Sukses Karena Berdiri di Bahu Raksasa

Kalau kita membuka halaman Google Scholar, atau dalam versi Indonesianya adalah Google Cendekia, kita akan menemukan kutipan berbunyi “Stand on the Shoulders of Giants”, Berdiri di Bahu Raksasa.

Kalimat yang sekarang menjadi catch phrase dari Google Scholar ini adalah terjemahan secara harfiah dari kalimat Nanos Gigantum Humeris Insidentes. Kalimat ini diatribusi pada Bernard of Chartres di abad ke-12.

Pada 1159, John of Salisbury menulis dalam Metalogicon-nya: “Bernard dari Chartres biasa membandingkan kami dengan kurcaci yang bertengger di pundak para raksasa. Dia menunjukkan bahwa kita melihat lebih banyak dan lebih jauh daripada para pendahulu kita, bukan karena kita memiliki penglihatan yang lebih tajam atau ketinggian yang lebih besar, tetapi karena kita diangkat dan diangkat tinggi-tinggi dengan perawakan raksasa mereka.”

Metafora kurcari yang berdiri di bahu raksasa ini kemudian dipopulerkan oleh Sir Isaac Newton dalam suratnya kepada Robert Hooke pada tahun 1676 dengan kalimat lengkap “If I have seen further, it is by standing on the shoulders of giants.”

Apa maksud dari kalimat ini Berdiri di Bahu Raksasa?

Sederhana saja. Seperti yang dikatakan Newton, “Jika aku sudah melihat jauh ke depan, itu karena aku berdiri di bahunya raksasa.” Newton menulis kalimat itu dalam suratnya kepada Robert Hooke untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Hooke atas pemikiran-pemikirannya yang sudah membuka wawasan pribadi Newton.

Tidak hanya kepada Robert Hooke saja, ucapan terima kasih dengan mengambil metafora kurcaci yang berdiri di bahu raksasa ini juga disampaikannya kepada gurunya yang lain, seperti Rene Descartes. Newton sadar, apa yang ia lakukan, apa yang ia capai tidak akan bisa sejauh itu jika tidak didahului pemikiran orang-orang pandai sebelumnya.

Jangan Pernah Lupakan Peranan Guru yang Sudah Mengajari Kita

Bernard of Chartres mengucapkan adagium yang akhirnya dikutip Newton itu dalam konteks: Orang-orang modern (di jamannya tentu saja) adalah sebagaimana orang-orang kerdil atau kurcaci yang berdiri di bahu raksasa, yaitu orang-orang berilmu jaman dahulu sehingga mereka bisa melihat lebih jelas dan lebih jauh.

berdiri di bahu raksasa,arti kalimat berdiri di bahu raksasa,stand on the shoulders of giants,google scholar,google cendekia,makna kutipan berdiri di bahu raksasa

“Who sees further a dwarf or giant? Surely a giant for his eyes are situated at a higher level than those the dwarf. But if the dwarf is placed on the shoulders of the giant, who sees further? So too we are dwarfs astride the shoulders of giants. We master their wisdom and move beyond it. Due to their wisdom we grow wise and are able o say all that we say, but not because we are greater than they.”

John of Salisbury

Kita adalah kurcaci, dan para cerdik cendekia jaman dahulu adalah raksasanya. Tapi kita bisa melihat lebih jauh dan lebih jelas dari orang-orang pandai jaman dahulu karena kita berdiri di bahu mereka.

Semakin tinggi bahu raksasa, maka semakin jauh pula kita bisa memandang ke depan. Tentunya pemandangan ini akan berbeda jika ada orang lain yang menaiki bahu raksasa yang lebih rendah. Artinya, semakin banyak guru yang ilmunya kita serap dan pelajari, semakin luas pula pengetahuan yang kita miliki.

Namun, seorang yang ingin mencapai bahu raksasa yang tinggi (sementara dia sendiri orang kerdil atau kurcaci), maka ia harus memulai dengan mendaki bahu-bahu raksasa yang lebih pendek atau lebih kecil dahulu. Satu demi satu, terus mendaki hingga ia bisa mencapai puncak bahu raksasa yang paling tinggi sesuai dengan kemampuannya mendaki.

Sukses Itu Diraih Karena Berdiri di Bahu Raksasa

Dalam proses belajar dan mengajar, kita juga mengalami proses yang sama. Kita memulainya dengan hal yang sederhana dan mampu kita pahami, terus meningkat semakin kompleks dan semakin banyak hal yang kita pelajari.

Akan sulit bagi seseorang untuk bisa memahami cerita orang yang sudah melihat luasnya pemandangan dari bahu raksasa yang tinggi sekali, sedangkan ia masih berada di bawahnya dengan pemandangan yang terbatas.

Jika ia melakukannya dengan instan, sesampainya di atas ia malah akan kebingungan karena tidak paham bagaimana perubahan pemandangan dari rendah ke tinggi. Cerita atau pengalaman tentang pemandangan ketinggian itu akan terasa hampa karena ia tidak mampu mendeskripsikan pemandangan itu, tanpa bisa menjelaskan bagaimana ia bisa mencapai dan menikmati pendakiannya.

Deskripsinya mungkin mengundang decak kagum, tetapi akan selesai begitu saja. Kekaguman yang tidak berarti karena ia gagal menjadi inspirator dan pendidik bagi orang lain supaya bisa meraih posisi di ketinggian tersebut.

Menjadi Kurcaci dan Raksasa yang Sama Baiknya

Pada dasarnya, kita berusaha menjadi kurcaci dan raksasa dengan sama baiknya. Sebagai kurcaci, kita berupaya mendapatkan pemandangan dari atas bahu tertinggi dengan mendaki, menaiki satu persatu pijakan yang akan menopang kia untuk mencapai posisi tertinggi. Inilah proses pendidikan seorang pendidik.

Sebagai raksasa, tugas kita jauh lebih berat. Kita sedang berusaha untuk memberikan bahu terbaik dan tertinggi bagi siswa atau orang yang belajar pada kita. Kita sedang berusaha untuk membuat bahu kita bisa berperan bagi orang lain.

Bahu yang baik tentu terlahir dari bahu yang sudah terlatih, yang mampu menahan beban berat, tapi tetap fleksibel. Bukan bahu yang mudah terkilir, tidak ada tonjolan yang bisa dipakai pijakan dan licin bagian atasnya hingga membuat orang yang berpijak mudah jatuh karenanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *