Jangan Terlalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Membandingkan Diri Dengan Orang Lain adalah Kebodohan

Kebanyakan kita selalu membandingkan apa yang baru kita kerjakan di awal dengan apa yang sudah dihasilkan orang lain saat mereka sudah mencapai kesuksesan. Akhirnya, yang kita dapatkan hanya perasaan rendah diri.

Apalagi kita hidup di dunia di mana mudah sekali bagi seseorang untuk membandingkan diri dengan orang lain. Pikirkan ‘budaya suka’ yang dibuat oleh situs media sosial. Ketika harga diri ditentukan oleh jumlah interaksi yang didapatkan pada foto, gambar atau pembaruan status.

Membandingkan diri kita dengan orang lain adalah wajar. Bagaimana lagi kita bisa memisahkan diri, dan menilai seberapa baik kita dalam hidup? Ini juga merupakan pendorong utama dalam banyak kegiatan sehat seperti olahraga, pendidikan, dan karier.

Masalahnya adalah kita mengambil ini terlalu jauh. Media sosial mendorong kita untuk masuk dalam perangkap bagaimana kita membandingkan diri kita dengan orang lain.

Kita tidak memasang foto yang buruk atau menulis hal-hal yang memalukan diri kita di Instagram atau Facebook. Kita hanya menampilkan yang terbaik yang bisa kita tawarkan.

Membandingkan Diri Membuat Kita Takut Jadi Pemula

Saat saya pertama kali menulis, baik di blog pribadi atau di Kompasiana, saya pernah “takut menjadi pemula”. Saya membandingkan artikel saya dengan artikel lain yang mendapat banyak komentar dan penilaian.

Akibatnya, rasa rendah diri itu muncul. Saya merasa setiap artikel yang saya tulis adalah sampah. Rasanya seperti terjebak dalam tubuh anak TK yang baru belajar menulis.

Setelah lama merenungkan kembali awal perjalanan karir saya di dunia penulisan tersebut, saya sadar betapa bodohnya saya ketika itu. Saya menyadari akar masalah dari pemikiran negatif ini adalah bahwa saya membandingkan diri dengan orang yang memiliki lintasan hidup yang sama sekali berbeda dari saya.

Tentu saja artikel mereka mendapat banyak interaksi, karena mereka sudah ahli. Mereka memiliki keterampilan dan alat yang luar biasa untuk menulis karya yang indah. Mereka mendapatkan itu semua dari waktu mereka menjadi pemula hingga menjadi ahli seperti sekarang ini.

Jika Ingin Menjadi Ahli, Jangan Takut Jadi Pemula

Orang-orang ini, yang telah menulis selama bertahun-tahun, jelas akan lebih berbakat daripada saya. Di saat saya baru menulis 5 artikel, mereka sudah menulis ratusan artikel. Di saat saya baru meniti karir selama 5 bulan, mereka sudah berada di jalan yang sama jauh lebih lama.

membandingkan diri sendiri,berhenti membandingkan diri,jangan terlalu membandingkan diri dengan orang lain,membandingkan diri dengan orang lain,membandingkan diri dengan yang lain,membandingkan diri

Mereka yang sekarang ahli, dulunya adalah seorang pemula. Mereka dulunya seorang pemula yang menolak untuk menyerah.

Tidak ada seorang pun yang terlahir dengan bakat langsung mengetahui cara menulis yang baik, atau bagaimana memasak berbagai jenis masakan. Keterampilan ini harus dipelajari, dan seringkali memakan waktu yang lama.

Faktanya adalah, jika kita ingin menjadi ahli dalam sesuatu, kita harus menjadi pemula terlebih dahulu. Tidak ada jalan lain.

Lebih Baik Membandingkan Diri dengan Proyeksi Masa Depan

Jangan pernah malu untuk menjadi pemula, atau berada dalam posisi saat ini. Kelak, kita pun bisa menjadi ahli seperti mereka. Caranya adalah dengan membandingkan diri sendiri, posisi kita saat ini dengan proyeksi diri kita di masa depan.

Saya ingin melihat diri saya sendiri, melihat di mana saya ingin berada, dan membuat rencana untuk membawa saya ke titik itu. Saya dapat mengambil kiat dan melihat bagaimana orang lain mendapatkan tempat di mana mereka berada, tetapi saya tidak akan menjadi mereka.

Saya akan selalu menjadi saya, dan saya akan selalu berada di jalan saya sendiri. Jadi jika kita ingin menjadi seorang fotografer, penulis, atau meniti karir dan profesi yang lain, kita hanya perlu membandingkan diri kita dengan masa depan kita dan mencari tahu apa yang perlu kita lakukan untuk sampai ke sana.

Lebih baik tidak tahu apa-apa di awal dan akhirnya menjadi ahli daripada tetap tidak tahu apa-apa karena kita malu untuk memulai di awal. Milikilah keberanian untuk mencoba hal-hal baru, bahkan seandainya kita tidak tahu apa yang kita lakukan pada awalnya. Percayalah, pada akhirnya kita akan kagum dengan seberapa jauh kita sudah melangkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *