5 Cara Menyelesaikan Skripsi Dengan Cepat

Salah satu episode tersulit dari hidup mahasiswa adalah ketika dikejar target untuk menyelesaikan skripsi. Tidak ada seorangpun mahasiswa bimbingan yang berani mengatakan menyelesaikan skripsi itu mudah.

Padahal skripsi itu bagian terbesarnya terletak pada aktivitas menulis. Di satu sisi, banyak orang dengan lantang meneriakkan jargon “Menulis itu mudah”. Nah, kalau kita mengikuti jargon menulis itu mudah, seharusnya menyelesaikan skripsi juga tidak susah.

Tapi mengapa hampir semua mahasiswa mengatakan skripsi itu susah?

Mari kita lakukan riset kecil-kecilan. Pertanyaan risetnya adalah “Mengapa skripsi itu susah?”

Jawaban dari pertanyaan riset itu bisa diperoleh dari wawancara, kuisioner, atau mungkin ada buku referensi di perpustakaan yang punya kajian lengkapnya. Namun, alih-alih mengambil jalan terjal seperti itu, kita ambil jalan pintas yang paling mudah saja. Tanya Google.

Dari berbagai ulasan di situs yang ditampilkan Google, setidaknya ada 5 kategori alasan mengapa menyelesaikan skripsi itu susah:

  • Persepsi bahwa skripsi itu susah;
  • Tidak tahu darimana mengawali skripsi;
  • Tidak menguasai metodologi penelitian;
  • Tidak fokus dalam mengerjakan skripsi; serta
  • Hubungan interaksi mahasiswa-dosen pembimbing kurang mulus.

5 Cara Menyelesaikan Skripsi dengan Cepat

Sekarang, mari kita uraikan masing-masing alasan tersebut supaya ketemu jalan keluarnya dan kita bisa menyelesaikan skripsi dengan cepat.

1. Persepsi Bahwa Skripsi itu Susah

Yang namanya persepsi itu sudah pasti terbentuk dari pikiran kita sendiri. Coba sekarang kita persepsikan skripsi itu mudah, semudah kita menulis catatan harian atau menulis kata-kata cinta dan rayuan.

Sejak dari masuk kuliah, kita sudah terbebani pikiran bahwa nanti apabila sudah waktunya membuat skripsi pasti susah. Mengapa tidak kita balik? Dari sekarang latihlah mental dan pikiran kita untuk menganggap skripsi itu mudah. Dengan begitu, kita bisa menyelesaikan skripsi dengan cepat dan tepat waktu.

2. Tidak tahu darimana mengawali skripsi

Skripsi itu termasuk bagian dari esai akademik. Sejak SMA kita diajari bahwa esai akademik itu terdiri dari tiga bagian:

  • Pendahuluan, yang biasanya mencakup Latar Belakang dan Perumusan Masalah/Hipotesa
  • Pembahasan, yang berisi hasil penelitian atau kajian dari study literatur.
  • Penutup atau kesimpulan

Bagian tersulit dari esai akademik bukan terletak di tengah atau Pembahasan. Soalnya kita sudah melakukan penelitian dan mendapatkan data serta hasilnya. Tinggal kita tuliskan saja. Kita juga sudah banyak membaca dan mengkaji berbagai literatur, sehingga kita bisa langsung menuliskan pokok-pokok keyakinan dari analisis terhadap literatur tersebut.

cara menyelesaikan skripsi dengan cepat

Justru yang tersulit dari esai akademik itu terletak pada bagaimana membuka dan menutupnya. Untuk mengawali skripsi, terlebih dahulu kita harus tahu tujuan Pengantar/Pendahuluan dari esai akademik, yakni:

 1. Untuk memperkenalkan kerangka teori yang akan memandu analisis.

2. Untuk memperkenalkan pernyataan tesis yang akan mengatur makalah.

Dengan mengikuti norma tersebut, kita tidak akan menghamburkan banyak pernyataan yang terlalu umum atau tidak berguna. Satu tips sederhana dari menulis bagian pendahuluan ini adalah:

Hindari membuat pernyataan yang tidak dapat dibuktikan.

Biasanya pernyataan semacam ini menggunakan kata “Mungkin”.

Contohnya: “Minuman kopi mungkin merupakan minuman yang populer di Indonesia.”

Bisa jadi kita sudah mendapat referensi ilmiah tentang pernyataan tersebut. Bahwa memang ada penelitian yang membuktikan minuman kopi adalah minuman populer di Indonesia. Namun, alih-alih membuang kata, lebih bagus dan lebih tepat apabila kita langsung tunjukkan saja faktanya.

Contoh: Dalam penelitian Purnomo dan kawan-kawan (2018), minuman kopi adalah minuman yang populer di Indonesia.

Contoh lain dari pernyataan yang langsung pada tujuan adalah: Menurut Shelly & Vermaat (2014), peran dan fungsi internet tidak bisa dilepaskan dari nama domain.

Mudah kan?

3. Tidak Menguasai Metodologi Penelitian

Pada dasarnya, Metodologi Penelitian dibagi 2, yaitu Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian. Bagaimana kita menentukan metodologi penelitian tergantung dari tema skripsi/topik penelitian yang kita ambil.

Pendekatan dan jenis metodologi penelitian yang paling mudah adalah pendekatan kuantitatif dengan melakukan penelitian survey. Contoh penelitian yang bisa menerapkan metodologi survey, misalnya tentang ”Persiapan Usaha Kecil Menegah (UKM) di Jakarta dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN”. Kuisioner didesain untuk ditujukan kepada beberapa UKM di Jakarta yang menjadi sampel penelitian.

Sekali lagi, mudah kan?

4. Tidak fokus dalam mengerjakan skripsi

Ini sebenarnya kategori alasan paling sepele sekaligus paling mudah dipecahkan. Apa sih yang menyebabkan kita tidak fokus mengerjakan skripsi?

Terlalu asyik pacaran? Terlalu sibuk di organisasi kampus? Atau karena sudah terlanjur menekuni bisnis yang menggiurkan?

Rasanya bukan karena itu. Kita tidak fokus karena cenderung meremehkan dan menunda waktu mengerjakan skripsi. Benar kan?

Coba seandainya skripsi itu segera kita kerjakan setelah kita mencapai syarat akademiknya. Misalnya setelah nilai SKS kita mencukupi untuk mengerjakan skripsi, kita langsung mengajukan tema proposal penelitian ke dosen pembimbing.

Skripsi itu membutuhkan waktu untuk mengeksplorasi kebenaran dalam topik yang kita pilih sehingga bisa kita pahami secara mendalam. Dengan mengerjakannya sejak awal dan bertahap, kita bisa mengeksplorasi bagian demi bagian dan fokus tanpa ada tekanan apapun.

Hasilnya, kita bisa dengan mudahnya menulis dan menyelesaikan skripsi dengan cepat serta memahami setiap bagian dari skripsi tersebut dengan baik.

5. Hubungan interaksi mahasiswa-dosen pembimbing kurang mulus.

Kategori alasan ini mungkin yang menjadi penyebab utama skripsi kita molor sampai bertahun-tahun. Solusinya cuma satu: Singkirkan idealisme atau ego pribadi.

Kurang harmonisnya hubungan antara mahasiswa dan dosen pembimbing kerap diakibatkan rasa ego dari masing-masing pihak. Entah itu karena idealisme mahasiswanya, atau karena pada dasarnya si dosen sudah terlanjur benci dengan kita.

Jika hubungan interaksi itu terhambat karena idealisme semata, singkirkan dahulu idealisme tersebut. Jadilah mahasiswa yang pragmatis untuk sementara waktu.

Jika ada satu sikap atau kelakuan kita tidak berkenan di hati dosen pembimbing, sehingga menumbuhkan rasa tidak suka atau benci, bertamulah ke rumahnya. Minta maaf, dan bila perlu bawa oleh-oleh.

Nah, setelah menguraikan satu per satu kelima kategori alasan di atas, masihkah ada yang bilang menyelesaikan skripsi itu susah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *