Danone Blogger Academy dan Filosofi Cangkir Kosong

Di sebuah negeri, ada seorang guru Zen yang bijaksana. Banyak orang yang datang dari jauh hanya untuk meminta nasihat dan ilmu darinya.

Suatu hari, datanglah seorang sarjana muda.

“Saya datang khusus untuk meminta Anda mengajari saya tentang Zen,” kata sarjana muda tersebut.

Guru Zen mengangguk, lalu meminta sarjana itu untuk masuk ke ruang pengajaran. Namun yang terjadi kemudian adalah, sarjana itu terlalu sering menyela nasihat dan ilmu yang diajarkan Guru Zen. Sarjana itu berulangkali melontarkan pendapat dan pengetahuan yang sudah ia miliki sehingga tidak dapat menyimak dengan baik apa yang diajarkan Guru Zen.

Sambil tersenyum, Guru Zen lalu meminta sarjana itu mengikutinya ke meja ruang tamu. Di sana, Guru Zen kemudian menuangkan teh ke cangkir kosong yang ada di depan sarjana muda. Dituangkannya minuman itu terus menerus sampai meluap ke atas meja dan akhirnya mengenai jubah muridnya.

Sarjana muda itu berteriak, “Stop, hentikan Guru! Apa Guru tidak melihat cangkirnya sudah penuh?”

“Tepat sekali,” jawab Guru Zen sambil tersenyum. “Kamu itu seperti cangkir teh ini, penuh ide dan wawasan sehingga tidak  ada lagi ilmu yang cocok dan bisa kamu terima. Kembalilah kesini kalau kamu sudah bisa mengosongkan cangkirmu.”

Filosofi Cangkir Kosong

Kisah ini mengingatkan kita untuk tetap rendah hati, membuka diri terhadap ide-ide baru dan bersedia mengubah prakonsepsi kita.  Secara teori sederhana, tetapi sulit untuk dipraktikkan.

Seiring bertambahnya usia, kita mengisi cangkir kita dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang pernah kita peroleh di masa lalu. Ketika ada orang yang memberi saran, ide dan pendapatnya sendiri, kita cenderung memilih mana yang lebih cocok dengan apa yang kita yakini.

Setiap kali membaca judul sebuah artikel, kita seringkali berpikir, “Ah, informasi dan pengetahuannya sudah pernah kuperoleh sebelumnya.” Bahkan sebelum kita membaca tuntas apa yang disajikan di dalamnya. Setiap kali kita menerima materi, informasi maupun pengetahuan yang temanya sama dengan yang pernah kita dapatkan, kita cenderung meremehkan dan menganggap apa yang disajikan sama saja dengan sebelumnya.

Pelajaran dari Danone Blogger Academy

Danone Blogger Academy mengajarkan pada peserta filosofi cangkir kosong ini.  Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, di hari terakhir akademi semua peserta mempresentasikan outline tugas akhir yang sudah dipilih.

filosofi cangkir kosong,danone blogger academy,danone blogger academy 2019,kompasiana,danone indonesia,filosofi cangkir,filosofi gelas kosong,filosofi kopi
penulis saat mendengarkan kritik dan saran dari peserta lain (dokumentasi Danone Indonesia)

Ketika itu, Mbak Widha dari Kompasiana mengatakan bahwa sesi ini adalah sesi mendengarkan. Artinya, peserta yang sedang presentasi hanya boleh mendengarkan kritik, saran dan pendapat peserta lain maupun mentor dari Kompasiana dan Danone Indonesia. Tak boleh ada sanggahan atau kritikan balik. Dengarkan dan terima apa yang dikatakan orang lain.

filosofi cangkir kosong,danone blogger academy,danone blogger academy 2019,kompasiana,danone indonesia,filosofi cangkir,filosofi gelas kosong,filosofi kopi
presentasi Agi Tiara (dokpri)

Selain itu, masing-masing peserta juga menerima catatan tertulis dari peserta lainnya. Semua catatan itu lalu dikumpulkan jadi satu dan diserahkan di akhir presentasi.

Seperti inilah contoh penerapan filosofi cangkir kosong. Peserta yang sedang presentasi hendaknya mengosongkan dulu cangkirnya sehingga ia bisa menerima apapun kritik dan saran dari orang lain. Setiap peserta datang untuk presentasi dengan kondisi pikiran yang siap menerima ide-ide baru, wawasan baru dan pengetahuan baru yang mungkin beberapa diantaranya tidak sesuai dengan keyakinannya saat itu.

filosofi cangkir kosong,danone blogger academy,danone blogger academy 2019,kompasiana,danone indonesia,filosofi cangkir,filosofi gelas kosong,filosofi kopi
Presentasi Mbak Avy (dokpri)

Ucapkan Terima Kasih Saat Menerima Kritik

Filosofi cangkir kosong ini selalu saya pegang, bahkan pada waktu saya memberi materi pelatihan. Sebelum mengajar, saya selalu mengingatkan pada peserta pelatihan bahwa ini adalah sesi belajar bersama. Meskipun saya sedang berdiri di depan dan lebih banyak bicara, saya bukanlah sumber ilmu satu-satunya. Setiap orang yang ada di ruang kelas bisa menjadi sumber ilmu, baik bagi saya pribadi maupun bagi orang lain.

Setiap kali ada yang mengkritik atau memberi saran, saya selalu mengatakan “terima kasih”. Bahkan jika saya tidak merasa ingin menerima saran dari seseorang.  Berterima kasih kepada orang itu membuat saya menjadi lebih terbuka untuk mendengarkan apa yang mereka katakan.

Jika orang tersebut memberikan umpan balik seperti “Gagasan Anda salah”, ucapkan terima kasih kepada orang itu dan minta mereka menjelaskan lebih lanjut. Apakah mereka memilih untuk melakukannya atau tidak, itu tergantung pada mereka.  Tetapi paling tidak kita akan membuka saluran untuk diskusi dan berbagi.

Jadi, selalu pertimbangkan pemikiran dan pendapat baru. Bahkan seandainya kita tidak setuju, setidaknya kita dapat memahami dasar di belakang mereka.

Bruce Lee meringkas filosofi cangkir kosong ini dalam kalimat sederhana:

“Kosongkan cangkirmu sehingga dapat diisi; jadilah ‘kosong’ untuk meraih totalitas.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *