4 Cara Mendaur Ulang Konten

Sebagai manusia, sangat sulit bagi kita untuk menerima dan menyerap informasi yang disampaikan hanya satu kali saja. Sewaktu sekolah dulu, guru kita selalu mengulang informasi pelajaran yang disampaikannya.

Pentingnya Repetisi atau pengulangan informasi dalam konten

Repetisi, atau pengulangan adalah bagian yang tidak terelakkan dari sebuah penciptaan dan kreativitas. Dalam setiap pengulangan, kita tidak mengulang secara tepat perintah atau informasi yang pertama. Kita hanya mengambil intinya, kemudian mengolahnya kembali dalam bentuk yang berbeda.

Begitu pula dalam membuat konten atau menulis artikel. Banyak penulis atau pembuat konten yang menghindari pengulangan atau mendaur ulang konten lama. Mereka lebih memilih mengeksplorasi ide-ide baru daripada mengulang ide yang pernah dibuat atau dituliskan.

Kita sering merasa pembaca sudah cukup diinformasikan dalam satu kali kesempatan saja. Padahal faktanya tidak seperti itu. Mereka, seperti halnya kita sendiri, perlu mendengar dan membaca hal yang sama berulangkali.

Orang yang memiliki ingatan paling bagus sekalipun memerlukan pengulangan informasi. Apalagi kita yang isi kepalanya penuh dengan berbagai macam pikiran. Kita membaca sesuatu, esok harinya mungkin kita sudah lupa apa isinya. Kita lalu berpindah membaca informasi yang lain, tanpa pernah menerapkan yang pertama. Kita terus mengonsumsi bahan bacaan, tetapi jarang bertindak menuruti saran.

Kita mungkin pernah berpikir: “Sepertinya aku pernah membaca tentang ide ini sebelumnya. Mungkin kali ini patut dicoba.”

Saat membaca pertama kali, kita sering tidak memahami titik intinya. Mendaur ulang konten atau informasi dapat meningkatkan peluang bahwa pembaca benar-benar menempatkan titik pembelajaran dan mengubahnya menjadi tindakan.

4 cara mendaur ulang konten,cara mendaur ulang konten,mendaur ulang konten,cara mendaur ulang,repurpose content,mendaur ulang tulisan,mendaur ulang tulisan lama

Dengan mendaur ulang konten, kita memperbaiki ide-ide kita, memurnikannya, dan belajar bagaimana mengomunikasikannya dengan lebih baik. Pengulangan juga akan memberi kita kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut tentang cara berkomunikasi seperti apa yang berhasil dan yang tidak. Lebih jauh, mendaur ulang konten juga membantu kita untuk melihat ide dari sudut pandang yang berbeda.

Bagaimana cara mengulang ide atau lebih tepatnya mendaur ulang konten atau tulisan?

Sebelumnya, harus kita pahami dulu bahwa tidak semua ide, konten atau tulisan bisa didaur ulang. Jenis konten dan tulisan yang bisa didaur ulang hanya yang bersifat evergreen.

Konten evergreen umumnya memiliki ciri tidak terikat pada fakta dalam waktu tertentu. Misalnya, artikel tentang self-help (motivasi, tips, Do it Your Self), artikel pengetahuan atau edukasi, dan artikel yang berisi informasi tentang profil seseorang/biografi.

Konten yang berisi laporan peristiwa aktual sulit untuk bisa didaur ulang. Ini karena konten tersebut terikat pada waktu peristiwa tersebut. Kecuali ada peristiwa serupa sehingga kita bisa mengaitkannya dan menjadikan konten tersebut sebagai gagasan pendukung.

4 Cara Mendaur Ulang Konten

Nah, setelah mengerti jenis konten yang bisa didaur ulang, mari kita bahas satu persatu cara menggunakan kembali atau me-recycle konten/tulisan. Ada empat cara yang bisa kita gunakan:

4 cara mendaur ulang konten,cara mendaur ulang konten,mendaur ulang konten,cara mendaur ulang,repurpose content,mendaur ulang tulisan,mendaur ulang tulisan lama

1. Gali lebih dalam

Ambil saja salah satu saran, tips, motivasi atau salah satu bagian dari beberapa poin yang ada dalam sebuah konten dan jadikan itu inti dari seluruh konten yang baru. Misalnya, jika sebelumnya kita menulis 10 tips menulis untuk pemula, maka uraikan salah satu tips tersebut. Jelaskan pro dan kontra atau plus minus dari teknik yang disarankan ini. Kemudian jangan lupa beri contoh kesaksian dari seseorang yang pernah menggunakannya.

Melalui cara ini, kita bahkan dapat mengambil pendekatan yang sama pada sembilan poin lainnya. Dengan begitu kita nanti akan memiliki 10 konten yang baru.

2. Mengambil Pendekatan/sudut pandang yang Berbeda

Kita juga dapat menulis konten dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya kita pernah membuat kontent tentang mengawali tulisan. Daripada menawarkan 10 tips untuk mengawali tulisan, kita bisa menulis dan berbagi saran 5 cara supaya tidak malas menulis. Atau 4 tips mengalihkan rasa malas menjadi sebuah tulisan. Atau 3 cara yang digunakan penulis dunia saat terkena writer block. Semua ide konten/tulisan ini dibangun dengan konsep yang sama.

3. Memperbarui titik waktu

Saat menulis, kita mengatakan hal-hal tentang tema tulisan pada satu titik waktu yang tidak relevan lagi. Misalnya, tulisan tentang 10 tips mengawali tulisan itu kita buat 2 tahun yang lalu. Sekarang, mungkin ada tips tentang tema sama yang baru, yang lebih tepat dan lebih berguna bagi pembaca generasi sekarang.

Atau kita bisa menuliskan pengalaman sudah mencoba tips yang kesepuluh, ternyata tidak berhasil. Berikan pembaca kesaksian pribadi dan rekomendasikan pada mereka saran yang baru.

4. Mengubah tulisan dalam bentuk Visual

Ambillah 10 tips tentang menulis itu dan segarkan kembali secara visual. Kita bisa mengubahnya menjadi infografis yang membuatnya lebih jelas bagi generasi penonton. Kita juga bisa mengubah tulisan  ke dalam power point dan kemudian menjadikannya sebuah video yang secara gamblang menampilkan tips mengatasi writer block.

Jika kita mengkomunikasikan sebuah ide hanya satu kali, kita tidak akan tahu sejauh mana ide itu berhasil ditangkap pembaca. Pengulangan atau mendaur ulang konten akan memberi kita titik perbandingan, yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan lebih banyak wawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *