Gunakan Kata yang Populer Daripada Membingungkan Pembaca

Kamu lebih suka yang mana, menggunakan kata daring alih-alih online? Lebih familiar mana, mengucapkan kata browsing atau meramban?

Atau, pernahkah kamu mendengar kata “jenama”? Jika bukan karena artikelnya Pak Bambang Trim di Kompasiana, mungkin saya tidak akan kenal istilah ini. Menurut KBBI, jenama berarti merek, jenis. Istilah asing populernya adalah brand.

Kudet ya? Sudah sekian lama menulis, membaca, ternyata baru sekarang saya tahu ada istilah ini. Tapi saya yakin, banyak penulis, apalagi orang awam yang tidak kenal dan tidak mengerti istilah jenama.

Apakah Wajib Hukumnya Menggunakan Kata Baku?

Pengalaman saya ini menunjukkan bahwa banyak istilah dalam bahasa Indonesia yang dimaksudkan untuk mengganti istilah atau kata yang populer ternyata belum tersosialisasi dengan baik. Masyarakat tidak familiar untuk mengucapkan, atau merasa asing saat mendengarnya.

Saya dulu sempat berpikir dan bertanya, mengapa kata yang populer digunakan masyarakat itu harus dialihbahasakan dengan kata yang malah membingungkan pembaca? Apakah wajib hukumnya, dalam hal penulisan atau dalam dunia literasi, frasa atau kata yang populer diganti dengan kata yang baku menurut KBBI?

Hal ini pernah saya tanyakan saat mengikuti sebuah bimbingan teknis yang diadakan Kemdikbud beberapa waktu lalu. Menurut pemateri, dosen Bahasa Indonesia dari Unair, tidak ada kewajiban untuk mengganti kata-kata asing yang populer dengan kata serapan atau kata baku yang sudah “direstui” KBBI.

kata baku,kbbi,penyerapan bahasa asing,ragam bahasa,kata yang populer,artikel populer,

Kita bisa menggunakan istilah asing, kata yang populer atau tidak sepanjang mengikuti syarat dan kaidah penulisan yang berlaku. Dalam buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (2003) dijelaskan bahwa huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Ini untuk membedakan kata tersebut berasal dari luar, bukan kata baku atau serapan yang telah disesuaikan ejaannya.

Proses Adopsi dan Adaptasi Kata Asing

Ada sebuah paradoks tersendiri menyangkut pemakaian istilah asing dan kata serapannya dalam Bahasa Indonesia. Dulu, masyarakat belum terbiasa atau belum banyak yang mengerti dengan kata-kata yang asing. Tapi sekarang terbalik keadaannya. Masyarakat lebih familiar dengan istilah asing daripada istilah serapan yang telah disesuaikan ejaannya.

Jika dulu untuk menggunakan istilah asing harus dijelaskan artinya dengan kata dalam kurung, sekarang justru istilah serapan itulah yang harus dijelaskan apa persamaannya dalam kata baku bahasa Indonesia.

Padahal dalam penyerapan bahasa asing, ada proses yang disebut adopsi dan adaptasi. Proses adopsi adalah proses terserapnya bahasa asing karena pemakai bahasa tersebut mengambil kata asing yang memiliki makna sama secara keseluruhan tanpa mengubah lafal atau ejaan dengan bahasa Indonesia. Contohnya adalah Supermarket.

Sementara proses adaptasi adalah proses diserapnya bahasa asing akibat pemakai bahasa mengambil kata bahasa asing, tetapi ejaan atau cara penulisannya berbeda dan disesuaikan dengan aturan bahasa Indonesia. Contohnya adalah opsi (dari kata option).

Tidak Semua Kata yang Populer Diadopsi dalam Bahasa Indonesia

Lantas, mengapa ada beberapa kata dari bahasa asing yang dalam penyerapannya berubah menjadi kata yang sangat tidak populer? Mengapa tidak diadopsi langsung begitu saja?

Saya ambil contoh kata daring (online), luring (offline) atau jenama (brand). Daring, menurut etimologinya adalah akronim dari “dalam jaringan”, sementara “luring” adalah akronim dari “luar jaringan”. Penggantian kata online menjadi daring dan offline menjadi luring merujuk pada arti harfiah dari 2 kata tersebut.

Sekarang coba kita tanya, lebih nyaman mana memakai kata online atau daring? Lebih terasa enak didengar yang mana, offline atau luring? Bahkan anak kecil pun tahu kata mana yang harus diucapkan.

“Aduh, internetnya lagi offline nih”.

Tidak ada anak-anak yang berkata, “Asik, internetnya sudah daring.”

Begitu pula dengan kata jenama. Saya tidak tahu darimana asal usulnya kata jenama itu digunakan untuk mengganti kata brand. Setelah saya telusuri, kata jenama ternyata lebih banyak digunakan dalam Bahasa Malaysia! Nah loh….

Mengapa tidak diadopsi saja kata brand itu? Bukankah kata itu sudah sering diucapkan dan didengar masyarakat? Enak atau tidaknya kata itu didengar tentu saja disebabkan karena kata tersebut frekuensi penggunaannya tinggi.

Syarat Sebuah Kata yang Populer Bisa Masuk dalam KBBI

Seperti kata warganet, atau netizen yang sekarang sudah masuk KBBI dan tidak perlu ditulis dengan huruf miring. Menurut Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dadang Sunendar menjelaskan, sebuah kata bisa masuk dalam KBBI jika frekuensi penggunaannya tinggi. Kata tersebut baru, unik, sedap didengar, dan berkonotasi positif.

“Tentu masuk atau diserapnya sebuah kata melalui proses pengumpulan data, analisis data, apakah kata itu kategori umum atau khusus,” kata Dadang, dikutip dari Kompas, Rabu (23/8/2017).

Masuknya kata warganet dan netizen menjadi kata baku resmi versi KBBI menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia itu dinamis. Penggunaan bahasa (Indonesia) secara alami akan mengikuti kebutuhan penuturnya.  Kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya inilah yang disebut dengan ragam bahasa. Formal, semi formal, non formal; jurnalistik; populer dan ilmiah, adalah macam-macam ragam bahasa.

Menurut Hasan Alwi dkk. (2003: 13—14), ragam bahasa ini memiliki dua ciri, yaitu kemantapan dinamis dan kecendikiawan. Kemantapan dinamis berarti aturan dalam ragam bahasa ini telah berlaku dengan mantap, tetapi bahasa ini tetap terbuka terhadap perubahan (terutama dalam kosakata dan istilah). Ciri kecendikiawan terlihat dalam penataan penggunaan bahasa secara teratur, logis, dan masuk akal.

Gunakan Saja Kata yang Populer daripada Membingungkan Pembaca

Dalam hal penulisan artikel populer, tidak ada salahnya jika kita menggunakan istilah-istilah yang populer dan familiar, alih-alih menggantinya dengan kata serapan yang baku, tapi membingungkan pembacanya. Begitu pula dalam penulisan karya tulis ilmiah. Kata atau istilah populer bisa kita gunakan sepanjang kita memenuhi kaidah penulisannya dengan benar, yakni ditulis dengan huruf miring apabila kata tersebut belum terserap secara baku.

Satu syarat lagi dalam pemakaian kata asing yang populer adalah, kita harus menggunakannya secara konsisten. Artinya, jika sejak pertama kita menuliskan online, maka kata ini harus tetap kita pakai terus hingga akhir. Jangan sampai berubah-ubah. Di awal tulisan memakai kata online, kemudian berganti menjadi daring, berubah lagi menjadi online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *