Kata Ajaib yang Bisa Membuat Tulisanmu Lebih Hidup

Bayangkan situasinya seperti ini:

Ketika kamu sedang berbicara di depan banyak orang, atau sedang menjadi pemateri sebuah pelatihan, perhatian para peserta teralihkan. Ada yang mengantuk, ada yang sibuk bermain handphone, ada yang asyik ngobrol sendiri. Bagaimana caramu supaya perhatian mereka bisa kembali? Apa yang kamu lakukan supaya mereka bisa memperhatikanmu lagi?

Kata Ajaib Untuk Menghidupkan Suasana

Kamu mungkin bisa mengandalkan lelucon atau humor supaya peserta tetap terjaga dan tidak suntuk dengan materi pelatihan.  Bagaimana bila kamu bukan tipe orang yang bisa melucu? Humoris sih iya, tapi kamu tidak bisa melontarkan lelucon secara spontan.

Bila sudah terdesak seperti itu, coba gunakan cara ajaib berikut ini. Sebuah cara dengan menggunakan kata ajaib agar perhatian peserta bisa sepenuhnya kembali padamu. Agar mereka paham apa yang kamu bicarakan.

Cara ajaib tersebut adalah dengan memberi contoh, dan kata ajaibnya adalah:

“Misalnya…”

“Contohnya seperti ini…”

“Sebagai contoh…”

Dan kata-kata ini juga bisa berfungsi seperti sihir dalam tulisan kita.

Mengapa Kata-Kata Ini Bekerja Seperti Sihir?

Setiap kali kita membahas konsep yang abstrak atau rumit, perhatian pembaca mulai berkurang. Istilah teknis yang kita gunakan memperlambat ritme bacaan sampai pada kecepatan seekor siput. Pembaca mulai berjuang untuk memahami apa yang sedang kita coba jelaskan dan mungkin menyerah untuk menyelesaikan bacaan mereka.

Lagi pula, tidak ada yang senang membaca artikel non fiksi yang sepertinya keluar dari buku teks kuliah yang padat. Tetapi dengan menggunakan kata-kata “misalnya, contohnya” dan menghasilkan cerita yang cerdik untuk mengilustrasikan konsep yang rumit, kita dapat menyeret tulisan keluar dari awan ke dunia nyata. Dengan begitu, pembaca dapat memvisualisasikan konsep yang kita jabarkan.

Fakta Ilmiah Tentang Kata Ajaib Ini

Salah satu alasan mengapa buku fiksi bisa lebih laris dan diminati pembaca dibandingkan buku non fiksi adalah karena cerita melibatkan otak seseorang jauh lebih kuat daripada kumpulan data dan bahasa abstrak. Para peneliti telah lama mengetahui bahwa wilayah bahasa ‘klasik’ dari otak kita, seperti daerah Broca dan daerah Wernicke, terlibat dalam bagaimana otak mengartikan kata-kata tertulis. Apa yang disadari oleh para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir adalah bahwa narasi/cerita mengaktifkan banyak bagian otak kita juga.

Misalnya, ketika kita membaca sebuah cerita tentang seseorang yang berlari, ada aktivitas di korteks motorik otak kita. Itu artinya, apakah kita membaca tentang seseorang yang berlari atau melihat orang berlari dalam kehidupan nyata, “daerah neurologis yang sama distimulasi”.

Pada dasarnya, ketika kita mulai bercerita, otak pembaca akan menaruh perhatian dan terlibat kembali dalam tulisan. Semakin rinci dan deskriptif bahasa yang kita gunakan, semakin baik.

Ketika kita memberi tahu pembaca tentang air mata yang menyengat mata seseorang, otak mereka mencoba merasakannya. Ketika kita memberi tahu mereka tentang aroma kue nastar yang berembus dari dapur, otak mereka juga mencoba mencium baunya.

Pada akhirnya, dengan memberi contoh atau ilustrasi berupa sebuah cerita, kita tidak hanya akan membuat tulisan jadi lebih menarik dan lebih mudah dipahami, tetapi juga membuat tulisan kita jadi lebih berkesan. Menurut artikel di Forbes, “Psikolog kognitif Jerome Bruner mengatakan, kita 22 kali lebih mungkin untuk mengingat fakta ketika itu telah dibungkus dalam sebuah cerita.”

Jadi, bagaimana menggunakan kata ajaib ini dalam tulisan kita?

Pertama, lihatlah tulisan kita pada paragraf yang padat atau abstrak atau sangat teknis. Di mana pun dimungkinkan untuk menyertakan contoh tertentu, sertakanlah.

Misalnya, ada sebuah paragraf yang sangat teknis:

Ekonom menggunakan istilah keunggulan komparatif untuk menggambarkan keterampilan seseorang dalam menghasilkan barang atau jasa dengan biaya marjinal dan biaya peluang yang lebih rendah daripada orang lain.

Jika artikel itu ditujukan pada pembaca umum, mereka tentu akan kebingungan dengan bagian paragraf tersebut. Untuk membantu mereka, kita bisa menggunakan cara ajaib ini dengan menambahkan bagian yang menjelaskan konsep teknis dengan ilustrasi yang sangat singkat dan sederhana:

Ambil contoh seorang blogger dan asisten virtualnya. Blogger itu sama terampilnya dengan asisten virtualnya dalam menanggapi email. Tetapi ketika blogger itu menanggapi email sendiri, ini menghabiskan waktu berharga yang seharusnya bisa ia gunakan untuk membuat artikel di blog. Dengan demikian, biaya peluangnya lebih besar daripada asisten virtual ketika harus si asisten itu membalas email …

Seperti yang kita lihat diatas, istilah teknis yang membingungkan bisa kita perjelas dengan ilustrasi yang tepat, dengan menggunakan kata ajaib,” Ambil contoh”. Dan beruntung sekali kita menggunakan Bahasa Indonesia, karena kekayaan kosakatanya, kita bisa menggunakan banyak diksi dan frasa yang maknanya serupa: Ambil contoh, Misalnya, Seperti, Sebagai contoh, Ini berarti, dan beberapa padanan kata yang lainnya.

kata ajaib, kata ajaib untuk membuat tulisan lebih hidup,kata ajaib supaya tulisanmu lebih hidup,cara ajaib,kata ajaib dalam artikel,kata ajaib dalam tulisan

Akhirnya, karena sudah menjadi kebiasaan memasukkan cerita untuk mengilustrasikan poin teknis yang butuh penjelasan, kita bisa langsung masuk ke dalam cerita tanpa menggunakan kata-kata “misalnya.”

Cara Ajaib Lainnya Untuk Membuat Tulisan Lebih Hidup

Selain menggunakan kata-kata ajaib tersebut, ada satu cara ajaib lainnya. Kita bisa menggunakan ilustrasi atau narasi cerita untuk menghilangkan kalimat yang kabur dan hambar.

Misalnya (Nah kan, saya menggunakan kata itu lagi) alih-alih menulis “Beberapa hari ini saya menderita writer’s block yang sangat parah. Tidak ada inspirasi sama sekali, dan tidak tahu harus menulis apa”. Paragraf tersebut bisa kita ceritakan dalam bentuk sebuah kisah:

Jarum jam masih menunjukkan pukul 6:00 pagi. Masih ada beberapa jam bagi saya untuk menulis tanpa gangguan sebelum berangkat kerja. Banyak penulis profesional yang mengatakan bahwa menulis di pagi hari adalah pengalaman ajaib. Tapi belakangan ini rasanya jauh berbeda dengan apa yang dirasakan para penulis profesional itu. Sejauh ini yang berhasil saya capai dalam setengah jam terakhir hanya menulis ulang paragraf yang sama sekitar seratus kali sebelum saya menghapusnya dalam jumlah yang sama.

Nah, sekarang bandingkan sendiri, mana yang lebih berkesan?

Cara ajaib ini lebih efektif digunakan pada artikel yang ditujukan pada pembaca umum. Itu sebabnya sebuah artikel untuk umum yang isinya tentang penemuan obat untuk Alzheimer ketika diceritakan dengan kisah-kisah penderita Alzheimer dan keluarga mereka, bisa memberi kesan jauh lebih kuat daripada artikel yang hanya mengutip studi dan isinya berisi data statistik. Kisah-kisah itu akan lebih memengaruhi pembaca daripada yang bisa dilakukan oleh hasil penelitian mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *