3 Pelajaran Dari Kisah Hidup George R.R. Martin

Salah satu cara untuk mengusir rasa malas adalah dengan memotivasi diri kita. Baik itu motivasi internal, yakni keinginan yang kuat dan impian untuk bisa sukses, maupun motivasi eksternal. Berupa kisah sukses dari orang-orang yang sudah berhasil meraih mimpi dan mewujudkan kesuksesannya.

Dari sekian banyak kisah sukses penulis ternama, ada satu kisah menurut saya cukup menakjubkan. Yang bisa memberi kita 3 pelajaran bagaimana seorang penulis itu bisa menghasilkan sebuah karya yang mengguncangkan dunia.

Kisah Hidup George R.R. Martin

Pada tahun 1971, seorang penulis muda lulus dengan gelar Master di bidang Jurnalisme dari Universitas Northwestern. Dia menghabiskan 13 tahun pertama karirnya dengan menulis secara profesional dan mencari nafkah dari situ.

Tetapi apa yang dia lakukan selama itu belum menghasilkan kesuksesan. Namanya tidak dikenal banyak orang. Pada tahun 1983, dia merilis buku keempatnya, The Armageddon Rag.

Buku itu gagal total secara komersial. Tidak ada yang mau membaca, apalagi membelinya. Dalam kata-kata penulis sendiri, “Itu pada dasarnya menghancurkan karier saya sebagai seorang novelis pada saat itu.”

Tapi dia tidak putus asa. Dia bertekad untuk terus menulis demi mengasah keterampilan menulisnya. Cobaan demi cobaan menerpa jalan hidupnya. Satu kali dia mendapatkan pekerjaan menulis naskah di stasiun televisi CBS. Sayangnya, acara yang sudah dia tuliskan naskahnya itu dibatalkan.

Kemudian dia mendapatkan kesempatan menulis naskah untuk serial televisi ABC, tapi lagi-lagi dibatalkan penayangannya. Pada tahun 1991, setelah hampir satu dekade terombang-ambing dihempas berbagai kegagalan, dia memutuskan untuk mulai menulis fiksi lagi.

2 Juta Kata George R.R. Martin Yang Mengguncang Dunia

Momen yang ditunggu itu akhirnya datang juga. Dua juta kata kemudian, George R.R. Martin menjadi terkenal sebagai salah satu novelis dunia terlaris. Namanya disejajarkan dengan JK. Rowling dan J.R.R. Tolkien yang sama-sama menulis novel laris bergenre fantasi.

George R.R Martin adalah penulis dari serial fantasi A Song of Ice and Fire. Buku pertama dalam seri ini, A Game of Thrones, juga telah diadaptasi menjadi serial televisi blockbuster di HBO. Nama George R.R. Martin kian menjulang manakala di musim pertamanya A Game of Thrones dinominasikan dalam 13 kategori di Emmy Award.

Serial fantasi yang epik ini pada dasarnya belum selesai karena saat ini Martin masih mengerjakan buku keenam dan ketujuh. Meskipun begitu, kelima seri sebelumnya sudah terjual lebih dari 25 juta kopi.

Ada beberapa penulis lain yang mungkin telah meraih kesuksesan lebih besar dari George Martin. Tapi yang membuat kisah hidup George R.R. Martin istimewa adalah bukan tentang seberapa bagus buku-bukunya, tetapi bagaimana, atau lebih tepatnya dengan cara apa dia menuliskan karya terlarisnya itu.

Menulis Buku Best Seller Hanya dengan Program Wordstar

Dari kelima seri buku yang sudah dicetak dan dijual, secara total George Martin sudah menulis hampir 2 juta kata.

  • Buku  1: A Game of Thrones – 298,000 kata
  • Buku 2: A Clash of Kings – 326,000 kata
  • Buku 3: A Storm of Swords – 424,000 kata
  • Buku 4: A Feast for Crows – 300,000 kata
  • Buku 5: A Dance with Dragons – 422,000 kata

Totalnya 1,770,000 kata. Tidak percaya? Coba hitung sendiri jumlah kata di buku-buku tersebut dalam versi bahasa aslinya. Jika ditambahkan buku ke-6 dan ke-7 mungkin sudah melebihi 2 juta kata.

Sekali lagi, bukan kualitas atau kuantitas kata yang membuat George Martin istimewa, melainkan dengan apa dia menulisnya. Kelima seri buku tersebut ditulis Martin dengan sebuah program yang saat ini mungkin terdengar aneh dan tidak lagi dikenal orang; Wordstar.

Bagi generasi tahun ’80 dan ’90-an, tentu masih ingat bagaimana tampilan layar dari program Wordstar bukan? Seperti ini:

wordstar,program wordstar,george r.r. martin,kisah hidup george r.r. martin,game of thrones,song of ice and fire,buku george r.r. martin,3 pelajaran dari kisah hidup george r.r. martin, buku a game of thrones

Ketika praktikum komputer jaman SMA dulu, saya sendiri masih kesulitan bagaimana cara menjalankan program ini. Mulai dari membuka file, membuat file baru, hingga menyimpannya dalam disket lebar. Seandainya disuruh mengetik lagi di Wordstar, lebih baik saya menyerah dan mengaku kalah. Apalagi bagi generasi sekarang yang lebih familiar dengan MS Word.

Tapi bagi Martin, Wordstar-lah yang menjadi penolongnya hingga ia bisa meraih kesuksesan seperti ini.

“Saya masih menuliskan semua tulisan saya pada mesin DOS lama yang menjalankan WordStar 4.0,” kata Martin.

Selain menulis dengan Wordstar, satu hal lagi yang membuat George Martin istimewa adalah kemauannya untuk tidak diganggu oleh yang namanya internet dan media sosial!

 “Saya tidak (ada) di Facebook. Saya tidak (ada) di Twitter. Saya tidak akan membahas hal baru berikutnya, yang membuat Facebook dan Twitter sama usangnya dengan GEnie dan CompuServe dan The Source, komunitas-komunitas tenang di masa lalu, ” lanjut Martin.

3 Pelajaran Dari Kisah Hidup George R.R. Martin

Dari sepenggal kisah hidup George R.R. Martin tersebut, ada 3 pelajaran yang bisa kita petik:

Konsistensi.

Martin adalah seorang penulis yang bekerja selama dua puluh tahun sebelum ia duduk untuk menulis A Game of Thrones. Dia menulis naskah pertunjukan yang dibatalkan dan mendapati dirinya tanpa pekerjaan beberapa tahun lamanya.

Dia menulis buku-buku di awal karirnya, tapi semuanya gagal secara komersial. Tetapi hal itu tidak mematahkan konsistensinya dalam menulis. Setiap kali gagal, dia menulis, begitu seterusnya.

Bahkan seandainya serial A Song of Ice and Fire juga tidak berhasil mengangkat namanya, saya percaya Martin akan terus menulis. Martin tidak hanya konsisten menulis saat dia masih gagal atau mulai menemui kesuksesan. Martin hanya konsisten pada tulisan, itu saja.

Kesabaran.

Setiap orang tentunya ingin mencapai kesuksesan secepat mungkin. Seandainya bisa, kesuksesan dan ketenaran itu diraih saat karya pertamanya diluncurkan. Saya yakin George Martin pun begitu. George Martin juga ingin buku pertamanya langsung terjual 25 juta kopi, dan tidak harus menunggu selama 20 tahun dengan berganti-ganti pekerjaan. Semua penulis memiliki mimpi yang sama seperti itu.

Yang membedakan kisah hidup George R.R. Martin dengan kebanyakan penulis lain termasuk kita adalah, dia tidak membiarkan obsesi untuk sukses dalam semalam menggagalkan komitmennya, menggagalkan konsistensinya dalam menulis setiap hari. Secara tersirat, George Martin memberi pelajaran bahwa pertunjukan kesabaran terbesar itu terdapat dalam komitmen berkelanjutan pada suatu proses ketika kita belum diberi imbalan.

Fokus.

Martin menulis di komputer tanpa internet, tanpa media sosial, tanpa aplikasi atau gangguan apapun. Bagi Martin, komputernya sudah dapat melakukan satu hal yang sangat penting baginya: mengetik kata-kata. Dan mengetik kata-kata adalah keahliannya. Itulah yang perlu ia ciptakan. Martin 100 persen fokus untuk melakukan pekerjaan yang penting dan dia telah sepenuhnya menghilangkan segala sesuatu yang menghambat tujuannya tersebut.

wordstar,program wordstar,george r.r. martin,kisah hidup george r.r. martin,game of thrones,song of ice and fire,buku george r.r. martin,3 pelajaran dari kisah hidup george r.r. martin, buku a game of thrones

***

Rasanya sulit sekali bagi kita generasi sekarang ini untuk meniru cara kerja dari kisah hidup George R.R. Martin. Kita selalu berpikir bawah kita perlu lebih banyak sumber daya untuk bisa meraih kesuksesan.

Kita cenderung ingin dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang bisa memudahkan pekerjaan kita. Komputer atau gawai yang canggih. Perangkat lunak atau aplikasi yang user friendly. Internet untuk berinteraksi maupun mencari sumber referensi.

Tapi, benarkah untuk meraih kesuksesan yang kita inginkan itu harus dengan sumber daya yang melimpah? Alih-alih bisa konsisten, sabar dan fokus seperti George Martin, jangan-jangan itu semua malah akan membuat kita terlena.

Mungkin yang benar-benar kita butuhkan adalah lebih sedikit gangguan dan lebih banyak fokus pada pekerjaan kita. Menghilangkan gangguan, bukan mengumpulkan sumber daya adalah cara terbaik untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki.

Hidup pasti berubah, seringnya ke arah yang tidak kita perkirakan. Kalau mau menyerah sekarang tidak masalah, tapi kita tidak tahu sudah sedekat apa kita dengan keberhasilan.

Tulisan ini sudah dimuat di Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *