10 Cara Memperbaiki Tingkat Keterbacaan

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sebanyak 81% dari responden setuju bahwa artikel atau konten yang ditulis dengan buruk menghabiskan banyak waktu mereka. Artinya, kita harus memperbaiki Tingkat Keterbacaan dari artikel yang kita buat.

Manfaat dari Memperbaiki Tingkat Keterbacaan

Ada 4 manfaat yang bisa diperoleh apabila kita memperbaiki tingkat keterbacaan konten:

Dapat menarik banyak pembaca

Menurut Chartbeat, ada dua statistik penting yang berkaitan dengan manfaat keterbacaan ini:

  • Pembaca hanya membaca rata-rata 20% dari teks pada halaman website.
  • 55% orang membaca postingan blog (artikel) selama 15 detik atau kurang.

Artikel yang jelas dan mudah dibaca bisa menarik perhatian untuk mendorong orang membaca lebih banyak konten yang kita sajikan. Artikel yang mudah dibaca juga bisa meninggalkan kesan positif pada pikiran pembaca dalam waktu 15 detik pertama yang mereka berikan saat membaca artikel kita.

Bagus untuk SEO

Website yang kontennya/artikelnya mudah dibaca membuat pengguna menghabiskan lebih banyak waktu. Ini berarti Bounce Rate (tingkat pantulan) dari website tersebut rendah sehingga cenderung berperingkat tinggi di mesin pencari. Pengguna kembali ke website tersebut karena mereka menemukan konten di sana mudah dimengerti dan websitenya terasa lebih mudah diakses.

Meningkatkan lalu lintas kunjungan

Ketika konten lebih mudah dibaca, itu artinya konten tersebut memberi manfaat bagi audiens. Dengan demikian, mereka akan kembali lagi, lagi dan lagi. Tentu saja hal ini akan meningkatkan lalu lintas kunjungan ke website.

Sebaliknya, jargon atau frasa yang rumit bisa membingungkan pembaca. Dan karena itu mereka bisa dengan cepat meninggalkan halaman situs, tidak pernah kembali lagi.

Meningkatkan keterlibatan pengguna

Dengan menulis artikel yang mudah dibaca, pada dasarnya itu sama dengan kita sedang berusaha mengembangkan hubungan dengan audiens.

Akibatnya, konversi akan meningkat. Dan ini semua hanya bisa terjadi bila kita bisa mendapatkan perhatian pengunjung, dengan cara menyajikan konten yang jelas, bebas komplikasi, dan mudah dibaca.

Cara memperbaiki tingkat keterbacaan

Karena Keterbacaan ini dimulai dari hasil penelitian ilmiah, maka ada rumus/formula dan parameter yang jelas dalam menilai sebuah tulisan itu mudah dibaca atau tidak. Namanya Skor Keterbacaan. Salah satu yang populer adalah Skor Kemudahan Membaca Flesch (Flesch Reading Ease).

Sesuai formulanya, formula ini memberi kita skor berdasarkan suku kata per kata, kalimat per paragraf, dan total kata dalam teks dengan skala 0-100. Sesuai skala ini, semakin tinggi skor, konten lebih mudah dibaca.

Dalam platform blog WordPress, formula Flesch ini bisa kita dapatkan melalui plugin Yoast SEO. Plugin ini dilengkapi dengan fitur penghitung skor Flesch Reading Ease, atau fitur Readibility. Tetapi, skalanya tidak ditunjukkan dalam angka, melainkan indikator apakah Keterbacaannya itu sudah Bagus (Good), Ok, atau Buruk.

Dengan memperhatikan faktor penilaian dari Flesch Reading Ease dan fitur Readibility dari WordPress, kita bisa mendapatkan beberapa petunjuk dan cara memperbaiki tingkat Keterbacaan konten, diantaranya:

1. Gunakan kata-kata sederhana

Kata-kata yang kompleks bisa memperumit masalah. Cobalah untuk menggunakan kosakata sederhana untuk menarik perhatian pembaca.

2. Jangan Gunakan kalimat panjang.

Sesuai saran dari Readibility Score di WordPress, kalimat yang kita tulis idealnya tidak boleh lebih dari 20 kata dalam satu kalimat. Sementara secara total, jumlah kalimat yang panjangnya lebih dari 20 kata tidak boleh melebihi 25% dari seluruh kalimat dalam satu tulisan.

3. Tulislah dalam paragraf pendek

Pertahankan panjang paragraf di bawah 150 kata untuk memastikan pemahaman maksimal saat membaca. Paragraf panjang cenderung sulit dibaca dan dapat membuat teks tampak kurang menarik.

Pengguna bisa langsung meninggalkan halaman website kita jika ia melihat format seperti itu. Ubahlah paragraf dalam tulisan kita setelah setiap 2-4 baris.

memperbaiki tingkat keterbacaan,ragam tingkat keterbacaan wacana,mengukur tingkat keterbacaan,tingkat keterbacaan wacana,tingkat keterbacaan teks,tingkat keterbacaan media,tingkat keterbacaan bahan ajar,tingkat keterbacaan siswa,tingkat keterbacaan,pentingnya tingkat keterbacaan dalam artikel,arti tingkat keterbacaan,apa itu tingkat keterbacaan,pengertian tingkat keterbacaan,cara mengukur tingkat keterbacaan

4. Menulis dengan kalimat aktif

Kalimat aktif lebih jelas untuk dipahami daripada kalimat pasif. Karena itu, batasi penggunaan kalimat pasif hingga 5% atau kurang dalam total tulisan. Contohnya adalah, “Dia menulis artikel” (kalimat aktif), alih-alih menggunakan “Artikel ditulis olehnya” (kalimat pasif).

5. Gunakan lebih sedikit suku kata

Salah satu faktor yang dipakai dalam formula Flesch adalah total suku kata. Usahakan memilih kata yang terdiri dari satu dan dua suku kata saja jika memungkinkan. Bila terpaksa, kata-kata panjang (dengan tiga atau lebih suku kata) bisa kita gunakan hanya jika kata-kata tersebut banyak digunakan dan dipahami.

6. Pakailah gaya bahasa dari audiens

Kosakata yang kita pilih, kalimat yang kita susun dan bahasa yang kita gunakan harus berbeda sesuai dengan target audiens yang kita inginkan. Menulis untuk audiens dewasa cenderung memakai bahasa semi formal. Sedangkan artikel yang ditujukan untuk audiens remaja bahasanya cenderung non formal.

7. Tambahkan subheading (subjudul) dalam artikel.

Pembaca suka memindai konten sebelum membaca. Hal ini dilakukan untuk mencari tahu apa tema dari tulisan dan untuk memutuskan bagian tulisan mana yang akan mereka baca.

Subheading/subjudul membantu mereka melakukan itu. Pembaca akan kesulitan memindai artikel jika tulisan kita tidak mengandung subjudul apapun. Atau ketika subjudul itu diikuti dengan hamparan teks yang sangat panjang.

Berilah subjudul pada setiap 300 kata, atau sekitar 3-5 paragraf.

8. Tambahkan konten visual

Masukkan suplemen bacaan seperti grafik, gambar, infografis, tangkapan layar, dan sebagainya ke dalm konten. Hal ini bisa meningkatkan kemampuan membaca seseorang karena otak manusia memproses visual 60.000 kali lebih cepat daripada teks.

9. Gunakan kata-kata transisi

Sertakan kata transisi dalam tulisan kita. Misalnya, ‘lebih-lebih’, ‘akibatnya’, ‘karena itu’,‘ sebagai tambahan’, ’dan seterusnya. Ini membantu menghubungkan kalimat dan memberikan arahan kepada pembaca.

10. Gunakan poin berbutir/ listicle

Pembaca lebih mudah memindai teks apabila dijelaskan dalam poin-poin penting dalam bentuk poin berbutir/listicle

Kesimpulan

Memperbaiki Tingkat Keterbacaan konten adalah penting tidak saja untuk menarik perhatian pembaca. Lebih dari itu, Tingkat Keterbacaan pada sebuah teks tulisan bisa mempermudah komunikasi antara penulis dan pembaca, serta bisa memberi pemahaman pada pembaca mengenai pesan yang ingin disampaikan dari tulisan tersebut.

One Comment

  1. Pingback: Himam Miladi - Creative Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *