Sekarang Zamannya Kurator Konten


Penemuan internet dan segala sesuatu di dalamnya (Internet of  Things/IoT) telah membuka kunci distribusi konten instan di seluruh dunia. Sementara perangkat lunak dan teknologi telah memungkinkan siapa pun dengan gawai untuk membuat musik, video, blog, video game, buku, hingga menelurkan sebuah pemikiran.

Ada lebih banyak TV, musik, film, buku, blog, permainan video, dan informasi yang dapat diakses daripada sebelumnya. Sebagian besar tersedia secara instan dan global. Beberapa di antaranya “diproduksi secara profesional,” sementara banyak yang masih bersifat amatir.

Sekarang pertimbangkan data berikut:

Setiap detik ada:

8.320 Tweet terkirim

888 foto Instagram diunggah

3.550 panggilan Skype dilakukan

66.233 GB lalu lintas internet dicatat

71.596 pencarian Google dilakukan

76.892 video YouTube ditonton

2,758.518 email terkirim

Pada tahun 2020, diperkirakan 1,7 GB data akan dibuat untuk setiap orang di planet ini – setiap detiknya!

Pentingnya distribusi konten yang tepat

Pada saat yang sama, kita juga memiliki akses ke hampir semuanya. Kondisi ini membuat kita terjebak dalam situasi yang sangat sulit: Bagaimana mungkin menemukan konten yang paling sesuai dengan selera kita di antara miliaran pilihan? Siapa yang mau memilih dan memilah milyaran konten yang tersedia?

Situasi yang sama juga dihadapi pebisnis. Bagaimana caranya mendistribusikan konten, memperkenalkan brand dan produk mereka di tengah milyaran konten lain yang saling berlomba menarik perhatian audiens?

Ilustrasi sederhananya seperti ini:

Bayangkan hanya ada satu stasiun radio yang memainkan semua genre musik dan menyiarkan semua berita dan talk-show yang pernah dibuat. Sementara selera kita adalah musik rock. Tentu sulit untuk menemukan musik yang sesuai dengan selera kita di tengah-tengah kebisingan konten lainnya.

Bersamaan dengan itu hadirlah sebuah stasiun radio kecil independen yang didedikasikan khusus untuk membawakan musik rock terbaik yang dapat diperoleh. Semua dipilih dan dipilah oleh seorang kurator berpengalaman di satu tempat untuk dinikmati orang-orang yang menyukai musik rock seperti kita.

Pertanyaannya, stasiun radio mana yang paling sering kita dengarkan?

Sekarang jamannya Kurator Konten

Dalam pemasaran digital, konten boleh menjadi raja. Tapi tanpa distribusi yang tepat, konten seperti singa yang kehilangan gigi taringnya.

Media sosial adalah satu-satunya jalur yang paling cepat dan sangat efektif untuk mendistribusikan konten. Lebih dari 3 miliar orang terhubung melalui berbagai platform media sosial, yang semuanya memiliki kemampuan untuk membujuk orang lain melalui video, gambar dan kata-kata.

Kurator konten menjadi semakin penting dalam social media marketing yang kewalahan seperti saat ini. Itulah sebabnya setiap perusahaan dan bisnis harus mempertimbangkan kurasi (pemilihan dan pemilahan) sebagai bagian dari strategi content marketing mereka.

kurator konten,content curator,content curation,distribusi konten,pemasaran konten,strategi content marketing,pemasaran digital,digital marketing,social media marketing

Tidak ada definisi pasti tentang kurator konten. Namun bisa sedikit dijelaskan, kurasi konten adalah seni mencari, menyaring, dan mengemas ulang semua bentuk konten yang ada untuk dibagikan kepada khalayak tertentu untuk menambah nilai kehidupan mereka dan menghemat waktu mereka.

Deskripsi tugas Kurator Konten

Sekarang mari kita pecah definisi itu menjadi rincian tugas seorang Kurator Konten

  • Sumber: Kurator Konten harus menemukan konten yang relevan dengan niche-nya dan layak untuk dikuratori.
  • Penyaringan: Seperti menyortir menyortir gandum dari sekam, siapa pun dapat menemukan seember konten. Tetapi kurator konten menambahkan filter analisis manusia untuk memastikan mereka membagikan sesuatu yang berharga.
  • Pengemasan ulang: Konten yang dikuratori harus terlihat bagus. Kontennya harus menampilkan merek dengan baik, disajikan secara konsisten, mudah dinavigasi dan cukup menarik bagi audiens untuk mengklik ke konten aslinya.
  • Konten yang ada: Ini dapat berupa, artikel di blog, berita, video, buku, ulasan, podcast, musik, infografis, daftar, gambar – apa pun yang saat ini ada di internet, termasuk kontennya sendiri.
  • Audiens yang spesifik: Pastikan konten yang dikurasi memang ditujukan untuk melayani audiens tertentu.
  • Distribusi: Kurator konten dapat membagikan kontennya dengan beberapa cara. Di media sosial, di blog, situs web, YouTube, atau email newsletter. Atau gunakan kombinasi – apa pun yang berfungsi untuk audiens.
  • Nilai tambah: Ini adalah jantung dari kurasi konten. Kurator konten harus menempatkan kontennya dalam konteks yang sesuai dengan minat dan kehidupan audiens. Dalam bentuknya yang paling dasar, ini bisa berupa ringkasan konten untuk memungkinkan pembaca mendapatkan intisari dari materi pelajaran, tetapi harus berupa ringkasan asli yang dibuat kurator konten itu sendiri.
  • Menghemat waktu Audiens: Kurator konten harus mempersiapkan dan menyajikan konten yang mereka butuhkan dalam format yang mudah dicerna. Artinya ini menuntun audiens agar tidak perlu pergi menjelajahi web untuk menemukannya sendiri.

Perbedaan influencer dan content curator

Perbedaan utama antara influencer dan kurator konten terletak pada nilai keotentikannya. Influencer mendapatkan statusnya dengan menggambarkan gaya hidup yang sempurna – bukan oleh kualitas atau ketulusan rekomendasi atau dukungan mereka.

Sedangkan prinsip dasar dari seorang kurator konten adalah terutama tidak memihak, tidak terafiliasi, dan otentik dalam rekomendasinya. Mereka berbagi konten, cerita, dan produk yang mereka minati secara pribadi – bukan omong kosong yang mana mereka dibayar untuk mempromosikannya.

Di tengah milyaran konten yang membanjiri media sosial setiap detiknya, audiens tentu ingin bisa menemukan konten yang sesuai dengan selera mereka secara cepat dan efektif. Audiens ingin menemukan satu sumber terpercaya yang tahu cara menyaring suara berisik dan menyampaikan hal-hal yang penting saja.

Intinya  adalah, para penjaga gerbang (gate keeper) informasi digital telah berubah, dan konsumen semakin tertarik mengikuti para kurator dibandingkan para influencer.

2 Comments

  1. Pingback: Himam Miladi - Creative Content Writer

  2. Pingback: Strategi Social Media Marketing Yang Efektif - Creative Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *