Cara Menulis Gaya Percakapan dalam Artikel

Pernah dapat email yang isinya seperti ini?

“Dear Sir / Madam,

Maafkan saya jika saya mengganggu privasi Anda, dan mungkin saya dengan rendah hati meminta kepercayaan Anda dalam transaksi ini. Saya jadi tahu tentang Anda dalam pencarian pribadi saya untuk orang asing yang andal dan terkemuka untuk menangani transaksi rahasia ini.”

Mohon maaf, dengan terpaksa saya menerjemahkan kalimat pembuka email spam itu apa adanya. Supaya kita tahu seperti inilah ciri-ciri email spam yang berbahaya dan jangan membuka apapun yang disertakan di dalamnya.

Sampai sekarang, saya belum pernah menjumpai email spam yang menggunakan gaya bahasa kekinian, misalnya:

“Hei Bro,

Sorry mengganggu nih, minta waktunya sebentar. Gue kan punya rekening warisan dari leluhur. Nah, gue lagi nyari mitra terpercaya bla bla bla..”

Seperti Apa Menulis dengan Gaya Percakapan itu?

Gaya bahasa yang sopan dan formal memang seolah menjadi merek dagang dari email spam. Gaya ini pula yang akan digunakan kebanyakan orang jika mereka ingin tampil sopan dan profesional.

Gaya bahasa seperti ini mungkin terbawa dari apa yang diajarkan guru bahasa kita di sekolah dulu. Bahasa berbunga-bunga, paragraf panjang, dan tata bahasa yang tepat.

Hingga kemudian muncul internet. Lambat laun, banyak blogger dan penulis konten menyadari bahwa menulis gaya percakapan adalah cara yang jauh lebih kuat untuk terlibat dan terhubung dengan pembaca.

Tulisan bernada formal akan menyembunyikan kepribadian kita. Pembaca akan merasa asing dan tidak percaya bahwa kita sendiri yang menulisnya.

Kurt Vonnegut pernah mengatakan,

“Saya sendiri menemukan bahwa saya sangat mempercayai tulisan saya sendiri, dan orang lain tampaknya sangat mempercayainya, juga, ketika saya terdengar sangat seperti orang dari Indianapolis, itulah saya.”

Nah, seperti itulah yang dimaksud dengan menulis gaya percakapan. Menjadi diri sendiri, tidak terkesan dibuat-buat.

Kelihatannya mudah untuk menulis gaya percakapan, tapi kadang sulit juga karena mungkin kita sudah terdoktrin dengan apa yang diajarkan guru bahasa kita dulu.

6 Tips Menulis Gaya Percakapan

Untuk membiasakan diri, berikut 6 tips menulis gaya percakapan:

1. Menulis ke satu pembaca

Langkah pertama untuk membuat tulisan kita terdengar lebih personal dan bergaya percakapan adalah membayangkan kita menulis kepada satu pembaca, seorang teman dekat, bukan ke kerumunan orang.

Contohnya seperti ini:

“Bagi Anda yang tertarik, Anda dapat mempelajari lebih lanjut di sini.”

Kalimat ini terdengar sopan dan ditujukan untuk orang banyak. Sekarang bandingkan dengan kalimat berikut ini:

“Jika kamu tertarik untuk belajar lebih banyak, kamu bisa mendapatkan semua detailnya di sini.”

Perubahan kalimatnya halus, tetapi kalimat kedua terdengar jauh lebih pribadi dan ramah daripada yang pertama.

Agar bisa menulis untuk satu pembaca, terlebih dahulu kita harus menentukan target audiensnya. Siapa mereka? Seperti apa demografinya? Apa yang mereka ingin ketahui dari tulisan kita?

Ingat, menulis untuk anak muda urban gaya bahasanya berbeda dengan menulis untuk kalangan profesional.

2. Gunakan Kata Ganti Pribadi

Untuk menyapa pembaca kita sebagai individu, kita harus memakai kata ganti pribadi. Gunakan kata ganti  orang kedua seperti : kita; kami; kalian; kamu; sebanyak mungkin. Juga jangan lupa menyebut diri kita sebagai “Saya/Aku”, tergantung pada target audiensnya.

Misalnya kita menulis kalimat, “Seringkali orang sulit bergerak maju dalam situasi seperti ini.”

Kita bisa membuat pernyataan ini lebih menarik dengan membawa pembaca langsung ke kalimat: “Seringkali kita merasa sulit untuk bergerak maju dalam situasi seperti ini.”

Supaya tidak terdengar sedang menceramahi atau dianggap sok tahu, tambahkan kata “mungkin”. Sehingga kalimat diatas akan menjadi,

“Kadang-kadang kita mungkin merasa sulit untuk bergerak maju dalam situasi seperti ini.”

Penambahan kata “mungkin” ini membuat kita terdengar lebih seperti teman bagi pembaca.

3. Hilangkan kalimat pasif

Kalimat pasif adalah salah satu dari tanda-tanda tulisan akademis dan teknis. Perhatikan gaya bahasa politisi dan eksekutif bisnis, mereka cenderung suka menggunakan suara pasif ketika ingin menghindari klaim tanggung jawab atas kesalahan.

Contoh kalimatnya seperti ini,“Kesalahan dibuat oleh kita semua”.

Lantas bagaimana cara memperbaikinya?

Tulis saja, “Kita semua membuat kesalahan.” Sekarang kalimatnya menjadi aktif.

4. Libatkan pembaca dengan pertanyaan retoris

Saat bicara dengan teman, saya paling tidak suka jika ada pertanyaan yang menodong seperti ini,

“Kamu setuju kan dengan apa yang aku omongkan tadi?”

Begitu pula dengan pembaca. Mereka tidak suka dengan kalimat yang seperti menyeret mereka ke dalam interogasi.

Misalnya sebuah pertanyaan, “Siapa yang suka bakso?”

Pertanyaan ini seolah membuat kita dianggap menyukai bakso. Padahal kan tidak semua pembaca suka bakso.  

Pembaca juga tidak suka dengan kalimat yang menodong seperti ini, “Kita tentu setuju bahwa banjir di Jakarta akan lebih mudah diatasi bila gubernurnya jadi presiden.”

Kalau saya tidak setuju bagaimana?

Untuk menghindarinya, ajukan pertanyaan retoris yang memiliki jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ yang jelas.

Contohnya, “Kalian suka bakso atau tidak?”

Dengan menambahkan kata “tidak”, pembaca akan merasa punya pilihan jawaban yang jelas, alih-alih merasa ditodong untuk menyukai bakso.

Salah satu cara favorit saya untuk mengubah kalimat menjadi pertanyaan adalah dengan menambahkan “benar kan?”

Misalnya: “Banjir di Jakarta akan lebih mudah diatasi bila gubernurnya jadi presiden, benar kan?”

5. Buat kalimat dan paragraf yang singkat

Pernah mendengar seseorang bicara dan terus bicara tanpa memberi kesempatan pendengarnya untuk menarik nafas? Kesal bukan?

Begitu pula dengan tulisan. Kalimat dan paragraf yang panjang membuat audiens cepat lelah, apalagi saat mereka membacanya di perangkat seluler.

cara menulis gaya percakapan,menulis gaya percakapan,cara menulis artikel

Dalam menulis gaya percakapan, jangan takut untuk melanggar aturan tata bahasa sesekali jika itu bisa membuat audiens merasa nyaman membacanya. Cobalah untuk membuat kalimat kita sesederhana dan sejelas mungkin dengan memilih kata-kata secara hati-hati.

Contohnya, alih-alih mengisi kalimat dengan kata-kata tambahan seperti “dengan memeriksa situasi berikut, kami melihat bahwa …”

Kita bisa menuliskannya menjadi, “Situasi berikut menunjukkan …”

6. Jadilah pendongeng

Saat kita berbicara dengan teman, kita berbagi cerita kehidupan pribadi. Tentang banjir, hujan, kopi hingga cinta dan senja.

Berbagi cerita pribadi membuat kita lebih terhubung dengan pembaca. Menulis cerita pribadi juga menjadi bukti ada manusia di balik kata-kata.

Dan di era digital, hubungan antar manusia lebih dihargai. Itu sebabnya situs-situs seperti Kaskus, Kompasiana menjadi populer karena isi artikelnya adalah cerita pribadi dari masing-masing penulisnya.

Ketika ingin menggunakan cerita pribadi dalam tulisan, pastikan cerita itu relevan dengan tema yang hendak dibahas. Tunjukkan pada pembaca bagaimana kisah itu dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sendiri.

Kesimpulan

Jika ingin tulisan kita lebih terhubung dengan pembaca, gunakan gaya percakapan sehari-hari. Bagaimana cara mengetahui apakah tulisan kita sudah bernada percakapan?

Baca dengan keras.

Dengan membacanya, kita akan tahu kalimat mana yang perlu dipotong, apakah ada kalimat yang terdengar tidak wajar dan kaku, apakah ada kata, istilah maupun tanda baca yang tidak sesuai. Ini aturan praktis yang baik untuk diikuti saat kita mengedit artikel untuk membuatnya terdengar bergaya percakapan.

Intinya: bersenang-senanglah, biarkan kepribadian kita bersinar, dan cobalah terdengar seperti teman terbaik pembaca kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *