Pelajaran Dari Kisah Bisnis Ingvar Kamprad

Setiap orang yang suka menulis ingin menerbitkan buku. Siapa sih yang tidak ingin namanya dikenang banyak orang, tercetak dalam sebuah buku yang bisa terjual jutaan eksemplar? Penulis mana yang tidak ingin mencapai prestasi puncak seperti yang sudah dilakukan banyak penulis dunia layaknya J.K Rowling (Fiksi) atau Michael.H. Hart (non fiksi) yang bukunya diterjemahkan dalam berbagai bahasa?

Tidak terkecuali saya. Mimpi dan harapan seperti itu bersemayam dalam periuk asa yang setiap hari saya beri api kehidupan.

Ya, memang sekarang lagi tren penerbitan mandiri (self-publishing). Banyak pula penerbit-penerbit indie yang memfasilitasi penerbitan mandiri dengan biaya yang murah.

Hanya saja, gara-gara saya membaca sebuah cerita inspirasi dari kisah hidup seorang pebisnis dunia, rencana saya untuk menerbitkan buku itu saya tunda dulu. Cerita itu memberi pelajaran pada saya, bahwa saya harus belajar menulis lebih baik dulu, sebelum mencetak kesuksesan dalam hal menerbitkan buku.

Kisah Bisnis Ingvar Kamprad

Cerita ini dimulai di kota Almhult, sebuah kota kecil di Swedia selatan, pada tahun 1940-an. Seorang anak lelaki yang tumbuh berkembang di kota itu tengah asyik dengan proyek sederhananya. Dia tengah mengembangkan sebuah rencana, apabila dia membeli kotak korek api dalam jumlah besar dari Stockholm, yang berjarak beberapa jam dari kota kecilnya, dia bisa mendapatkan harga yang murah. Jika dia menjualnya kembali di Almhult dengan harga yang wajar, tentu dia akan mendapat keuntungan yang bagus.

Tak lama kemudian, anak itu menjalankan rencananya. Dia mengendarai sepeda berkeliling kota dan menjual korek api satu per satu kepada siapa pun yang membutuhkannya.

Begitu korek api mulai laku, anak itu lalu memperluas operasi pemasarannya yang mungil. Tidak lama kemudian, dia menambahkan hiasan natal, ikan, biji-bijian, pulpen dan pensil. Beberapa tahun kemudian, anak tersebut mulai menjual furnitur.

Nama bocah lelaki itu adalah Ingvar Kamprad, dan ketika berusia tujuh belas tahun, dia memberi nama bisnisnya itu IKEA. Pada 2013, IKEA menghasilkan lebih dari $ 37 miliar dolar.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah bisnis Ingvar Kamprad tersebut?

Pelajaran yang saya dapat dari kisah hidup ini adalah; Ingvar Kamprad fokus pada mendapatkan bisnis yang baik sebelum dia mencoba menjadi besar di bisnisnya tersebut.

ingvar kamprad,kisah bisnis ingvar kamprad,ingvar kamprad dan ikea,ingvar kamprad pendiri ikea,bisnis ikea,pelajaran dari kisah bisnis ingvar kamprad,kisah hidup ingvar kamprad
fakta tentang Ingvar Kamprad dan IKEA

Kita hidup dalam masyarakat yang menghargai keterampilan, tetapi semua orang terobsesi dengan hasil. Memang mudah untuk fokus pada impian membangun bisnis yang sukses. Pengusaha mana yang tidak punya keinginan untuk memiliki bisnis yang bisa menghasilkan $37 miliar dolar setiap tahunnya?

Tapi jarang sekali ada yang fokus pada bagaimana mengembangkan keterampilan yang berharga dari diri kita. Kisah bisnis Ingvar Kamprad mengajari saya tentang hal ini.

Dia mulai dengan membangun keahliannya. Dia mulai dengan menjual satu buku korek api sekaligus. Dia fokus pada masalah kecil dan kemudian mengembangkan keterampilan penjualan yang dia miliki dan untuk memecahkan masalah yang lebih besar.

Semua orang tentunya memiliki obsesi IKEA masing-masing; menjadi lebih besar dari yang mereka alami saat ini. Fotografer pemula ingin hasil jepretannya bisa segera dipublikasikan di majalah National Geographic atau memenangkan kontes foto besar, bukan belajar memotret dalam ketidakjelasan relatif saat berusaha menguasai keahliannya.

Pemain basket muda ingin berada di lineup awal, bukan berusaha menjadi dribbler terbaik di tim. Penulis baru ingin segera menerbitkan buku yang bisa terjual jutaan kopi dan masuk daftar best-seller, bukan berusaha menjadi ahli prosa terlebih dahulu.

Fokus mengembangkan keterampilan menulis, baru bermimpi menerbitkan buku

Saat menelusuri toko buku atau perpustakaan digital, saya banyak menjumpai buku-buku hasil karya penulis-penulis muda. Terutama yang bergenre fiksi. Anak perempuan saya sendiri juga suka membaca cerita-cerita dari anak-anak seusianya dalam buku Kecil-Kecil Punya Karya.

Terus terang, saya merasa salut dan memberi apresiasi yang besar pada penulis-penulis muda itu. Sepertinya sayalah yang harus belajar banyak pada mereka. Tentang keberanian, tekad yang kuat, dan terlebih lagi keterampilan mengolah kata.

Karena itulah, meskipun banyak teman yang mendorong untuk menerbitkan buku, banyak teman yang mengatakan sudah ribuan artikel yang saya terbitkan, hingga saat ini rencana untuk menerbitkan buku itu belum juga terealisasi.

Mimpi saya sudah berubah. Mimpi saya tak lagi ingin menerbitkan buku yang best seller atau judulnya masuk dalam daftar pustaka.

Sekarang saya bermimpi bagaimana bisa mengikuti kisah bisnis Ingvar Kamprad; Fokus untuk belajar menulis lebih baik sebelum mengkhawatirkan bagaimana mimpi berikutnya, yakni menerbitkan buku terbaik.

Tulisan ini sudah diterbitkan di Kompasiana.

One Comment

  1. Pingback: Tips untuk Fresh Graduate Saat Pandemi Covid-19 | Penulis Konten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *