Cara Memunculkan Ide Kreatif

Penulis Seth Godin menulis posting blog setiap hari. Karen X. Cheng, pendiri agensi kreatif Waffle, menari setiap hari selama setahun – di tempat kerja, di halte bus, saat mengantre di toko grosir. Kanye West, sebelum dia memenangkan puluhan Grammy, membuat lima lagu sehari selama tiga musim panas.

Orang-orang suka mengatakan “kualitas daripada kuantitas,” frasa yang menetapkan kuantitas dan kualitas sebagai dua pilihan terpisah. Tetapi kuantitas dan kualitas sebenarnya terhubung secara rumit. Menyelesaikan banyak pekerjaan secara rutin adalah jalur yang dapat diandalkan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan tersebut.

Dalam setiap contoh di atas, kita dapat melihat seberapa kecil, praktik yang konsisten – atau, proyek mikro kata anak milenial sekarang – menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih besar. Godin mengubah posting blog terbaiknya menjadi buku laris. Cheng membuat video timelapse dari mini-sesi tariannya, dan itu meraup 12 juta penonton. Kanye menjadi Kanye West sekarang.

Proses Mengubah Ide Menjadi Kenyataan adalah Cara Belajar Paling Aktif

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran aktif (berinteraksi, berpartisipasi, melakukan sesuatu) lebih efektif daripada pembelajaran pasif (mendengarkan ceramah, membaca). Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Teaching of Psychology, diketahui bahwa siswa menyerap materi lebih menyeluruh dengan tugas menulis lima menit yang tidak dinilai daripada menggunakan waktu lima menit untuk berpikir dan mendengarkan ceramah. Dengan kata lain, penelitian ini menunjukkan proses mengubah ide menjadi kenyataan adalah salah satu cara pembelajaran yang paling aktif.

Menyelesaikan pekerjaan kecil juga dapat memberi kita penghargaan secara emosional. Setiap kali kita menyelesaikan pekerjaan, hal ini menciptakan semacam lingkaran positif yang membuat kita ingin belajar dan melakukan lebih banyak lagi.

Selain itu, terus-menerus “mengirimkan” pekerjaan kita – mendeklarasikannya selesai dan beralih ke hal berikutnya – dapat mencegah apa yang oleh para psikolog disebut “fiksasi“, suatu blok mental yang mencegah kita menemukan wawasan dan pengetahuan berharga. Proyek mikro memungkinkan kita untuk menuai manfaat ini lebih sering. Saat kita membuat sesuatu yang kecil kemudian melepaskannya ke dunia, kita mendapatkan momentum yang mendorong kita untuk melakukannya lagi.

Cara Memunculkan Ide Kreatif yang Mudah Dikerjakan

Bagaimana caranya memunculkan ide-ide kecil lalu mengeksekusinya menjadi pekerjaan yang nyata?

Mudah kok, yang penting adalah niat kita untuk mengerjakannya. Berikut ini cara memunculkan ide yang sederhana, dan bisa fokus untuk dieksekusi.

Amati, Tiru, Modifikasi

Prinsip yang dikenal baik oleh setiap pelaku usaha, yakni dengan mengamati, meniru dan memodifikasi produk atau karya orang lain.

Ada perbedaan penting antara dua hal berikut ini:

  • Mengolah kembali karya orang lain ke dalam kreasi unik kita sendiri.
  • Menyalin karya orang lain tanpa memberi mereka penghargaan.

Yang pertama adalah seni; yang kedua adalah plagiarisme.

cara memunculkan ide,cara memunculkan ide kreatif,cara memunculkan ide menulis

Cara paling mudah untuk menyelesaikan proyek mikro adalah dengan menyalin karya orang lain, kemudian memberi sentuhan identitas kita sendiri yang khas sehingga bisa tampil berbeda. Sekali lagi, ini bukan jenis plagiarisme.

“Apa yang dipahami oleh seniman yang baik adalah tidak ada yang datang dari mana-mana,” tulis Austin Kleon dalam buku Steal Like An Artist. “Semua karya kreatif dibangun berdasarkan apa yang datang sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar asli. ” Dan menyalin, menurutnya, adalah cara kita belajar.

Jika kita tidak ingin menggunakan karya orang lain sebagai titik awal, cara memunculkan ide kreatif lainnya adalah dengan memodifikasi proyek lama kita sendiri untuk membuat sesuatu yang baru. Saya sendiri sering memodifikasi tulisan lama, lalu menghubungkannya dengan ide-ide yang baru atau tren dan peristiwa terkini. Seperti artikel ini, ada beberapa bagian yang saya ambil dari koleksi artikel-artikel lama (sengaja saya tidak tunjukkan bagian yang mana).

Cobalah membaca ulang tulisan-tulisan lama. Temukan sepotong kode atau titik poin dari tulisan itu, lalu optimalkan menjadi tulisan baru.

Eksekusi Ide-ide yang Muncul dengan Segera

Salah satu kebiasaan buruk yang sering kita lakukan adalah menunda untuk mengeksekusi ide-ide yang kita dapatkan. Kita cenderung ingin menjadikan ide itu sempurna dulu, baru kemudian kita kerjakan.

Saya dulu pernah menulis “Tips Menulis ala Iron Man”. Tony Stark alias Iron Man adalah tipikal orang yang praktis, tidak mau membuang banyak waktu. Saat ditegur Captain America bahwa mereka perlu rencana, Iron Man menjawab, “I have a plan, attack!”

Dia memang punya rencana, dan rencana tersebut adalah menyerang langsung. Seolah dia khawatir jika terlalu lama menyusun rencana, efek kejut dari rencana tersebut akan hilang dan percuma.

Saya termasuk tipe Iron Man ini. Jika ada sebuah ide untuk menulis, ide tersebut langsung saya tuliskan begitu saja, tidak menunggu waktu lama untuk menyusun kerangka tulisan terlebih dahulu. Khawatirnya, ide/gagasan yang muncul akan hilang.

Banyak penulis-penulis besar dan orang-orang sukses menyarankan kita untuk segera menuliskan ide-ide yang ada di kepala, tidak peduli seberapa tidak sempurnanya mereka. Dalam panduan menulisnya di buku klasik Bird by Bird, penulis Anne Lamott menjelaskan:

“Hampir semua tulisan bagus dimulai dengan upaya pertama yang mengerikan. Anda harus mulai dari suatu tempat. Mulailah dengan mendapatkan sesuatu – apa saja – di atas kertas.”

Dari semua nasehat dan kutipan untuk segera mengeksekusi ide, terutama dalam menulis, kutipan dari Jacques Barzun saya anggap yang terbaik dan bisa mewakili semuanya:

…”biarlah kalimat yang pertama itu seburuk yang diinginkannya sendiri….”

Dalam hal ini, apa yang dimaksudkan oleh Jacques Barzun adalah kalimat pertama itu tidak perlu sempurna. Seringkali kita membuang waktu hanya karena merasa kalimat pertama itu tidak bagus, salah, kurang tepat dan lainnya sehingga berulangkali kita menulis dan menghapusnya kembali.

Kesimpulan

Pecahlah tujuan yang besar itu menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil dan sederjana yang bisa kita selesaikan dengan baik. Jangan terperangkan dengan “apa yang harus kita lakukan” sehingga membuat kita terlena dan mengabaikan “apa yang bisa kita lakukan”.

Kerjakan yang kecil, sebisa mungkin dan wujudkan hal itu menjadi kenyataan. Ini adalah cara tercepat untuk mencapai sesuatu yang besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *