5 Cara Membudayakan Literasi Pada Anak-anak

“Membaca hendaknya tidak disajikan kepada anak-anak sebagai tugas. Itu harus ditawarkan sebagai hadiah.”

– Kate DiCamillo –

Sudah umum diketahui bahwa tingkat literasi Indonesia sangat rendah. Menurut hasil riset  World’s Most Literate Nations yang dikeluarkan Central Connecticut State University (CCSU), Indonesia menempati urutan 60 dari 61 negara yang disurvei.

Namun, riset ini bukan mengungkapkan kemampuan penduduk suatu negara dalam hal membaca, melainkan perilaku/budaya membaca penduduk dan sumber daya pendukungnya. Riset ini didasarkan pada lima indikator yang dianggap penting dalam kegiatan membaca, yakni perpustakaan, koran, input pendidikan, output pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah untuk membudayakan literasi pada masyarakat, khususnya pada anak-anak. Mulai dari program pengiriman buku gratis, hingga waktu khusus untuk membaca yang diwajibkan bagi anak-anak sekolah sebelum mereka memulai pelajarannya.

Namun, menyerahkan sepenuhnya kegiatan membaca pada sekolah bukan upaya yang baik. Sebagus apapun bahan bacaan yang disediakan sekolah, ada keterbatasan waktu. Lagipula, pada prinsipnya sekolah harus difungsikan sebagai tempat untuk menimba ilmu, bukan tempat untuk menumbuhkan minat baca.

Membudayakan literasi harus dimulai sejak dini

Karena itu, membudayakan literasi semestinya dimulai sejak dini. Sejak anak-anak masih berada dalam lingkup keluarga dengan dukungan lingkungan sekitarnya. Menurut Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dadang Sunendar, pembiasaan untuk membaca harusnya dimulai sejak kecil, setelah anak-anak bisa membaca dan mengenal huruf.

“Harus diluruskan, bahwa seseorang mulai menyukai membaca tentu saja ketika dia sudah mulai memahami huruf-huruf dan sebagainya. Setelah itu kan kemungkinan dia menyukai bacaannya, kemudian tertarik dan meneruskan kebiasaan yang baik ini,” tutur Dadang dikutip dari Bisnis.com.

Untuk menumbuhkembangkan minat baca, peran utama dianggap ada pada keluarga. Kebiasaan keluarga membaca di waktu senggang, berlangganan koran atau bahan bacaan, serta mengajak diskusi anak dapat merangsang keinginan dan kebiasaan orang untuk membaca sejak dini.

Bentuk kegiatan #LiterasiKeluarga semacam ini dapat memotivasi anak untuk gemar membaca. Jika sejak kecil anak sudah gemar membaca, maka kebiasaan itu akan terjaga hingga dewasa.

Manfaat pembiasaan membaca sejak usia dini

Apa yang diungkapkan Dadang Sunendar sesuai dengan hasil beberapa penelitian. Pembiasaan membaca – atau membacakan buku- sejak usia dini memiliki efek kognitif dan perilaku yang penting bagi anak-anak.

cara membudayakan literasi di sekolah,membudayakan literasi,cara membudayakan literasi,membudayakan literasi di rumah,membudayakan literasi di sekolah,budaya literasi,tingkat literasi indonesia,literasi,budaya literasi keluarga,budaya literasi di masyarakat
infografis manfaat membaca sejak usia dini (dokumentasi Himam Miladi)

Para peneliti telah menemukan bahwa membaca di rumah dapat meningkatkan perkembangan otak pada anak-anak. Kegiatan membaca juga dapat meningkatkan perbendaharaan kosa kata mereka, memperkuat kemampuan mereka untuk fokus, dan meningkatkan perkembangan sosial-emosional. Tak hanya itu saja, membaca juga membuat anak-anak kurang hiperaktif dan kurang rentan terhadap kecemasan saat berpisah. Semua hasil penelitian ini mendukung apa yang dinyatakan Dadang Sunendar, bahwa budaya membaca harus dimulai sejak dini di tingkat keluarga.

Bagaimana cara membudayakan literasi dan membiasakan anak-anak supaya suka membaca?

Ternyata tidak butuh banyak kerja keras. Kuncinya adalah kesabaran. Kita bisa membudayakan literasi ini dan menjadikan buku sebagai #SahabatKeluarga bahkan sebelum anak-anak bisa membaca dengan 5 cara sederhana.

1. Buat anak-anak terbiasa dengan kata-kata.

Salah seorang teman saya pernah mengeluh, putranya yang berusia 5 tahun terlalu banyak bertanya. “Capek aku meladeni pertanyaannya. Sedikit-sedikit ‘mengapa, bagaimana, apa itu’….”.

Saya yakin bukan hanya teman saya saja, ada banyak orang tua yang juga mengeluhkan hal yang sama. Merasa capek dan kewalahan ketika anak banyak bertanya.

Saya sendiri pernah mengalami, ketika putri saya baru berusia 4 tahun, dia banyak bertanya. Awalnya ya memang capek, bosan dan tidak sabar menjawab semua hal yang dia tanyakan. Pada akhirnya, saya mulai memahami bahwa ini semacam naluri alami dari anak untuk mengenal lebih banyak kata-kata.

Jika tidak bertanya, bagaimana mereka bisa mengenal nama-nama benda atau hal apapun yang terjadi di sekitar mereka? Karena seringkali kita lupa atau malah abai untuk memberi pelajaran dasar memperkenalkan kata-kata pada anak kita sendiri.

Dengan menjawab dan meladeni pertanyaan anak, kita bisa membantu mengembangkan keterampilan bahasa mereka. Semakin kuat keterampilan itu, semakin siap mereka ketika dihadapkan dengan kata-kata di halaman cetak.

Jadi biarkan anak kita mengoceh, bahkan seandainya itu berarti menjawab sejuta “mengapa” berturut-turut.

2. Membacakan cerita yang sama berulangkali

Selain menghadapi jutaan pertanyaan dari anak-anak, orang tua juga sering diuji kesabarannya saat mereka diminta membaca cerita yang sama berulangkali.

Kita sebagai orang tua berpikir hal ini sangat membosankan. Tidak jarang kita menyarankan dengan setengah memaksa untuk mengganti buku bacaan. Atau kita melewatkan beberapa halaman dengan maksud supaya ceritanya lekas selesai.

Bagi orang tua, cerita yang terus diulang mungkin membosankan, tapi tidak demikian dengan anak-anak. Bagi mereka, cerita yang terus diulang bisa membuat mereka mengenang cerita tersebut dan pada akhirnya menumbuhkan kecintaan pada buku yang dikenangnya itu.

cara membudayakan literasi di sekolah,membudayakan literasi,cara membudayakan literasi,membudayakan literasi di rumah,membudayakan literasi di sekolah,budaya literasi,tingkat literasi indonesia,literasi,budaya literasi keluarga,budaya literasi di masyarakat
suasana ruang baca anak di perpustakaan Kota Malang (dokumentasi Himam Miladi)

3. Menjadi teladan dengan membaca di depan anak-anak

Tak ada pelajaran yang lebih baik selain memberi keteladanan. Jika kita ingin anak-anak suka membaca, jadikan kita sebagai model pembelajaran pada mereka.

Sebuah survei yang dilakukan Scholastic dalam Kids and Family Reading Report pada 2700 anak di Amerika Serikat menemukan bahwa ketika anak-anak bertambah usia, mereka melaporkan semakin sedikit orang dalam hidup mereka yang menikmati kegiatan membaca. Apa yang dilaporkan anak-anak dalam survei itu menandakan mereka hampir tidak pernah melihat orang tua atau anggota keluarga lain membaca.

Sebagaimana yang dikatakan Dadang Sunendar, kebiasaan membaca yang diperlihatkan keluarga bisa merangsang keinginan anak-anak untuk ikut membaca. Namun, kita seringkali mengabaikan upaya ini, meskipun kita terhitung orang yang suka membaca.

Alih-alih, kita malah menunggu anak-anak tertidur baru kemudian membaca buku favorit, dengan alasan supaya tenang dan tidak terganggu. Ini adalah contoh yang sangat buruk.

Bagaimana kita bisa memberi teladan pada anak kita, sementara kita malah merasa terganggu dan tidak nyaman bila membaca di depan mereka? Apalagi ketika kita menyuruh anak-anak membaca, tapi kita sendiri malah bermain gawai!

Bagi anak-anak, tidak ada teladan yang lebih baik selain orang tua mereka sendiri. Jadi, bila kita ingin anak-anak gemar dan suka membaca, berilah contoh pada mereka. Bila kita ingin membudayakan literasi pada anggota keluarga, bacalah buku di depan mereka.

4. Beri kesempatan pada anak-anak memilih bukunya sendiri.

Suatu ketika, saya mengajak anak-anak membeli buku di Gramedia. Setelah berkeliling dan melihat berbagai buku, putra saya yang berusia 8 tahun minta dibelikan komik Naruto, sementara kakaknya yang baru masuk SMP memilih sebuah buku fiksi remaja.

Saya seketika berpikir, buku-buku itu tidak bagus bagi mereka. Saya pun menyarankan untuk mengganti dengan buku lain, yang saya pikir itu bagus dan edukatif. Kedua anak saya dengan enggan menurut. Namun, seketika itu juga saya berpikir ulang, alangkah egoisnya saya.

Di saat bersamaan, muncul pertanyaan, apakah benar buku yang saya pilih itu bermanfaat bagi mereka? Jika mereka tidak suka, bagaimana mereka bisa memahami isi bukunya? Saya pun akhirnya membiarkan anak-anak membeli buku pilihan mereka.

Mungkin banyak orang tua yang juga melakukan hal yang sama. Kita cenderung memaksakan kehendak dengan memilih apa yang kita kehendaki, bukan apa yang disukai anak-anak.

Dalam sebuah penelitiannya, Barbara Marinak dari Mount St. Mary University di Maryland menemukan bahwa membiarkan anak-anak memilih bukunya sendiri akan membantu mereka menjadi pembaca yang lebih antusias. Marinak mengatakan orang tua dapat menciptakan efek ini di rumah dengan membiarkan anak-anak mereka memilih buku ceritanya sendiri.

Jadi, perhatikan dan hormati buku bacaan yang dipilih anak-anak, sekalipun itu mungkin bukan yang kita harapkan. Buku apapun yang dipilih anak kita, jangan pernah meremehkannya selama itu bisa membuat mereka mencintai buku.

5. Sediakan ruang membaca di lingkungan sekitar.

Selain keempat tips diatas, ada satu lagi cara sederhana untuk membudayakan literasi. Namun cara yang kelima ini membutuhkan kerja sama dan peran serta masyarakat dan lingkungan sekitar. Yakni dengan menyediakan ruang untuk membaca.

Dua tahun yang lalu, putri saya bersama teman-temannya di kampung berinisiatif membuat perpustakaan mini. Karena tidak ada ruang lebih di rumah, saya lalu meminta ijin Ketua RT untuk memanfaatkan pos kamling di ujung jalan sebagai perpustakaan mini. Syukurlah Ketua RT kami mengijinkan pos kamling yang hanya dipakai sebagai gudang untuk dialihfungsikan sebagai perpustakaan mini.

cara membudayakan literasi di sekolah,membudayakan literasi,cara membudayakan literasi,membudayakan literasi di rumah,membudayakan literasi di sekolah,budaya literasi,tingkat literasi indonesia,literasi,budaya literasi keluarga,budaya literasi di masyarakat

Setelah dibersihkan, putri saya lalu memboyong sebagian koleksi buku-bukunya ke perpustakaan mini itu. Beberapa temannya juga berinisiatif menyumbangkan buku-buku mereka. Setiap hari Sabtu-Minggu dan hari-hari libur sekolah, perpustakaan ini ramai dengan anak-anak yang membaca bersama. Tak jarang mereka meminjam buku untuk dibawa pulang.

Sayang sekali, karena kesibukan sekolah, perpustakaan mini itu sekarang terbengkalai. Banyak koleksi buku yang dulu dikumpulkan anak-anak menjadi rusak. Beberapa masih bisa saya selamatkan dan saya simpan kembali di rumah.

Pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam membudayakan literasi.

Seperti inilah bentuk peran serta masyarakat di lingkungan sekitar. Kolaborasi antara keluarga dan masyarakat sangat penting dan diperlukan untuk membudayakan literasi, khususnya pada anak-anak kita. Yang penting dan harus selalu kita ingat adalah: bahwa dengan menciptakan anak-anak yang mencintai buku, kita bisa menciptakan orang dewasa yang mencintai buku pula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *