-bunga dari taman yang sama.”

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”
Menebar Kebaikan,Lomba Blog Menebar Kebaikan,#MenebarKebaikan,#LombaBlogMenebarKebaikan,Dompet Dhuafa,Lomba Blog Dompet Dhuafa,lelang buku,donasi sembako,donasi masker,pandemi covid-19,Menebar Kebaikan Lewat Lelang Buku dan Donasi Sembako

9 Comments

  1. Hai mas Himam, setuju sekali dengan dengan mengoleksi buku berarti kita egois. Lha tapi bukuku ki yo akeh di rak dan dibaca anak-anakku dan temannya je. hehehe. Salut dengan kegiatan menebar kebaikan yang mas himam ciptakan nih, inspiratif

  2. Pingback: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan, Sekecil Apapun | Penulis Konten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *