Tips Menggunakan Jasa Buzzer Yang Efektif


Selain melahirkan Influencer, media sosial juga menciptakan Buzzer. Sama seperti influencer, buzzer adalah predikat untuk pengguna media sosial tertentu. 

Pengertian Buzzer

Istilah Buzzer berasal dari kata dasar “Buzz” yang artinya percakapan atau pembicaraan. Kata “Buzz” juga bisa diartikan sebagai dengungan, seperti seekor lebah yang mendengung. Itulah sebabnya buzzer kerap diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “pendengung”.

Jadi, Buzzer adalah orang yang diharapkan dapat membuat sebuah topik tertentu menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Buzzer diharapkan bisa mendengungkan tema-tema yang diinginkan agar dapat menarik perhatian pengguna media sosial. Singkatnya, tugas Buzzer adalah membuat sebuah kata kunci tertentu menjadi trending topic di dunia maya dan dibicarakan orang di dunia nyata.

Karena dilahirkan media sosial, Buzzer, sebagaimana Influencer, dianggap sebagai salah satu alat social media marketing yang efektif. Bedanya, jika Influencer identik dengan platform media sosial Instagram atau YouTube, maka Buzzer identik dengan Twitter.

Cara Kerja Jasa Buzzer

Banyak yang menganggap kekuatan Buzzer terletak pada jumlah follower-nya, seperti yang diukur pada Influencer. Tetapi, sebenarnya tidak berhenti sampai di situ. Seorang buzzer harus memiliki kemampuan membangun buzz (percakapan). Sedangkan jumlah follower yang banyak adalah nilai tambah buat si buzzer tersebut.

 Sayangnya, banyak perusahaan atau brand dan agensi yang saat menggunakan jasa Buzzer masih terjebak pada ukuran jumlah follower.  Aturan tidak tertulis dalam menggunakan jasa buzzer pada saat ini memang masih dihitung dari tweet berisikan pesan yang diinginkan. Dengan kata lain, seorang buzzer kerap dibayar dari jumlah tweet yang diminta oleh perusahaan/brand/agensi yang menggunakan jasa mereka.

Ukuran success rate-nya dilihat dari jumlah tweet yang di-retweet. Dengan mendasarkan pada jumlah followernya, klien bisa mengukur seberapa jauh pesan yang mereka inginkan bisa menjangkau audiens dengan melihat hitungan jumlah retweet tersebut. Artinya, makin banyak yang me-retweet, makin luas pula jangkauannya/nilai reachment-nya.

Salah paham mengartikan kinerja Buzzer

Namun, karena terjebak dalam metrik jumlah follower, banyak perusahaan/brand/agensi yang saya nilai kurang cerdas dalam merekrut atau menggunakan jasa follower. Asal memiliki jumlah follower yang banyak, seseorang dianggap sebagai buzzer dan dianggap potensial untuk mem-viralkan kampanye/pesan.

Alhasil, tidak jarang dalam sebuah acara yang dihelat perusahaan/brand tujuannya menjadi berbelok tajam. Dari yang semestinya  bisa membangun keterlibatan komunitas (Community Engangement) menjadi ajang kumpul-kumpul saja. Nilai keterlibatannya hilang karena, yah mau bagaimana lagi, yang datang orang-orang itu juga sehingga pesan yang mau diangkat kurang tersampaikan. Yang penting acaranya ramai, itu sudah. Sehingga, ketika para “buzzer” ini mengangkat tema/kata kunci yang diinginkan klien, nilai dari pesan yang ingin disampaikan terasa hampa.

Benar, buzzer yang direkrut mungkin bisa membuat kata kunci atau tagar yang diinginkan menjadi trending topic. Tapi, apakah pesan dari tagar tersebut bisa ditangkap audiens?

tips menggunakan jasa buzzer,jasa buzzer,jasa buzzer instagram,jasa buzzer twitter,jasa buzzer politik,jasa buzzer adalah,apa itu jasa buzzer,pengertian buzzer,buzzer adalah,jasa buzzer facebook

Saat para buzzer membanjiri linimasa media sosial mereka dengan narasi-narasi hardselling, hal ini justru membuat follower menjadi bosan. Memangnya siapa sih yang suka dihujani iklan terus menerus?

Ujung-ujungnya, si buzzer bisa kehilangan followernya. Dan yang lebih ngeri lagi, hujan kampanye iklan tanpa pandang bulu seperti ini bisa membuat imej perusahaan/brand menjadi buruk. Harus diingat, berita buruk di media sosial itu menyebar dengan sangat cepat.

Pengguna jasa buzzer di Indonesia jarang ada yang mau selektif memilih buzzernya. Sekali lagi, jumlah follower adalah syarat mutlak yang mereka inginkan.

Gunakan Jasa Buzzer berdasarkan ketertarikannya

Idealnya, perusahaan/brand yang menggunakan jasa buzzer juga harus melihat aktivitas media sosial si buzzer. Apakah keseharian postingan mereka cocok dengan nilai pesan yang ingin disampaikan? Karena tidak selektif itulah, akhirnya memunculkan buzzer serba bisa. 

Sehari-hari, si buzzer aslinya tidak menaruh perhatian dengan topik tertentu. Tapi ketika mereka mendapat job untuk ngebuzz, topik apa saja dihajar. Rejeki pantang ditolak kata mereka. Kategori lifestyle iya, kategori beauty iya, topik teknologi bisa, kesehatan tak masalah. Pokoknya tanggung beres, dari A-Z, fleksibel saja.

Di salah satu grup WA, seorang teman memposting lowongan untuk Buzzer, dengan syarat profil kesehariannya atau aktivitas postingan media sosialnya sebagian besar seputar kesehatan (Health Enthusiast). Ada pula sebuah brand minyak goreng yang meminta kehadiran buzzer di acara mereka, dengan syarat dia adalah Cooking Enthusiast. Sontak, beberapa buzzer (yang kadang merangkap blogger) di grup WA mengeluh, “Yah, gak bisa ikut dong”.

Lho, justru seperti inilah seharusnya perusahaan/brand itu merekrut buzzer untuk kampanye produk/acara mereka. Bukan asal lihat jumlah followernya.

Perusahaan/brand yang cerdas memilih buzzer berdasarkan ketertarikan mereka. Sehingga saat memposting pesan, apa yang disampaikan tidak akan terlalu jauh dari kehidupan media sosialnya.

Bayangkan saja, linimasa seorang buzzer pada satu hari penuh dengan topik tentang keunggulan sebuah merek laptop. Tiba-tiba di hari berikutnya (kadang malah dalam hitungan jam) dia bicara masalah kesehatan. Kira-kira nyambung gak? Audiens bisa menangkap pesan dari si buzzer gak?

Buzzer dituntut untuk specialist

Jarang sekali ada perusahaan atau brand yang melihat secara personal bahwa buzzer x begitu ahli di bidang x,y,z. Berbeda dengan blogger yang mungkin bisa menjadi generalis, bisa menulis artikel tema apapun juga. Seorang buzzer (juga influencer) dituntut untuk specialist. Dengan begitu, mereka bisa membangun percakapan dan membuat produk/kampanye dari perusahaan/brand bisa jadi bahan pembicaraan dan terdistribusi secara viral.

Efektivitas Buzzer dilihat dari kemampuannya membangun percakapan di dunia maya dan memiliki impact di dunia nyata. Banyaknya jumlah follower akan menjadi percuma jika Buzzer tidak bisa membuat topik yang diinginkan dibicarakan banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *