A Kasoem, Putra Garut Pionir Toko Kacamata di Indonesia

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, kawasan jalan Braga dianggap mewakili citra Parijs van Java yang disematkan pada Kota Bandung.  Pusat dari sebagian besar denyut kehidupan gaya Eropa di Bandung pada dasarnya berada di sekitar jalan Braga. Di sini terdapat segala jenis pertokoan, restoran, tempat hiburan, gedung pertemuan orang-orang Eropa, bioskop hingga tempat pelacuran.

Di jalan Braga pula, uang berputar dan perekonomian melaju. Pada masa itu lahir ungkapan dari para pengusaha perkebunan Eropa, ―naar beneden geld halen! yang artinya “ke bawah mengambil uang”. Maksud ungkapan tersebut tentu saja dari tempat tinggal para penguasaha Eropa di daratan tinggi Bandung, menuju ke Braga guna mengambil uang di bank.

Di antara sekian banyak toko dan tempat usaha milik orang Eropa, terselip satu toko kacamata. Toko itu adalah satu-satunya toko yang dimiliki pribumi, orang Garut asli.

Pemilik toko tersebut adalah Atjoem Kasoem, atau lebih dikenal dengan nama pendek A. Kasoem. Kalau melihat nama belakangnya, kita tentu ingat dengan toko kacamata Optik Lily Kasoem.

Memang benar, cikal bakal dari salah satu optik ternama di Indonesia ini berawal dari toko kacamata A Kasoem yang pada zaman penjajahan Belanda berada di jalan Braga nomor 21 Bandung. Lily Kasoem sendiri merupakan salah satu putri dari 8 bersaudara buah cinta A. Kasoem dengan Koesmaini Sirad.

A Kasoem, Anak Singkong dari Garut yang bermimpi besar

Atjoem Kasoem lahir di Desa Bojong, Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 9 Januari 1918, dari keluarga petani yang sederhana. Setelah tamat belajar di Taman Dewasa Perguruan Taman Siswa, Kasoem memutuskan untuk bekerja sebagai asisten di toko kacamata milik seorang warga Jerman, Kurt Schlosser yang terletak di jalan Braga, Bandung.

Pada tahun 1940, Nazi Jerman yang dipimpin Hitler mulai menginvasi negara-negara Eropa. Belanda pun diramalkan akan jatuh, dan bila dikuasai Jerman, maka tanah jajahan Belanda seperti Indonesia akan menjadi hak milik Jerman pula.

Atjoem Kasoem,A kasoem,optik kasoem,toko kacamata kasoem,sejarah garut,sejarah optik kasoem,tokoh sejarah garut,tokoh garut,putra asli garut,optik lily kasoem,

Di sela-sela waktu bekerjanya, Kasoem berdiskusi dengan Schlosser mengenai kemungkinan Jerman akan memberikan kemerdekaan pada Indonesia. Jawaban yang diberikan Schlosser inilah yang menjadi titik balik kehidupan Kasoem di masa depan.

“Apa gunanya sama kalian kemerdekaan tanah air itu. Kenyataannya kini perekonomian di seluruh Indonesia dikuasai oleh bangsa Asing, baik orang kulit putih, Cina, India, Arab dan lain-lain. Percuma sama kalian merdeka itu, kalau perekonomiannya tidak dikuasai oleh pribumi.”

Demikian kata Schlosser menjawab pertanyaan Kasoem tentang “hadiah kemerdekaan” apabila Jerman menguasai Belanda.

Memerdekakan diri dengan menuntut ilmu kacamata

Melanjutkan jawabannya tersebut, Schlosser kemudian menawarkan pada Kasoem untuk belajar ilmu kacamata sebagai “cara memerdekakan diri” dan dapat membantu masyarakat.

Saat itu, tak ada sekolah ilmu kacamata dan tak ada pribumi yang tertarik mempelajarinya ilmu optikal. Untuk memotivasi Kasoem, Schlosser lalu berkata,

“Jika kamu mau merdeka juga, tuntutlah ilmu kacamata ini. Perusahaan ini dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa. Dengan ilmu ini, kamu akan dapat membesarkan nama bangsamu. Kamulah kelak yang akan menjadi raja kacamata satu-satunya di Indonesia. Tetapi, dengan hanya menguasai ilmu kacamata saja belum cukup untuk menjadi orang terhormat. Kamu harus melatih dirimu ahli dan cakap pula menjualnya ke masyarakat luas. Ilmu dagang tidak ada di sekolah. Kecakapan ini akan tumbuh berkat pengalaman, dan didorong oleh kemauan yang keras untuk mengubah nasib. Ilmu dan pengalaman ini akan dapat kamu turunkan kelak kepada anak cucumu.”

Perkataan Schlosser akhirnya terbukti. Kasoem boleh dibilang menjadi raja kacamata satu-satunya di Indonesia. Kasoem adalah pionir toko kacamata di Indonesia, sekaligus pemilik salah satu jaringan toko kacamata terbesar di Indonesia yang dikelola anak cucunya.

Pribumi pertama yang membuka toko kacamata

Kesuksesan ini tak lepas dari ketekunan dan kesungguhan niat Kasoem untuk belajar ilmu kacamata. Setelah “magang” pada Kurt Schlosser, Kasoem melatih dirinya berjualan kacamata dengan berjalan kaki, menjinjing tas berisi kacamata keluar masuk rumah orang. Dengan tekun dan ulet ia memperluas daerah operasi berjualan dengan berkeliling naik sepeda. Uang keuntungannya selalu disimpannya untuk membesarkan usaha.

Berkat dorongan sang istri Koesmaini Sirad, Kasoem akhirnya memberanikan diri untuk membuka toko kacamata di Jalan Pungkur no 97, Bandung. Kasoem pun menjadi satu-satunya orang Indonesia yang punya toko optikal, yang pada saat itu umumya dikuasai orang-orang Eropa. Usahanya membuka toko ini tak lepas dari bantuan Ki Hajar Dewantara yang dikenalnya semasa sekolah di Perguruan Taman Siswa.

Saat Jepang masuk dan menguasai Indonesia, perekonomian masyarakat menjadi lesu. Banyak toko-toko yang tutup karena sepi pembeli. Tapi Kasoem berpikiran lain. Dia melihat masih ada prospek untuk bisnis kacamata. Salah satu alasannya mungkin karena saat itu banyak pengusaha Eropa yang ditangkap dan menjadi tawanan pihak Jepang, sehingga nyaris tidak ada toko kacamata yang beroperasi.

Maka, pada Mei 1943, Kasoem akhirnya dapat membuka toko kacamata di Jalan Braga. Saat itu, ia menjadi pribumi pertama dari suku Sunda yang memiliki toko di Braga di antara deretan toko-toko lain milik orang Eropa atau yang sudah dikuasai Jepang.

A Kasoem, Ahli Kacamata Kepercayaan tokoh bangsa

Pecahnya perang kemerdekaan membuat kawasan Braga perlahan menjadi sepi. Meskipun toko-toko Eropa dan gedung hiburan seperti Societeit Concordia masih eksis, namun lebih dipergunakan oleh kalangan militer Belanda. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, Kota Bandung menjadi medan pertempuran antara tentara republik dengan militer sekutu/Belanda.

Ketenaran dan keahlian Kasoem di bidang optikal sampai pada telinga beberapa tokoh politik dan pergerakan di Indonesia. Kasoem akhirnya dipercaya untuk memelihara, memeriksa dan membuat kacamata untuk Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, para menteri, dan pembesar Republik lainnya.

Pada 23 Maret 1946, terjadilah peristiwa Bandung Lautan Api. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Kasoem bersama keluarganya lantas mengungsi ke Tasikmalaya. Di sana, Kasoem masih sempat membuka toko kacamata.

Kasoem sendiri kemudian ikut terjun berjuang menurut keahlian dan kecakapannya. Ia sempat pula aktif menjadi anggota Palang Merah Indonesia. Karena kontribusinya itu, pergaulannya di kalangan para pejuang pun semakin meluas.

Pada pertengahan 1946, Kasoem diminta oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta membuka praktik di Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Di sana ia membuka toko kacamata dan mendirikan pabrik penggosok lensa di daerah Klaten.

Menuntut ilmu ke Jerman untuk menambah kecakapan ilmu kacamata

Bisnis kacamata Kasoem berkembang pesat. Ia pun bisa membuka beberapa toko lain di berbagai daerah. Usahanya yang terus berkembang itu memberi dia kesempatan untuk membantu orang-orang yang aktif di pergerakan nasional.

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, Kasoem memutuskan untuk kembali ke Bandung dan bermaksud membuka kembali toko kacamatanya di jalan Braga. Namun alangkah terkejutnya Kasoem ketika mendapati tokonya tersebut sudah dikuasai oleh orang Cina.

Kasoem pun tak patah arang. Ia bertekad merebut toko yang sudah membesarkan nama dan ekonomi keluarganya itu dengan mengajukan gugatan ke pengadilan. Kasoem akhirnya berhasil memenangkan gugatannya dan pada 1955, Kasoem membuka kembali toko kacamatanya dan memperluas jaringannya ke beberapa daerah.

Meski sudah terbilang sukses, namun Kasoem masih belum puas. Kasoem melihat banyak bahan baku pembuatan kacamata, seperti gagang dan kacanya, didatangkan dari luar negeri. Kasoem lantas berpikir mengapa tidak membuatnya sendiri di Indonesia? Dengan demikian harganya bisa ditekan dan menjadi lebih murah.

Untuk menjawab pertanyaannya sendiri, pada 1960 Kasoem berangkat ke Jerman. Di sana, Kasoem belajar ilmu pembuatan kacamata ilmu pada Dr. Hermann Gebest, ahli dan pemilik sebuah pabrik optik di Jerman. Selama magang, Kasoem harus bekerja 14 jam nonstop. Setelah merasa cukup menguasai teori dan praktik ilmu perkacamata-an, Kasoem kembali ke tanah air.

Membuka Pabrik Kacamata terbesar di Asia

Setiba di kampung halamannya, Kasoem langsung bertekad untuk mewujudkan mimpi memiliki pabrik kacamata sendiri. Selain itu, ia juga ingin menerapkan semua ilmu yang diperolehnya selama belajar di Jerman.

Kasoem mulai membangun pabrik optik yang dicita-citakannya sejak 1969.  Pada 23 September 1974, pabrik lensa bifokus di desanya, Kadongora akhirnya diresmikan Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Para ahli pabriknya didatangkan dari Jerman, dan gurunya sendiri Dr. Hermann, dijadikannya sebagai penasihat. Meski ketika itu banyak tawaran untuk bekerja sama di bidang optik dari luar negeri, tapi Kasoem menolaknya. Tekadnya untuk menjadikan bangsa Indonesia mandiri secara ekonomi dan industri sekeras baja.

Kasoem berkeinginan, bahwa pabriknya ia pimpin sendiri dengan modalnya sendiri pula. Bagi Kasoem, biarlah pabriknya kecil saja, tetapi milik sendiri. Apalah gunanya pabrik besar dan pangkat mentereng sebagai direktur kalau pabrik itu dikendalikan oleh bangsa asing, ia sebatas menjadi boneka. 

Pabrik tersebut merupakan pabrik kacamata pertama di Indonesia sekaligus yang terbesar di Asia pada masanya. Sayangnya, pabrik ini tutup pada 1997 akibat krisis ekonomi yang saat itu melanda Indonesia dan beberapa negara di Asia.

Berkat dedikasinya dalam bidang kacamata, A Kasoem mendapat apresiasi dari dunia internasional. Pada tanggal 16 Februari 1975, Kasoem diterima menjadi anggota ilmu pengetahuan optik Jerman Barat dengan nomor anggota 176. Kasoem menjadi orang Asia pertama yang diterima menjadi anggota.

Optik A Kasoem berkembang berkat pelajaran wirausaha sejak dini

Di sela kesibukannya mengurusi bisnis, Kasoem masih menyempatkan diri untuk menjadi dewan kurator atau pembina mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan Tanah Air. Di antaranya adalah Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Pasundan serta Himpunan Mahasiswa Indonesia.

A Kasoem meninggal dunia di Bandung pada 11 Juni 1979. Bisnis kacamatanya kemudian diteruskan oleh delapan putra-putri serta para cucu dengan menggunakan merek dagang yang berbeda. Di antaranya A Kasoem, PT Kasoem, Lily Kasoem, dan Cobra.

Saat ini, jaringan bisnis toko kacamata yang dirintis A Kasoem telah tersebar di sejumlah kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Cirebon, serta beberapa kota di luar pulau Jawa. Semuanya dikelola oleh sanak keluarga Kasoem sendiri, dari anak-anak generasi pertama hingga cucu-cucunya. Seperti Ira Kasoem, putri dari Lily Kasoem yang sekarang menjadi Managing Director Optik Lily Kasoem dan Hatta Kasoem yang mengelola Kasoem Vision Care.

Sejak dini, Kasoem memang sudah menanamkan jiwa bisnis pada anak-anaknya. Menurut salah satu putrinya yang bernama Ruba’ah, ayahnya tidak akan memberikan uang jajan kepada anak-anaknya jika belum membantu bekerja di optik. Tak heran apabila usaha yang dirintis Kasoem sejak tahun 1930-an bisa bertahan hingga sekarang.

Referensi:

  1. A Kasoem Merintis Toko Kacamata dengan belajar dari pengusaha Jerman. Sindonews.com. Diakses 12 Oktober 2019
  2. Usaha Zaman Bahuela – Jerit Pengusaha saat Kota Bandung Dibakar. Kompas Cetak. Diakses 12 Oktober 2019
  3. A Kasoem, Wirausahawan Pejuang. Okezonews.com. Diakses 13 Oktober 2019
  4. Asli Garut Ahli Membikin Kacamata, A Kasoem. Naratasgaroet.net. Diakses 13 Oktober 2019
  5. Generasi Kedua Penerus Optik Lily Kasoem. Swa.co.id. Diakses 13 Oktober 2019
  6. Pribumi Perintis Toko Kacamata. Tokoh.id. Diakses 14 Oktober 2019
  7. Budiman, Harry Ganjar. Modernisasi dan Terbentuknya Gaya Hidup Elit Eropa di Bragaweg (1894-1949). Jurnal Patanjala Vol. 9 No. 2 Juni 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *